<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss'><id>tag:blogger.com,1999:blog-7030717</id><updated>2010-03-08T11:30:21.330+08:00</updated><title type='text'>A Learning Page</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://www.khayla.net/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7030717/posts/default/-/Kisah'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.khayla.net/search/label/Kisah'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Khayla</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09770334815077083282</uri><email>noreply@blogger.com</email></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>18</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>25</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7030717.post-5177406383641721416</id><published>2010-02-15T08:58:00.003+08:00</published><updated>2010-02-21T07:48:01.254+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ulama: Thawus bin Kaisan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kisah'/><title type='text'>Nasihat Thawus bin Kaisan kepada Penguasa</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_Yqmw3TT8S5Q/S3ieDI0boCI/AAAAAAAAANg/2TyuplIfMDc/s1600-h/randomossityheader.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 200px; height: 143px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_Yqmw3TT8S5Q/S3ieDI0boCI/AAAAAAAAANg/2TyuplIfMDc/s200/randomossityheader.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5438270326794068002" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pengawal khalifah Sulaiman bin Abdul Malik bin Marwan menghampiri Thawus dan berkata: “Ikutlah dengan kami, Amirul Mukminin mengundang anda, wahai Syaikh.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa membuang-buang waktu, Thawus mengikutinya. Menurut beliau bahwa setiap da’i tidak boleh menyia-nyiakan waktu bila ada kesempatan. Setiap kali diundang, mereka bersegera datang. Ia juga meyakini bahwa kalimat yang utama untuk disampaikan adalah kalimat yang benar untuk meluruskan para penguas yang menyimpang dan menjauhkan mereka dari kezaliman dan kekejaman, sekaligus mendekatkan mereka kepada Allah subhanahu wa ta’ala.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sesampainya di depan Amirul Mukminin, beliau memberi salam dan disambut dengan sangat ramah. Selanjutnya khalifah membimbing beliau menuju majelisnya lalu bertanya tentang persoalan manasik haji. Beliau mendengarkan dengan tekun dan penuh hormat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika beliau merasa bahwa Amirul Mukminin telah sudah mendapatkan keterangan yang diperlukan dan tak ada lagi yang dipertanyakan, Thawus berkata dalam hati, “Ini adalah majelis yang kelak engkau akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah subhanahu wa ta’ala wahai Thawus!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(51, 0, 51);"&gt;Thawus menoleh kepada khalifah dan berkata, “Wahai Amirul Mukminin, sesungguhnya ada suatu batu besar di tepi jahannam. Batu itu dilemparkan ke dasar jahannam dan baru mencapai dasarnya setelah 70 tahun. Tahukah anda untuk siapa sumur itu disediakan wahai Amirul Mukminin?”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(51, 0, 51);"&gt;Khalifah berkata, “Tidak, duhai celaka, untuk siapakah itu?”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(51, 0, 51);"&gt;Thawus berkata, “Untuk orang-orang yang dipilih Allah sebagai penegak hukum-Nya namun dia menyelenwengkannya.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba tubuh khalifah Sulaiman gemetaran seolah-olah rohnya akan terbang dari jasadnya. Seelah itu beliau menangis tersedu-sedu. Kemudian Thawus meninggalkan majelis itu dan pulang sedangkan khalifah mendoakan agar Thawus mendapt balasan yang lebih baik dari Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;* * *&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Khalifah Umar bin Abdul Aziz mengirimkan surat kepada Thawus bin Kaisan yang isinya: “Berilah aku nasihat”. Thawus bin Kaisan membalas surat tersebut dengan sebaris kalimat singkat: &lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(51, 0, 51);"&gt;“Bila anda menghendaki seluruh amal anda baik, maka angkatlah para pegawai orang-orang yang baik pula.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demi membaca surat tersebut, khalifah Umar bin Abdul Aziz erkata: “Cukuplah ini sebagai peringatan... cukuplah ini sebagai peringatan...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;* * *&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Khalifah Hisyam bin Abdul Malik tiba di Tanah Haram untuk menunaikan ibadah haji. Dia pun meminta pemuka Makkah untuk bertemu dengan salah seorang ulama Tabi’in. Maka dipanggillah Thawus bin Kaisan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Thawus bin Kaisan datang menghadap, beliau membuka sepatunya di tepi permadani, lalu memberi salam tanpa menyebut ‘Amirul Mukminin’ dan hanya menyebut namanya saja tanpa atribut kehormaan. Kemudian beliaulangsung duduk sebelum khalifah memberi izin dan mempersilahkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rupanya Hisyam tersinggung dengan perlakuan tersebut, sehingga tampak kemarahan dari pandangan matanya. Dia menganggap hal itu kurang sopan dan tidak hormat, terlebih di hadapan para pejabat dan pengawalnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya saja dia sadar bahwa saat itu berada di Tanah Haram, rumah Allah subhanahu wa ta’ala sehingga dia menahan dirinya, lalu berkata:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hisyam: “Mengapa anda berbuat seperti itu wahai Thawus?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Thawus: “Memangnya apa yang saya lakukan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hisyam: “Anda melepas sepatu di tepi permadaniku. Anda tidak memberi salam kehormatan, Anda hanya memanggil namaku tanpa gelar lalu duduk sebelum dipersilahkan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Thawus: “Adapun tentang melepas sepatu, saya melepasnya lima kali sehari di hadapan Allah Yang Maha Tahu, maka hendaknya anda tidak marah atau gusar. Adapun masalah saya tidak memberi salam dengan menyebut gelar amirul mukminin, itu karena tidak semua kaum Mukminin membaiat anda. Oleh karena itu saya takut dikatakan pembohong bila memanggil anda dengan Amirul Mukminin. Anda tidak rela say menyebut nama Anda tanpa gelarkebesaran, padahal Allah subhanahu wa ta’ala memanggil nabi-nabi-Nya dengan nama-nama mereka: “Wahai Daud...Wahai Yahya...Wahai Musa.... Wahai Isa... Sebaliknya menyebut musuhnya dengan gelar (“Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan sesungguhnya dia akan binasa)”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(51, 0, 51);"&gt;“Adapun saya duduk sebelum dipersilahkan, ini karena saya mendengar Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib berkata, “Bila engkau hendak melihat seorang ahli neraka, maka lihatlah pada seorang yang duduk sedangkan orang-orang di sekelilingnya berdiri”. Saya tidak suka anda menjadi penduduk neraka.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Amirul Mukminin Hisyam mendengarkan penjelsan itu dengan serius.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hisyam: “Wahai Abu Abdirrahman, beriah saya nasihat.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Thawus: “Saya pernah mendengar Ali bin Abi Thalib berkata: &lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(51, 0, 51);"&gt;“Di dalam jahannam terdapat ular-ular sebesar pilar dan kalaengking sebesar kuda. Mereka menggigit dan menyengat setiap penguasa yang tidak adil tehadap rakyatnya.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah itu ia bangkit dari tempat duduknya lalu pergi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Sumber: Shuwaru min Hayati at-Tabi’in (id), Dr. Abdurrahman Ra’fat Basya,  At-Tibyan hal. 351-254&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7030717-5177406383641721416?l=www.khayla.net' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.khayla.net/feeds/5177406383641721416/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.khayla.net/2010/02/nasihat-thawus-bin-kaisan-kepada.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7030717/posts/default/5177406383641721416'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7030717/posts/default/5177406383641721416'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.khayla.net/2010/02/nasihat-thawus-bin-kaisan-kepada.html' title='Nasihat Thawus bin Kaisan kepada Penguasa'/><author><name>Khayla</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09770334815077083282</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='00644589416080721509'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_Yqmw3TT8S5Q/S3ieDI0boCI/AAAAAAAAANg/2TyuplIfMDc/s72-c/randomossityheader.jpg' height='72' width='72'/><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7030717.post-1222736709130005954</id><published>2010-01-13T09:51:00.004+08:00</published><updated>2010-02-21T07:47:43.672+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ulama: Salamah bin Dinar'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kisah'/><title type='text'>Nasihat Salamah bin Dinar kepada Khalifah</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_Yqmw3TT8S5Q/S00o3H54cmI/AAAAAAAAAMk/xCwibeaaKa4/s1600-h/MasjidAnNabawi.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 142px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_Yqmw3TT8S5Q/S00o3H54cmI/AAAAAAAAAMk/xCwibeaaKa4/s200/MasjidAnNabawi.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5426038053531054690" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pada tahun 97 H, khalifah Muslimin Sulaiman bin Abdul Malik menempuh perjalanan ke negeri yang disucikan, memenuhi undangan bapak para Nabi, yakni Ibarhim ualaihis salam Iring-iringan itu bergerak dengan cepat dari Damaskus, ibukota kekhalifahan Umawiyah, menuju Madina al-Munawarah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada rasa rindu pada diri khalifah di raudhah nabawi yang suci dan rindu untuk mengucapkan salam atas Muhammad Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Rombongan tersebut disertai para ahli qurra’ (Ahli al-qur’an), muhadditsin (ahli hadits), fuqaha (ahli fiqih), ulama, umara dan para perwira.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setibanya khalifah di Madinah dan menurunkan perbekalan, orang-orang dari para pemuka Madinah menghampiri mereka untuk mengucapkan salam dan menyambut kedatangan khalifah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akah tetapi Salamah bin Dinar sebagai qadhi dan imam kota yang terpercaya, ternyata tidak termasuk ke dalam rombongan manusia yang turut menyambut dan mengucapkan salam kepada Khalifah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah selesai melayani orang-orang yang menyambutnya, Sulaiman bin Abdul Malik berkata kepada orang-orang yang dekat dengannya, “Sesungguhnya hati itu bisa berkarat dari waktu ke waktu sebagaimana besi bila tidak ada yang mengingatkan dan membersihkan karatnya. Mereka berkata, “Benar, wahai amirul mukminin.” Lalu beliau berkata, “Tidak adakah di Madina ini seseorang yang bisa menasihati kita, seseorang yang pernah berjumpa dengan para sahabat Rasulullah?” Mereka menjawab, “Ada wahai amirul mukminin, di sini ada Abu Hazim al-A’raj.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau bertanya, “Siapa itu Abu Hazim?” Mereka menjawab, “Dialah Salamah bin Dinar, seorang alim, cendekia dan imam di kota Madinah. Beliau termasuk saslah satu tabi’in yang pernah bersahabat baik dengan beberapa sahabat utama.” Khalifah berkata, “Kalau begitu panggilah beliau kemari, namun berlakulah sopan kepada beliau.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para pembantu khalifah pun pergi memanggil Sulaiman bin Dinar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah Abu Hazim datang, khalifah menyambut dan membawanya ke tempat pertemuannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Khalifah: “Mengapa anda demikian angkuhnya terhadapku, wahai Abu Hazim.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abu Hazim: “Angkuh yang bagaimana yang anda maksud dan anda lihat dari saya wahai Amirul Mukminin?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Khalifah: “Semua tokoh Madinah datang menyambutku, sedang anda tidak menampakkan diri sama sekali.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abu Hazim: “Dikatakan angkuh itu adalah setelah perkenalan, sedangkan anda belum mengenal saya dan sayapun belum pernah melihat anda. Maka keangkuhan mana yang telah saya lakukan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Khlaifah: “Benar alasan syaikh dan khalifah telah salah berprasangka. Dalam benakku banyak masalah yang ingin aku utarakan kepada anda wahai Abu Hazim.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abu Hazim: “Katakanlah wahai Amirul Mukminin, Allah tempat memohon pertolongan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Khalifah: “Wahai Abu Hazim mengapa kita membenci kematian?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abu Hazim: “Karena kita memakmurkan dunia kita dan menghancurkan akhirat kita. Akhirnya kita benci keluar dari kemakmuran menuju kehancuran.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Khalifah; “Anda benar wahai Abu Hazim. Apa bagian kita di sisi Allah kelak?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abu Hazim: “Bandingkan amalan anda dengan kitabullah, niscaya anda bisa mengetahuinya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Khalifah: “Dalam ayat yang mana saya dapat menemukannya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abu Hazim:  “Anda bisa temukan dalam firman-Nya yang suci:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right; font-weight: bold; color: rgb(51, 0, 51);"&gt;&lt;span style="font-size:180%;font-family:traditional arabic;"&gt;إِنَّ الْأَبْرَارَ لَفِي نَعِيمٍ وَإِنَّ الْفُجَّارَ لَفِي جَحِيمٍ&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 0, 51);"&gt;“Sesungguhnya orang-orang yang banyak berbakti benar-benar berada dalam syurga yang penuh keni'matan, dan sesungguhnya orang-orang yang durhaka benar-benar berada dalam neraka.” (S Al-Infitar [82] : 13-14)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Khslifah: “Jika demikian, dimanakah letak rahmat Allah Subhanahu wa Ta'ala?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abu Hazim: (membaca firman Allah):&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right; font-weight: bold; color: rgb(51, 0, 51);"&gt;&lt;span style="font-size:180%;font-family:traditional arabic;"&gt;إِنَّ رَحْمَتَ اللّهِ قَرِيبٌ مِّنَ الْمُحْسِنِينَ&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 0, 51);"&gt;“Sesungguhnya rahmat Allah itu amat dekat dengan mereka yang berbuat kebajikan.” (QS Al-A’raf [7]: 56)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Khalifah: “Lalu bagaimana kita menghadap Allah kelak, wahai Abu Hazim?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abu Hazim: “Orang-orang yang baik akan kembali kepada Allah seperti perantau yang  kembali kepada keluarganya, sedangkan yang jahat akan datang seperti budak yang curang atau lari lalu diseret kepada majikannya yang keras.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Khalifah menangis mendengarnya sampai keluar isaknya, kemudian berkata...&lt;br /&gt;Khalifah: “Wahai Abu Hazim, bagaimana cara memperbaiki diri?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abu Hazim: “Dengan meninggalkan kesomobngan dan berhias dengan muru’ah (menjaga kehormatan).”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Khalifah: “Bagaimana memanfaatkan harta benda agar ada nilai takwa kepada Allah I?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abu Hazim: “Bila anda mengambilnya dengan cara yang benar dan meletakkannya di tempat yang benar pula lalu anda membaginya dengan merata dan berlaku adil terhadap rakyat.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Khalifah: “Wahai Abu Hazim, jelaskan kepadaku siapakah manusia yang paling mulia itu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abu Hazim: “Yaitu orang-orang yang menjaga muru’ah dan bertakwa.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Khalifah: “Lalu perkataan apa yang paling besar manfaatnya?:”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abu Hazim: “Perkataan benar, yang diucapkan di hadapan orang yang ditakuti dan diharapkan bantuannya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Khalifah: “Wahai Abu Hazim, doa manakah yang paling mustajab?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abu Hazim: “Doa orang-orang baik untuk orang-orang baik.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Khalifah: “Sedekah manakah yang paling utama?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abu Hazim: “Sedekah dari orang yang kekurangan kepada orang yang membutuhkan tanpa menggerutu dan kata-kata yang menyakitkan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Khalifah: “Wahai Abu Hazim, siapakah orang yang paling dermawan dan terhormat?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abu Hazim: “Orang yang menemukan ketaatan kepada Allah I lalu diamalkan dan diajaarkan kepada orang lain.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Khalifah: “Siapakah orang yang paling dungu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abu Hazim: “Orang yang terpengaruh oleh hawa naafsu kawannya, padahal kawannya tersebut oran gyang dzalim. Maka pada hakikatnya dia menjual akhiratnya untuk kepentingan dunia yang lain.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Khalifah: “Wahai Abu Hazim, maukah engkau mendampingi kami agar kami bisa mendapatkan sesuatu darimu dan anda mendapatkan sesuatu dari kami?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abu Hazim: “Tidak, wahai Amirul Mukminin.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Khalifah: “Mengapa?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abu Hazim: “Saya khawatir kelak akan condong kepada anda sehingga Allah I menghukum saya dengan kesulitan di dunia dan siksa di akhirat.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Khalifah: “Utarakanlah kebutuhan anda kepada kami wahai Abu Hazim.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abu Hazim tidak menjawab sehingga Khalifah mengulangi pertanyaannya: “Wahai Abu Hazim, utarakan hajat-hajatmu, kami akan memenuhi sepenuhnya..”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abu Hazim: “Hajat saya adalah selamat dan masuk surga.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Khalifah: “Itu bukan wewenang kami, wahai Abu Hazim.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abu Hazim: “Saya tidak memiliki keperluan selain itu wahai Amirul Mukminin.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Khalifah: “Wahai Abu Hazim, berdoalah untukku.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abu Hazim: “Ya Allah bila hamba-Mu Sulaiman ini adalah orang yang Engkau cintai, maka mudahkanlah jalan kebaikan baginya di dunia dan di akhirat. Dan jika dia termasuk musuh-Mu,maka berilah dia hidayah kepada apa yang Engkau sukai dan Engkau ridhai. Amon.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu hadirin berkata: “Alangkah buruknya perkataanmu tentang Amirul Mukminin. Engkau sebutkan khalifah muslimin barangkali termasuk musuh Allah I? Kamu telah menyakiti perasaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abu Hazim: “Justru perkataanmu itulah yang buruk. Ketahuilah bahwa Allah telah mengambil janji dari para ulama agar berkata jujur:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right; font-weight: bold; color: rgb(51, 0, 51);"&gt;&lt;span style="font-size:180%;font-family:traditional arabic;"&gt;وَإِذَ أَخَذَ اللّهُ مِيثَاقَ الَّذِينَ أُوتُواْ الْكِتَابَ لَتُبَيِّنُنَّهُ لِلنَّاسِ وَلاَ تَكْتُمُونَهُ&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 0, 51);"&gt;“Dan (ingatlah), ketika Allah mengambil janji dari orang-orang yang telah diberi kitab (yaitu): "Hendaklah kamu menerangkan isi kitab itu kepada manusia, dan jangan kamu menyembunyikannya,"” (QS Al-Imran [3] : 187)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau menoleh kepada Khalifah seraya berkata: “Wahai Amirul Mukminin, umat-umat terdahulu tinggal dalam kebaikan dan kebahagiaan selama para pemimpinnya selalu mendatangi ulama untuk mencari kebenaran pada diri mereka. Kemudian muncullah kaum dari golongan rendah yang mempelajari berbagai ilmu mendatangi para amir untuk mendapatkan suatu kesenangan dunia. Selanjutnya para amir itu tidak lagi menghiraukan perkataan ulama, mereka pun menjadi lemah dan hina di mata Allah I. Seandainya segolongan ulama itu tidak tamak terhadap apa yang ada di sisi para amir, tentulah amir-amir tersebut akan mendatangi mereka untuk mencari ilmu. Tetapi karena para ulama menginginkan apa yang ada di sisi para amir, maka para amir tak mau lagi menghiraukan ucapannya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Khalifah: “Anda benar. Tambahkanlah nasihat untukku wahai Abu Hazim, aku benar-benar tidak mendapati hikmah yang lebih dekat dengan lisannya daripada anda.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abu Hazim: “Bila anda termasuk orang yang suka menerima nasihat, maka apa yang saya utarakan tadi cukuplah sebagai bekal. Tetapi bila tidak dar golongan itu, maka tidak perlu lah aku memanah dari busur yang tak ada talinya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Khalifah: “Wahai Abu Hazim, aku berharap anda mau berwasiat kepadaku.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abu Hazim: “Baiklah, akah saya katakan dengan ringkas. Agungkanlah Allah I dan jagalah jangan sampai Dia melihat anda dalam keadaan yang tidak disukai-Nya dan tetaplah anda berada di tempat yang diperintahkan-Nya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah itu Abu Hazim mengucapkan salam dan mohon diri. Khalifah berkata, “Swmoga Allah membalas anda dengan kebaikan wahai seorang alim yang suka menasihati.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Sumber: Suwaru min Hayaati at-Tabi’in (edisi Indonesia), Dr. Abdurrahman Ra’fat Basya, At-Tibyan, hal. 163-168)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7030717-1222736709130005954?l=www.khayla.net' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.khayla.net/feeds/1222736709130005954/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.khayla.net/2010/01/nasihat-salamah-bin-dinar-kepada.html#comment-form' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7030717/posts/default/1222736709130005954'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7030717/posts/default/1222736709130005954'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.khayla.net/2010/01/nasihat-salamah-bin-dinar-kepada.html' title='Nasihat Salamah bin Dinar kepada Khalifah'/><author><name>Khayla</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09770334815077083282</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='00644589416080721509'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_Yqmw3TT8S5Q/S00o3H54cmI/AAAAAAAAAMk/xCwibeaaKa4/s72-c/MasjidAnNabawi.jpg' height='72' width='72'/><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7030717.post-8364843503196929156</id><published>2009-12-10T10:08:00.002+08:00</published><updated>2009-12-10T10:13:15.696+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kisah'/><title type='text'>Kisah Ahli Ibadah yang Menyusuri Lautan</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://thumbs.dreamstime.com/thumb_6/1106138755LBnZo6.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 300px; height: 209px;" src="http://thumbs.dreamstime.com/thumb_6/1106138755LBnZo6.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;p align="justify"&gt;Abdul Wahid bin Zaid menceritakan kepada kami:&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;“Kami berada dalam sebuah perahu, lalu kami terlempar oleh angin hingga ampai di sebuah pulau. Kami mendapati seorang laki-laki yang menyembah berhala di pulau itu, maka kami berkata kepadanya::&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;“Kepada siapa kamu menyembah?” Dia menunjuk kepada sebuah berhala. Kemudian kami berkata:&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;“Sesungguhnya ada benda seperti itu dalam perahu kami. Benda itu bukanlah tuhan yang patut diibadahi.”&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;Laki-laki itu bertanya, “Lalu kepada siapa kalian beribadah?”&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;Kami berkata, “Allah.”&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;Dia berkata, “Siapa Allah itu?”&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;Kami berkata, “Dzat yang singgasana-Nya ada di langit. Dzat yang kekuasaan-Nya ada di bumi, dan Dzat yang kehidupan dan kematian adalah menjadi ketetapan-Nya.”&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;“Bagaimana kalian bisa mengetahui dan mengenalnya?”&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;“Dzat Yang Maharaja ini mengutus seorang Rasul kepada kami, lalu Rasul itu mengabarkan kami akan hal ini.”&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;“Lalu bagaimana keadaan Rasul itu?”&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;“Ketika beliau melaksanakan misinya, Allah mencabut nyawanya.”&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;“Apakah beliau meninggalkan satu tanda untuk kalian?”&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;“Ya, beliau meninggalkan kitab Yang Maha Menguasai.”&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;“Tunjukkanlah kitab itu kepadaku. Sudah sepatutnya bila kitab-kitab Yang Maha Menguasai adalah indah dan baik.” &lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;Kami pun menyodorkan mushaf Al-Qur’an kepadanya, lalu dia berkata:&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;“Aku tidak tahu ini.” &lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;Kemudian kami membacakan satu surat al-Qur’an untuknya. Kami terus membacanya dan dia menangis hingga kami selesai membaca satu sura itu. Lalu dia berkata:&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;“Tidak seharusnya pemiliki firman ini didurhakai.”&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;Setelah itu dia menyatakan diri masuk Islam. Lalu kami membawanya dan mengajarkan syariat-syariat Islam dan beberapa surat Al-Qur’an kepadanya. Ketika malam telah gelap, dan kami usai melaksanakan shalat Isya, kami bersiap-siap di pembaringan kami, lalu laki-lak itu bertanya:&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;“Wahai kaum, apakah Tuhan yang telah kalian tunjukkan kepadaku ini akan tidur ketika malam telah gelap?”&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;Kami menjawab, “Tidak, wahai hamba Allah. Dia Maha Agung, terus-menerus mengurus mahluk-Nya. Dia tidak pernah tidur.”&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;“Seburuk-buruk kaum adalah kalian. Kalian tidur, sedang Tuhan kalian tidak pernah tidur.” &lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;Sungguh ucapannya membuat kami kagum!. Saat kami sampa di Ubadan, aku berkata kepada teman-temanku:&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;“Laki-laki ini baru mengenal Islam.” Kami pun mengumpulkan uang, lalu kami berikan uang itu kepadanya. Laki-laki itu kembali bertanya:&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;“Apa ini?”&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;“Kamu akan membelanjakan uang itu.”&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;“Laa ilaaha Illa Allah! Kalian telah menunjukkan jalan yang telah kalian tempuh kepadaku. Dahulu aku berada di sebuah pulau di tengah-tengah lautan dalam keadaan menyembah berhala. Dia tidak menyia-nyiakan aku sedang aku akan mengenali-Nya.” &lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;Beberapa hari kemudian aku mendengar bahwa dia dalam keadaan menghadapi maut. Maka aku mendatangi dan bertanya kepadanya:&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;“Apakah ada sesuatu yang bisa aku lakukan untukmu?”&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;“Semua kebutuhanku telah ditunaikan oleh orang-orang kalian yang datang ke pulauku,” jawabnya.”&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;Abdul Wahid meneruskan ceritanya:&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;“Mataku terpejam, aku tertidur di sampingnya. Aku melihat pemakaman kota Ubadan menjadi kebun yang di dalamnya terdapt sebuah kubah. Di dalam kubah itu ada sebuah tempat tidur dan sseorang wanita yang kecantikannya tiada duanya. Dia berkata:&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;“Demi Allah, aku tidak memohon kepadamu melainkan engkau segerakan dia, sungguh rasa rinduku kepadanya telah membuncah.”&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;Lalu aku terbangun, aku mendapatinya telah meninggalkan dunia ini. Aku pun memandikan, mengkafani dan menguburkannya. Ketika malam telah larut, aku tidur dan melihatnya di kubah itu bersama seorang wanita cantik. Dia membaca ayat:&lt;/p&gt;  &lt;p align="right"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:180%;font-family:traditional arabic"&gt;وَالمَلاَئِكَةُ يَدْخُلُونَ عَلَيْهِم مِّن كُلِّ بَابٍ سَلاَمٌ عَلَيْكُم بِمَا صَبَرْتُمْ فَنِعْمَ عُقْبَى الدَّارِ&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;“...sedang malaikat-malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu. sambil mengucapkan): "Salamun 'alaikum bima shabartum" . Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu.” (QS Ar-Ra’d [13] : 23-24)&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;&lt;i&gt;Sifat Ash-Sahfwah, IV/301 dalam Al-Huur al-‘Ain Manaamatu Shaalihiin (id), oleh Syaikh ‘Isham Hasanain.&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p align="right"&gt;&lt;span style="font-size:130%;font-family:traditiional arabic;"&gt;لغنا عن عبد الواحد بن زيد أنه قال ركبنا في مركب فطرحتنا الريح إلى جزيرة فإذا فيها رجل يعبد صنما فقلنا له من تعبد فأومأ إلى الصنم فقلنا إن معنا في المركب من يسوى مثل هذا ليس هذا بإله يعبد قال فأنتم لمن تعبدون قلنا الله عز و جل قال وما الله قلنا الذي فى السماء عرشه وفي الأرض سلطانه وفى الأحياء والأموات قضاؤه فقال كيف علمتم به قلنا وجه هذا الملك إلينا رسولا كريما فأخبرنا بذلك قال فما فعل الرسول قلنا لما أدى الرساله قبضه الله قال فما ترك عندكم علامه قلنا بلى ترك عندنا كتاب الملك قال أرونى كتاب الملك فينبغى أن تكون كتب الملوك حسانا فأتيناه بالمصحف فقال ما أعرف هذا فقرأنا عليه سورة من القرآن فلم نزل نقرأ ويبكى حتى ختمنا السورة فقال ينبغى لصاحب هذا الكلام أن لايعصى ثم أسلم وحملناه معنا وعلمناه شرائع الاسلام وسورا من القرآن فلما جن علينا الليل وصلينا العشاء أخذنا مضاجعنا فقال لنا يا قوم هذا الإله الذى دللتمونى عليه إذا جن عليه الليل ينام قلنا لا يا عبد الله هو عظيم قيوم لا ينام قال بئس العبيد أنتم تنامون ومولاكم لاينام فأعجبنا كلامه فلما قدمنا عبادان قلت لأصحابى هذا قريب عهد بالإسلام فجمعنا له دراهم وأعطيناه فقال ما هذه قلنا تنفقها قال لاإله إلاالله دللتمونى على طريق ما سلكتموها أنا كنت فى جزائر البحر أعبد صنما من دونه ولم يضيعنى وأنا أعرفه فلما كان بعد أيام قيل لى إنه فى الموت فأتيته فقلت هل من حاجة فقال قضى حوائجى من جاء بكم إلى جزيرتى قال عبد الواحد فحملتنى عينى فنمت عنده فرأيت مقابر عبادان روضه وفيها قبه وفى القبه سرير عليه جارية لم نر أحسن منها فقالت سألتك بالله إلاماعجلت به فقد اشتد شوقى إليه فانتبهت فإذا به قد فارق الدنيا فغسلته وكفنته وواريته فلما جن الليل نمت فرأيته فى القبه مع الجارية وهو يقرأ والملائكه يدخلون عليهم من كل باب سلام عليكم بما صبرتم فنعم عقبى الدار&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;&lt;em&gt;(Disalin dari Shifat ash-Shafwah  Maktabah asy-Syamilah)&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;  &lt;div style="padding-bottom: 0px; margin: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; display: inline; padding-top: 0px" id="scid:0767317B-992E-4b12-91E0-4F059A8CECA8:aed09565-6154-4c10-9df6-d8ca1660d36c" class="wlWriterSmartContent" align="justify"&gt;Technorati Tags: &lt;a href="http://technorati.com/tags/kisah" rel="tag"&gt;kisah&lt;/a&gt;,&lt;a href="http://technorati.com/tags/teladan" rel="tag"&gt;teladan&lt;/a&gt;,&lt;a href="http://technorati.com/tags/hikmah" rel="tag"&gt;hikmah&lt;/a&gt;,&lt;a href="http://technorati.com/tags/tauhid" rel="tag"&gt;tauhid&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7030717-8364843503196929156?l=www.khayla.net' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.khayla.net/feeds/8364843503196929156/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.khayla.net/2009/12/kisah-ahli-ibadah-yang-menyusuri-lautan.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7030717/posts/default/8364843503196929156'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7030717/posts/default/8364843503196929156'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.khayla.net/2009/12/kisah-ahli-ibadah-yang-menyusuri-lautan.html' title='Kisah Ahli Ibadah yang Menyusuri Lautan'/><author><name>Khayla</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09770334815077083282</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='00644589416080721509'/></author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7030717.post-6154515497895314445</id><published>2009-11-06T16:32:00.004+08:00</published><updated>2009-11-06T16:43:19.973+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kisah'/><title type='text'>Aku Masuk Neraka karena Tiga</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_Yqmw3TT8S5Q/SvPfvfXRngI/AAAAAAAAAJs/ikg4YvrQ7n8/s1600-h/lava_fountains.gif"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 170px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_Yqmw3TT8S5Q/SvPfvfXRngI/AAAAAAAAAJs/ikg4YvrQ7n8/s200/lava_fountains.gif" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5400906385113325058" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Dikisahkan bahwa salah seorang murid Fudhail bin Iyad mendekati sakaratul maut, maka Fudhail mendatanginya, ia duduk di dekat kepalanya dan mulai membaca surat Yasin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Muridnya berkata, “Wahai guruku, janganlah membacanya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka dia pun diam. Kemudian dia mencoba membimbingnya untuk mengucapkan syahadat, dia berkatan ”Ucapkanlah Laa ilaaha illa Allah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia (muridnya) berkata, ”Aku tidak akan mengatakannya karena aku berlepas diri darinya.” Dia mati di atas perkataan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fudhail pulang ke rumahnya, dia menangis selama empat puluh hari, tidak meninggalkan rumahnya. Dia melihat muridnya di dalam mimpi diseret ke dalam neraka, dia berkata kepada muridnya: ”Dengan apa Allah menghilangkan pengetahuanmu darimu, padahal kamu salah seorang muridku yang paling berilmu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia menjawab: ”Dengan tiga hal;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama: Namimah,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua: Iri hati&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga: Aku memiliki penyakit, maka aku mengunjungi dokter dan bertanya kepadanya mengenai penyaktiku. Dia memberitahuku bahwa aku harus minum secangkir khar satu kali setiap tahun, jika tidak maka penyakit itu akan tetap bersamaku, maka aku pun terbiasa meminumnya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="font-weight:bold;font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;I Entered the Hellfire because of Three&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Author: Ash Shaykh 'Alee al Qaaree&lt;br /&gt;Reference: Fearing the evil ending: P.26&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;It was narrated that one of the students of al Fudayl ibn ‘Iyaad was close to passing away, so al Fudayl entered upon him, he sat by his head and started reading Surat Yaaseen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;His student said: “My teacher, do not read it.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;So he remained silent. He then tried to get him to say the Shahaadah, he said: “Say Laa Ilaaha ila Allaah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;He said: “I will not say it because I am free from it.” He died upon that.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al Fudayl returned to his house, he cried for forty days, not leaving his home. He saw his student in a dream being dragged into the Hell fire, he said to him; “With what did Allaah remove the know-how from you, while you were amongst my most knowledgeable students?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;He responded: “With three things;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The first: Nameemah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The second: Jealousy.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;p align="justify"&gt;The third: I had an illness, so I went to a doctor and asked him about it. He told me that I must drink a cup of alcohol once a year, if I do not the illness would remain with me, so I used to drink it.”  &lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;دخلت النار بثلاث&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;المؤلف: الشيخ علي القاري&lt;br /&gt;الباب: كنوز&lt;br /&gt;المرجع: المقدمة السالمة: ص 26&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وقد حكي أن تلميذا لفضيل بن عياض حضرته الوفاة , فدخل عليه الفضيل , وجلس عند رأسه وقرأ سورة " يسن " , فقال يا أستاذي : لا تقرأ هذه. فسكت , ثم لقنه فقال : قل لا إله إلا الله&lt;br /&gt;فقال : لا أقولها لأني بريء منها , ومات على ذلك&lt;br /&gt;فدخل الفضيل منزله , وجعل يبكي أربعين يوما لم يخرج من البيت , ثم رآه في النوم , وهو يسحب به إلى جهنم فقال له : بأي شيء نزع الله المعرفة عنك , وكنت أعلم تلاميذي&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;قال : بثلاثة أشياء&lt;br /&gt;أولها : النميمة&lt;br /&gt;والثاني : الحسد&lt;br /&gt;والثالث كان لي علة فجئت الى طبيب فسألته عنها , فقال : تشرب في كل سنة قدحا من خمر , فإن لم تفعل تبقى بك العلة , فكنت أشربها.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;Sumber: subulassalam.com&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7030717-6154515497895314445?l=www.khayla.net' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.khayla.net/feeds/6154515497895314445/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.khayla.net/2009/11/aku-masuk-neraka-karena-tiga.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7030717/posts/default/6154515497895314445'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7030717/posts/default/6154515497895314445'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.khayla.net/2009/11/aku-masuk-neraka-karena-tiga.html' title='Aku Masuk Neraka karena Tiga'/><author><name>Khayla</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09770334815077083282</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='00644589416080721509'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_Yqmw3TT8S5Q/SvPfvfXRngI/AAAAAAAAAJs/ikg4YvrQ7n8/s72-c/lava_fountains.gif' height='72' width='72'/><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7030717.post-1918312670516924116</id><published>2009-08-16T20:40:00.003+08:00</published><updated>2010-02-21T07:55:48.959+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ulama: Syu&apos;bah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kisah'/><title type='text'>Bila Engkau Tidak Malu, Berbuatlah Sesukamu</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Salah seorang anak Al-Qa’nabi mengabarkan kisah ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;’Ayahku seorang pemabuk dan selalu bergaul dengan anak-anak muda berandalan. Suatu hari ia mengundang teman-temannya dan duduk di depan pintu, menanti keadatangan mereka. Ketika dia menunggu, Syu’bah berlalu di hadapannya denngan menunggang keledai, diikuti sejumlah orang berlomba dibelakangnya untuk menyusulnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Siapa itu?” tanya al-Qa’nabi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Syu’bah,” jawab seseorang yang duduk di dekatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan siapa gerangan Syu’bah itu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Seorang ulama hadits.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Bacakanlah sebuah hadits untukku.” Kata al-Qa’nabi yang (saat itu) mengenakan pakaian  berwarna merah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Engkau bukanlah dari golongan ahli hadits, aku tidak berkewajiban meriwayatkannya kepadamu.” kata Syu’bah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Qa’nabi mengambil sebilah pisau dan menodongkannya ke arah Syu’bah. ”Engkau akan meriwayatkan sebuah hadits kepadaku, atau aku akan melukaimu!” ancam Al-Qa’nabi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Mansur meriwayatkan kepada kami, ” Syu’bah memulai, ”Dari Rabi’i dari Abu Mas’ud, ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: ”Bila engkau tidak malu, berbuatlah sesukamu.” (HR Bukhari 6120).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Qa’nabi melemparkan pisau tersebut ke tanah dan kembali ke dalam rumahnya. Diambilnya semua botol khamr dan menumpahkannya ke tanah. Ia berkata kepada ibunya, ”Teman-temanku akan datang sebentar lagi. Bila mereka datang, biarkanlah mereka masuk dan tawarkan kepada mereka makanan. Setelah mereka selesai, katakanlah apa yang aku lakukan terhadap (bolot-botol) khamr sehingga mereka akan pergi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Qa’nabi pun segera berangkat menuju Madinah, dimana dia menghabiskan tahun-tahun berikutnya dalam hidupnya sebagai murid dari Imam Malik bin Anas, dan mendapatkan kehormatan meriwayatkan hadits dari sang imam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Stories of Repentance,penyusun: Muhammad Abduh Maghawiri&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7030717-1918312670516924116?l=www.khayla.net' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.khayla.net/feeds/1918312670516924116/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.khayla.net/2009/08/bila-engkau-tidak-malu-berbuatlah.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7030717/posts/default/1918312670516924116'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7030717/posts/default/1918312670516924116'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.khayla.net/2009/08/bila-engkau-tidak-malu-berbuatlah.html' title='Bila Engkau Tidak Malu, Berbuatlah Sesukamu'/><author><name>Khayla</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09770334815077083282</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='00644589416080721509'/></author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7030717.post-7457420399520445858</id><published>2009-08-07T10:44:00.007+08:00</published><updated>2009-08-27T19:27:22.826+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kisah'/><title type='text'>Ummu Shalih, Seorang Nenek yang Menghafalkan Al-Qur’an di Usia 82 Tahun</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Alhamdulillah, Allah berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-family:traditional arabic;font-size:180%;"  &gt;وَلَقَدْ يَسَّرْنَا الْقُرْآنَ لِلذِّكْرِ فَهَلْ مِن مُّدَّكِرٍ&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;“Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al Quraan untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran?” (QS Al-Qamar [54] : 32)&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;Banyak orang di seluruh dunia menghafal Al-Qur’an, dan tidak aneh melihat seorang anak menghafal Al-Qur’an dan di usia yang sangat muda. Segala puji bagi Allah yang telah menjadikan Al-Qur’an mudah untuk dihafalkan, telah menjadikanya mudah bagi Ummu Shalih yang berusia 82 tahun. Dalam wawancara bersama Ummu Shalih, ia ditanyai sejumlah pertanyaan berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyana: “Alasan apa yang mendorong anda untuk menghafal Al-Qur’an setelah sekian tahun berlalu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ummu Shalih: “Aku selalu berharap menghafalkan Al-Qur’an sejak aku masih muda. Ayaku selalu berdoa kepada Allah bagiku agar menjadi orang yang menghafal Al-Qura'n sebagaimana dirinya dan saudaras-saudara laki-laki yang lebih tua di dalam keluargaku yang menghafalkan Al-Qur’an. Maka aku mulai menghafal tiga bagian dan menamatkannya di usia 13 tahun. Aku menikah dan menjadi sibuk dengan urusan rumah tangga dan anak-anak. Setelah memiliki tujuh orang anak, suamiku meninggal. Anak-anakku mash kecil maka aku menghabiskan waktu untuk membesarkan dan mendidik mereka, dan setelah mereka dewasa dan menikah, aku memiliki lebih banyak waktu untuk diriku sendiri. Oleh karena itu, hal pertama yang aku lakukan adalah memusatkan perhatian pada Al-Qur’an.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan: Ceritakanlah kepada kami perjalanan anda bersama Al-Qur’an."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ummu Shalih: “Anak perempuanku yang paling kecil masuk SMA dan dia adalah anak yang paling dekat denganku dan yang paling kucintai, karena dia tinggal bersamaku setelah kakak-kakak perempuannya menikah dan sibuk dengan kehidupan mereka sendiri, dan karena dia adalah gaids pendiam, shalihah dan penuh cinta dan baik. Apalagi, dia tertarik mempeelajari Al-Qur’anul Karim, dan guru-gurunya mendorongnya. Ditambah lagi dia sangat antusias dan selalu menceritakan kepadaku banyak wanita yang terdorong oleh motivasi besar untuk menghafal Al-Qur’an, dan disinilah aku memulai.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan: “Ceritakanlah bagaimana cara anda menghafal.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ummu Shalih: “Kami menetapkan 10 ayat (maksudnya dia dan anak perempuannya yang masuk SMA). Setiap hari setelah Ashar kami duduk bersama. Dia membaca dan aku mengulanginya tiga kali. Kemudian dia menerangkan artinya kepadaku, dan setelah beberapa saat dia mengulanginya tiga kali. Pada hari yang berikutnya, dia mengulanginya tiga kali sebelum berangkat ke sekolah. Dia juga merekam bacaan Syaikh al-Husary rahimahullah, mengulangi setiap ayat tiga kali dan begitulah aku melanjutkan mendengarkannya hampir sepanjang waktu. Kemudian pada hari berikutnya kami akan melanjutkan pada 10 ayat berikutnya jika hafalanku baik. Jika tidak, kami akan menunda menghafal ayat berikutnya sampai hari berikutnya lagi. Lebih lanjut, kami menetapkan hari Jum’at untuk meninjau kembali hafalan selama satu minggu. Dan inilah perjalanan dari awal”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian Ummu Shalih berkata: “Setelah 4,5 tahun aku telah menghafal 12 juz menurut cara yang aku jelaskan kepada anda. Kemudian anakku menikah. Ketika suaminya mengetahui kegiatan kami mengenai hafalan, dia menyewa rumah dekat denganku, dekat dengan rumahku, sehingga memungkinkan untuk melanjutkan kegiatan hafalan. Lebih lanjut, dia, semoga Allah memberikan pahala baginya, selalu mendorong kami dan kadang-kadang duduk bersama kami mendengarkan, menjelaskan, dan mengajarkan. Kemudian setelah tiga tahun perkawinannya, anakkmu mulai sibuk dengan anak-anak dan urusan rumah tangganya, dan jadwal kami pun terganggu, akan tetapi hal itu tidak membuatnya menyerah. Bahkan, dia melihat hasratku untuk menghafal masih tetap ada, dia mencarikan guru khusus untuk melanjutkan kegiatan tersebut di bawah pengawasannya. Akhirnya aku menamatkan hafalan dengan pertolongan Allah, dan anakku masih berusaha menamatkan hafalannya terhadap Al-Qur’anul Adzim. Dia masih ketinggalan sedikit insya Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peertanyaan: “Motivasimu (untuk menghafal –pent.), apakah mempengaruhi wanita-wanita lain di sekelilingmu?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ummu Shalih: “Itu benar-benar memberikan dampak baik yang kuat. Anak-anak perempuanku dan anak-anak perempuan (dari suami terdahulu) semuanya terdorong dan berussaha untuk belajar dan mengajarkan Al-Qur’an kepada anak-anak mereka dan belajar bagi diri mereka sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan:  “Setelah menamatkan Al-Qur’an, tidakkah anda berpikir untuk mulai menghafalkan hadits?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ummu Shalih: “Sekarang aku telah menghafalkan 90  hadits dan insya Allah aku akan terus melakukannya. Hafalanku tergantung pada rekaman dan siaran radio Qur’an. Di akhir setiap minggu, anak perempuanku datang dan mengecek tiga hadits fahalanku, dan aku sekarang mencoba menghafalkan lebih banyak lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan: “Selama menghafalkan Al-Qur’an, apakah hidup anda berubah? Apakah hal itu mempengaruhi hidupmu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ummu Shalih: “Ya, aku mengalami perubahan besar dan aku selalu mencoba, segala puji bagi Allah, untuk taat kepada Allah sebelum mulai menghafal. Namun demikian, setelah aku mulai tugas menghafalkan, aku mulai merasakan kepercayaan diri, kepercayaan diri yang besar dan semua kekhawatiran perlahan-lahan sirna. Aku bahkan mencapai tingkat membebaskan diriku dari semua kekhawatiran yang berlebihan akan ketakutan mengenai anak-anakku dan urusan mereka, dan semangatku bertambah. Aku memiliki tujuan mulia untuk dilaksanakan dan ini adalah nikmt yang besar dari Allah subhanahu wa ta’ala kepadaku, karena kita mengetahui bahwa sebagian wanita, ketika mereka beranjak tua dan tidak memiliki suami, dan anak-anak mereka menikah, mungkin dihancurkan oleh waktu dan pikiran kosong, kecemasan, dan seterrusnya. Akan tetapi, Alhamdulillah, aku tidak melaluinya dan aku menyibukkan diri dengan tugas yang besar, dan tujuan yang besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peranyaan: “Tdakkah anda berpikir pada saat tertentu, untuk bergabung dengan majelis yang memusatkan perhatian untuk mengajarkan Al-Qur’an?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ummu Shalih: “Ya, sebagian wanita menyarankan hal ini kepadaku, akan tetapi aku adalah wanita yang terbiasa tinggal di rumah, dan aku tidak suka keluar setiap hari dan Alhamdulillah, anak perempuanku mencukupiku dari semua kesulitan dan aku merasa bahagia ketika belajar darinya. Anakku telah memberikan teladan dalam kebaikan dan ketaatan yang jarang ditemukan di masa kita ini. Dia memulia tugas dan kegiatan ini bersamaku ketika dia masih remaja, dan ini adalah usia rawan yang banyak dikeluhkan orang. Dia selalu menekan dirinya agar dia dapat meluangkan waktu untuk mengajariku, dan dia mengajariku dengan baik dan bijaksana. Suaminya adalah penolong yang baik baginya dan dia telah berusaha keras. Aku memohon kepada Allah subhanau wa ta’ala agar memberikan mereka kebahagiaan dan menjadikan anak-anak mereka anak-anak yang shalh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan:  “Apa yang anda katakana kepada wanita di usia anda yang ingin belajar dan menghafalkan Al-Qur’an namun merasa khawatir dan merasa tidak mampu melakukannya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ummu Shalih: “Aku katakana kepadanya, tidak aka nada keputusasaan dengann tekat yang teguh, ikhlas dan benar. Mulailah dengan ikhlas, keteguhan pendirian dan tawakkal kepada Allah setiap saat. Dan ingatlah, pada usia sekarang ini anda seharusnya memiliki waktu untuk diri anda sendiri. Namun jangan gunakan waktu anda hanya untuk keluar atau tidur dan seterusnya, Sebaliknya, sibukkanlah diri anda dengan kebajikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanya: “Apa yang akan anda katakan kepada wanita yang masih muda? Apa yang akan anda nasihatkan kepadanya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ummu Shalih: “Jagalah Allah maka Dia akan menjagamu. Gunakanlah nikmat yang Allah berikan kepadamu dari kesehatan dan jalan dan kenyamanan hidup. Gunakanlah untuk menghafalkan Kitabullah. Inilah cahaya yang akan menghidupkan hatimu, hidupmu dan kuburmu setelah engkau mati. Dan jika engkau memiliki seorang ibu, maka berusahalah untuk mengajarinya, dan tidak ada nikmat yang lebih baik bagi seorang ibu darpada seorang anak shalih yang menolongnya untuk lebih dekat kepada Allah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://understand-islam.net/audio/Sources%20of%20Inspiration%20.%20-%20.%204.%20Stories%20of%20Muslims/02-%20Umm%20Saalih%20-%20A%20Grand-Mother%20Memorizes%20Quraan.mp3"&gt;UmmShalih, A Grand-Mother Memorizes Quran&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Dibawakan oleh Dr Saleh as-Saleh pada tanggal 1 Muharram 1426 H, 10 Februari 2005.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Dipublikasikan pertama kali pada majalah Ad-Da’qah, no. 1552, 17 Rabiul Awal 1417 (1 Agustus 1996)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Transkrib dalam bahasa Inggris oleh: Ummu Maahir al-Amreekiyyah&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Alih bahasa: Ummu Abdillah al-Buthoniyah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7030717-7457420399520445858?l=www.khayla.net' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.khayla.net/feeds/7457420399520445858/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.khayla.net/2009/08/ummu-shalih-seorang-nenek-yang.html#comment-form' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7030717/posts/default/7457420399520445858'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7030717/posts/default/7457420399520445858'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.khayla.net/2009/08/ummu-shalih-seorang-nenek-yang.html' title='Ummu Shalih, Seorang Nenek yang Menghafalkan Al-Qur’an di Usia 82 Tahun'/><author><name>Khayla</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09770334815077083282</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='00644589416080721509'/></author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7030717.post-2868673212688872070</id><published>2009-08-01T22:53:00.005+08:00</published><updated>2009-08-01T23:23:18.773+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kisah'/><title type='text'>Wanita yang Lisannya adalah  Al-Qur’an</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Seorang wanita tua duduk di atas sebatang kayu (pohon) dalam perjalanan menunaikan ibadah haji. Hadhrat Abdullah bin Mubarak rahimahullah kebetulan melewati jalan itu. Ia juga hendak menuju ke Baitullah untuk melaksanakan ibadah haji dan mengunjungi makam Nabi shallallahu alaihi wasallam. Melihat seorang wanita yang terlihat khawatir dan kesulitan, ia berkata kepadanya. Pembicaraan tersebut dikisahkan sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadhrat Abdullah bin Mubarak (rahimahullah): “Assalamu’alaikum warahmatullah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang wanita: “(Kepada mereka dikatakan): "Salam", sebagai ucapan selamat dari Tuhan Yang Maha Penyayang.” (QS Yasin [36] : 58). Dia bermaksud bahwa jawaban salam adalah dari Allah Ta’ala, Kemudian dia berkata lagi:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Barangsiapa yang Allah sesatkan , maka baginya tak ada orang yang akan memberi petunjuk.” (QS Al-A’raaf [7] : 186). Maksudnya dia sedang tersesat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadhrat Abdullah bin Mubarak (rahimahullah): “Darimana asalmu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang Wanita: “Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha.” (QS al-Israa [17] : 1) Maksudnya dia berasal dari Masjidil Aqsa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadhrat Abdullah bin Mubarak (rahimahullah): “Sudah berapa lama anda disini?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang Wanita: “selama tiga malam: (QS Maryam [19] : 10)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadhrat Abdullah bin Mubarak (rahimahullah): “Bagaimana anda makan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang Wanita: “dan Tuhanku, Yang Dia memberi makan dan minum kepadaku, (QS Asy-Su’ara [26] : 79)” Maksudnya dengan satu cara atau lainnya, Allah member makan kepadanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadhrat Abdullah bin Mubarak (rahimahullah): “Adakah air untuk berwudhu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang Wanita: “kemudian kamu tidak mendapat air, maka bertayamumlah kamu dengan tanah yang baik (suci).” (QS An-Nisaa [4] : 43). Maksudnya dia melakukan tayammum karena tidak menemukan air.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadhrat Abdullah bin Mubarak (rahimahullah): “Ini ada sedikit makanan, ambillah!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang Wanita: “sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam,” (QS Al-Baqarah [2] : 187). Dia ingin menunjukkan bahwa dia sendang berpuasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadhrat Abdullah bin Mubarak (rahimahullah): “Ini bukan bulan Ramadhan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang Wanita: “Dan barangsiapa yang mengerjakan suatu kebajikan dengan kerelaan hati, maka sesungguhnya Allah Maha Mensyukuri kebaikan lagi Maha Mengetahui.” (QS Al-Baqarah [2] : 156). Maksudnya ia melaksanakan puasa sunnah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadhrat Abdullah bin Mubarak (rahimahullah): “Membatalkan puasa dalam perjalanan diperbolehkan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang Wanita: “Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.: (QS Al-Baqarah [2] : 184)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadhrat Abdullah bin Mubarak (rahimahullah): “Bicaralah sebagaimana saya berbicara.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang Wanita: “Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.” (QS Qaaf [50] : 18). Maksudnya karena setiap perkataan seseorang diawasi dan dicatat, maka dia bersikap hati-hati dengan berbicara hanya dengan kata-kata di dalam Al-Qur’an.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadhrat Abdullah bin Mubarak (rahimahullah): “Dari suku mana asalmu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang Wanita: “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.” (QS Al-Israa [17] : 36). Maksudnya bahwa hal-hal yang engkau tidak memiliki pengetahuan tentangnya dan bukan merupakan urusanmu, engkau hanya membuang-buang waktu dengan menanyakannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadhrat Abdullah bin Mubarak (rahimahullah): “Maaf, saya sungguh telah berbuat kesalahan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang Wanita: “Pada hari ini tak ada cercaan terhadap kamu, mudah-mudahan Allah mengampuni (kamu).” (QS Yusuf [12] : 92)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadhrat Abdullah bin Mubarak (rahimahullah): “Maukah anda berkendaraan dengan untaku dan menemui kelompokmu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang Wanita: “Dan apa yang kamu kerjakan berupa kebaikan, niscaya Allah mengetahuinya.” (QS Al-Baqarah [2] : 197). Maksudnya jika anda berbuat baik kepadakum Allah akan memberikan balasan bagimu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadhrat Abdullah bin Mubarak (rahimahullah): “Kalau begitu naiklah.” Lalu beliau menundukkan untanya (yakni membuat untu itu duduk agar dapat dinaiki wanita tersebut, -pnet).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang Wanita: “Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandanganya.” (QS An-Nuur [24] : 30). Hadhraat Adullah memahaminya dan berpaling. Ketika wanita tersebut menaiki unta, unta tersebut menyentak dan pakaian wanita tersebut terlilit di pelana dan dia pun berseru: “Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri” (QS Asy-Syuura [43] : 30). Dengan kata lain, ia hendak memint aperhatian Hadhrat Abdullah bin Mubarak rahimahullah terhadap kecelakaan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadhrat Abdullah bin Mubarak (rahimahullah) memahaminya dan ia mengikat kaki unta dan meluruskan tali pelana. Wanita tersebut memuji kecekatan dan kemampuannya dengan mengakatan: “maka Kami telah memberikan pengertian kepada Sulaiman” (QS Al-Anbiyaa [21] : 79).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika perjalanan akan dimulai, wanita itu membaca ayat yang dibaca ketika melakukan perjalanan: “Maha Suci Tuhan yang telah menundukkan semua ini bagi kami padahal kami sebelumnya tidak mampu menguasainya, dan sesungguhnya kami akan kembali kepada Tuhan kami". (QS Az-zukhruf [43] : 13-14)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadhrat Abdullah bin Mubarak (rahimahullah) memegang tali kekang unta tersebut. Dia mulai menyenandungkan Huddi, nasyid Arab yang terkenal di dalam perjalanan dan dia mulai berjalan dengan cepat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang Wanita: “Dan sederhanalah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu.” (QS Luqma [31] : 19) Hadhrat Abdullah bin Mubarak memahaminya. Dia mulai berjalan lebih lambar dan merendahkan suaranya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang Wanita: “bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Al Qur'an.” (QS Al-Muzammil [73[ : 20). Maksudnya, daripada menyenandungkan Huddi, iia sebaiknya membaca Al-Qur’an.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadhrat Abdullah bin Mubarak (rahimahullah) mulai membaca Al-Qur’an.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang wanita menjadi sangat senang dan berkata: “Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah).” (QS Al-Baqarah [2] : 269)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah membaca Al-qur’an selama beberapa saat, Hadhrat Abdullah bin Mubarak (rahimahullah) bertanya kepada wanita tersebut jika ia mempunyai suami: “Wahai bibi, apakah anda mempunyai suami?”  (maksudnya apakah dia masih hidup)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang Wanita: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menanyakan (kepada Nabimu) hal-hal yang jika diterangkan kepadamu akan menyusahkan kamu dan jika kamu menanyakan di waktu Al Qur'an itu diturunkan, niscaya akan diterangkan kepadamu,” Wanita itu bermaksud mengatakan bahwa seharusnya tidak ada perntanyaan mengenai hal tersebut, yang menunjukkan mungkin suamina telah meninggal.&lt;br /&gt;Akhirnya mereka pun dapat menyusul rombangan wanita itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadhrat Abdullah bin Mubarak (rahimahullah): “Apakah anda memiliki anak atau kerabat dalam romongan itu yang memiliki hubungan denganmu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang Wanita: “Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia.” Dia bermasud bahwa dia memiliki anak-anak bersama rombongan tersebut dan mereka membawa perbekalan bersamanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadhrat Abdullah bin Mubarak (rahimahullah): “Apa yang dilakukan oleh anak-anakmu untuk rombongan ini? (Maksud pertanyaan Hadhrat Abdullah adalah untuk memudahkan mengenali anak-anak wanita tersebut).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang Wanita: “dan (Dia ciptakan) tanda-tanda (penunjuk jalan). Dan dengan bintang-bintang itulah mereka mendapat petunjuk.” (QS Al-Nahl [16] : 16). Maksudnya bahwa anaknya adalah penunjuk jalan bagi rombongan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadhrat Abdullah bin Mubarak (rahimahullah): “Bisakah anda mengatakan nama mereka kepadaku?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang Wanita: “Dan Allah mengambil Ibrahim menjadi kesayanganNya.” (QS An-Nisaa [4] : 125). “Hai Yahya, ambillah Al Kitab (Taurat) itu.” (QS Maryam [19] : 12). “Dan Allah telah berbicara kepada Musa dengan langsung .” (QS An-Nisaa [4[ : 164). Dengan membaca ayat-ayat ini, wanita tersebut mengabarkan bahwa nama anak-anaknya adalah Yahya, Ibrahim dan Musa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadhrat Abdullah bin Mubarak (rahimahullah) memanggil nama-nama tersebut dari romongan itu dan tiga orang anak muda segera mendekat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang Wanita: “Maka suruhlah salah seorang di antara kamu untuk pergi ke kota dengan membawa uang perakmu ini, dan hendaklah dia lihat manakah makanan yang lebih baik, maka hendaklah ia membawa makanan itu untukmu” (QS Al-Kahfi [18] : 19). Dengan kata lain dia memerintahkan anak-anaknya untuk member makan Hadhrat Abdullah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika makanan telah dibawakan, dia berkata kepada Hadhrat Abdullah bin Mubarak (rahimahullah): “"Makan dan minumlah dengan sedap disebabkan amal yang telah kamu kerjakan pada hari-hari yang telah lalu". (QS Al-Haaqah [69] : 24), dan bersama ayat tersebut dia membaca ayat lain, maksudnya adalah untuk menunjukan rasa terima kasihnya kepada Hadrath Abdullah atas kebaikannya. Ayat tersebut adalah: “Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan (pula).” (QS Ar-Rahmaan [55] : 60)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Percakapan merreka berakhir pada ayat ini. Anak wanita itu mengabarkan kepada Hadhrat Abdullah bin Mubarak (rahimahullah) bahwa ibunya telah berbicara dengan cara seperti itu, yakni hanya menggunakan ayat-ayat Al-Qur’an dalam perkataannya, selama 40 tahun terakhir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Diterjemahkan dari The Lady Whose Tongue is The Quran, sebagaimana yang terdapat dalam artikel abdurrahman [dot] org.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7030717-2868673212688872070?l=www.khayla.net' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.khayla.net/feeds/2868673212688872070/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.khayla.net/2009/08/wanita-yang-lisannya-adalah-al-quran.html#comment-form' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7030717/posts/default/2868673212688872070'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7030717/posts/default/2868673212688872070'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.khayla.net/2009/08/wanita-yang-lisannya-adalah-al-quran.html' title='Wanita yang Lisannya adalah  Al-Qur’an'/><author><name>Khayla</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09770334815077083282</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='00644589416080721509'/></author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7030717.post-7600817300562802490</id><published>2009-07-09T14:04:00.003+08:00</published><updated>2010-02-21T07:59:52.578+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ulama: Abu Ubaidah bin al-Jarrah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kisah'/><title type='text'>Abu Ubaidah dan Permainan Pedang di Yarmuk</title><content type='html'>&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Hari keenam dari perang Yarmuk fajar benderang dan jernih. Itu adalah minggu ke empat Agustus 636 (minggu ketiga Rajab, 15 H). Kesunyian pagi hari tidak menunjukkan pertanda akan bencana yang akan terjadi berikutnya. Pasukan muslim saat itu merasa lebih segar, dan mengetahui niat komandan mereka untuk menyerang dan sesuatu di dalam rencananya, tak sabar untuk segera berperang. Harapan-harapan pada hari itu menenggelamkan semua kenangan buruk pada ’Hari Hilangnya Mata’&lt;a href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=7030717&amp;amp;postID=7600817300562802490#_ftn1_6137" name="_ftnref1_6137"&gt;[1]&lt;/a&gt;. Di hadapan mereka berbaris pasukan Romawi yang gelisah – tidak terlalu berharap namun tetap berkeinginan untuk melawan dalam diri mereka. &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Seiring dengan naiknya matahari di langit yang masih samar di Jabalud Druz, Gregory, komandan pasukan yang dirantai, mengendarai kudanya maju ke depan di tengah-tengah pasukan Romawi. Dia datang dengan misi untuk membunuh komandan pasukan Muslimin dengan harapan hal itu akan memberikan efek menyurutkan semangat pimpinan kesatuan dan barisan kaum Muslimin. Ketika ia mendekati ke tengah-tengah pasukan Muslimin, dia berteriak menantang (untuk berduel) dan berkata, ”Tidak seorang pun kecuali Komandan bangsa Arab!”&lt;a href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=7030717&amp;amp;postID=7600817300562802490#_ftn2_6137" name="_ftnref2_6137"&gt;[2]&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Abu Ubaidah seketika bersiap-siap untuk menghadapinya. Khalid dan yang lainnya mencoba untuk menahannya, karena Gregory memiliki reputasi sebagai lawan tanding sangat kuat, dan meang terlihat seperti itu. Semuanya merasa bahwa akan lebih baik apabila Khalid yang keluar menjawab tantangan itu, namum Abu Ubaidah tidak bergeming. Ia berkata kepada Khalid, ”Jika aku tidak kembali, engkau harus memimpin pasukan, sampai Khalifah memutuskan perkaranya.”&lt;a href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=7030717&amp;amp;postID=7600817300562802490#_ftn3_6137" name="_ftnref3_6137"&gt;[3]&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Kedua komandan berhadap-hadapan di atas punggung kudanya masing-masing, mengeluarkan pedangnya dan mulai berduel. Keduanya adalah pemain pedang yang tangguh dan memberikan penonton pertunjukkan yang mendebarkan dari permainan pedang dengan tebasan, tangkisan dan tikaman. Pasukan Romawi dan Muslim menahan nafas. Kemudian setelah berperang beberapa menit, Gregory mundur dari lawannya, membalikkan kudanya dan mulai menderapkan kudanya. Teriakan kegembiraan terdengar dari pasukan Muslimin atas apa yang terlihat sebagai kekalahan sang prajurit Romawi, namun tidak ada reaksi serupa dari Abu Ubaidah. Dengan mata yang tetap tertuju pada prajurit Romawi yang mundur itu, ia menghela kudanya maju mengikutinya. &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Gregory belum beranjak beberapa ratus langkah ketika Abu Ubaidah menyusulnya. Gregory, yang sengaja mengatur langkah kudanya agar Abu Ubaidah menyusulnya, berbalik dengan cepat dan mengangkat pedangnya untuk menyerang Abu Ubaidah. Kemundurannya dari medan pertempuran adalah tipuan untuk membuat lawannya lengah. Namun Abu Ubaidah bukanlah orang baru, dia lebih tahu mengenai permainan pedang dari yang pernah dipelajari Gregory. Orang Romawi itu mengangkat pedangnya, namun hanya sejauh itu yang dapat dilakukannya. Ia ditebas tepat pada batang lehernya oleh Abu Ubaidah, dan pedangnya jatuh dari tangannya ketika dia rubuh ke tanah. Untuk beberapa saat Abu Ubaidah duduk diam di atas kudanya, takjub pada tubuh besar jendral Romawi tersebut. Kemudian demgan meninggalkan perisai dan senjata yang berhiaskan permata orang Romawi itu, yang diabaikannya karena kebiasaannya tidak memandang berharga harta dunia, prajurit yang shalih itu kemudian kembali kepada pasukan Muslimin. &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;hr style="margin-left: 0px; margin-right: 0px;" size="1" width="33%"&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=7030717&amp;amp;postID=7600817300562802490#_ftnref1_6137" name="_ftn1_6137"&gt;[1]&lt;/a&gt; Peristiwa ini terjadi pada hari keempat perang Yarmuk, dimana dari sumber ini dikabarkan 700 orang dari pasukan Muslim kehilangan matanya karena hujan panah dari tentara Romawi. Dan hari itu merupakan hari peperangan terburuk bagi pasukan Muslimin.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=7030717&amp;amp;postID=7600817300562802490#_ftnref2_6137" name="_ftn2_6137"&gt;[2]&lt;/a&gt; Waqidi hal. 153.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=7030717&amp;amp;postID=7600817300562802490#_ftnref3_6137" name="_ftn3_6137"&gt;[3]&lt;/a&gt; Ibid&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Sumber: &lt;i&gt;The Sword of Allah: Khalid bin Al-Waleed, His Life Campaigns. &lt;/i&gt;Lieutenant-General A.I. Akram, Pakistan, 1968. Penulis belajar Bahasa Arab untuk mempelajari sumber-sumber sejarah terdahulu dan mengunjungi setiap medan pertempuran Khalid bin al-Walid untuk membuat analisis dari sudut pandang strategi militer dan merekonsiliasi beberapa kejaian sejarah yang bertentangan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div class="wlWriterSmartContent" id="scid:0767317B-992E-4b12-91E0-4F059A8CECA8:2f77f86f-e2f3-427d-9709-4e0ed8576497" style="margin: 0px; padding: 0px; display: inline; text-align: justify;"&gt;Technorati Tags: &lt;a href="http://technorati.com/tags/Kisah" rel="tag"&gt;Kisah&lt;/a&gt;,&lt;a href="http://technorati.com/tags/Kepahlawanan" rel="tag"&gt;Kepahlawanan&lt;/a&gt;,&lt;a href="http://technorati.com/tags/Perang%20Yarmuk" rel="tag"&gt;Perang Yarmuk&lt;/a&gt;,&lt;a href="http://technorati.com/tags/Abu%20Ubaidah" rel="tag"&gt;Abu Ubaidah&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7030717-7600817300562802490?l=www.khayla.net' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.khayla.net/feeds/7600817300562802490/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.khayla.net/2009/07/abu-ubaidah-dan-permainan-pedang-di.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7030717/posts/default/7600817300562802490'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7030717/posts/default/7600817300562802490'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.khayla.net/2009/07/abu-ubaidah-dan-permainan-pedang-di.html' title='Abu Ubaidah dan Permainan Pedang di Yarmuk'/><author><name>Khayla</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09770334815077083282</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='00644589416080721509'/></author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7030717.post-3147669440624738199</id><published>2009-07-03T08:19:00.002+08:00</published><updated>2009-07-03T08:23:34.348+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kisah'/><title type='text'>Jika Engkau Ingin Bermaksiat kepada Allah...</title><content type='html'>&lt;p align="justify"&gt; &lt;/p&gt;  &lt;blockquote&gt;   &lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="color:#330066;"&gt;”&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Jika engkau memenuhi lima syarat, perbuatan dosa tidak akan pernah membahayakanmu dan engkau dapat memenuhi hawa nafsumu sebanyak yang kau inginkan.&lt;/span&gt;”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;/blockquote&gt;  &lt;p align="justify"&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;Dikisahkan bahwa seorang laki-laki pernah mendatangi Ibrahim bin Adam dan berkata, ”Wahai Abu Ishaq, aku terus-menerus mencelakai diriku, dan aku berpaling dari segala sesuatu yang mengajakku untuk memperbaiki hidupku.”&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;Ibrahim berkata: ”Jika engkau memenuhi lima syarat, perbuatan dosa tidak akan pernah membahayakanmu dan engkau dapat memenuhi hawa nafsumu sebanyak yang kau inginkan.”&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;”Beritahukan kepadaku syarat-syarat itu,” kata laki-laki itu.&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;”Yang pertama, jika engkau ingin bermaksiat kepada Allah, maka janganlah makan dari rizki (yang diberikan)-Nya.” kata Ibrahim.&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;”Lalu apa yang dapat kumakan, karena semua yang ada di di bumi adalah rizki dari-Nya?” kata laki-laki itu.&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;”Dengar,” Ibrahim berkata, ”Apakah masuk akal ketika engkau makan dari rizki-Nya sementara engkau bermaksiat kepada-Nya?”&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;”Tidak.” Kata laki-laki itu. ”Apa syarat yang kedua?”&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;”Jika engkau ingin bermaksiat kepada Allah, maka janganlah hidup di atas tanah-Nya.” Kata Ibrahim.&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;”Ini bahkan lebih buruk dari yang pertama. Semua yang membentang di Barat dan di Timur adalah milik-Nya. Lalu dimana aku akan tinggal?”&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;”Dengar, ” Ibrahim berkata, ”Jika engkau terus-menerus durhaka kepada-Nya dan makan dari rizki-Nya dan tinggal di tanah-Nya, setidaknya carilah tempat dimana Dia tidak dapat melihatmu, dan bermaksiatlah kepada-Nya disana.”&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;”Wahai Ibrahim!” laki-laki itu berseru, ”Bagaimana aku dapat melakukannya, sedangkan Dia Maha Mengetahui bahkan rahasia terdalam yang ada dalam dada manusia? Apa syarat keempat?” Dia bertanya dengan nada putus asa.&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;”Bila malaikat maut datang untuk mengambil nyawamu, maka katakan kepadanya: ”beri aku tangguh, agar aku dapat melakukan taubat nasuha dan melakukan amal kebaikan.”&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;”Bila waktunya tiba, malaikat tak akan mengabulkan permohonanku.” kata laki-laki itu.&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;”Dengar,” Ibrahim berkata, ”Jika engkau tidak dapat menunda kematian untuk bertaubat, lalu bagaimana engkau berharap akan selamat?”&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;”Katakan kepadaku syarat yang kelima,” kata laki-laki itu.&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;”Bila malaikat penjaga neraka datang untuk membawamu pergi pada hari Kiamat, jangan pergi bersamanya.”&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;”Mereka tidak akan melepaskanku, ” seru laki-laki itu.&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;”Lalu bagaimana engkau berharap akan selamat?” tanya Ibrahim.&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;”Hentikan, hentikan! Itu cukup bagiku, ” kata laki-laki itu. ”Aku memohon ampun kepada Allah dan aku sungguh bertaubat kepada-Nya.”&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;Sejak hari itu, laki-laki itu kemudian menghabiskan hidupnya untuk beribadah kepada Allah.&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;&lt;em&gt;Sumber: Story of Repentance oleh: Muhammad Abduh Maghawiri&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7030717-3147669440624738199?l=www.khayla.net' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.khayla.net/feeds/3147669440624738199/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.khayla.net/2009/07/jika-engkau-ingin-bermaksiat-kepaa.html#comment-form' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7030717/posts/default/3147669440624738199'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7030717/posts/default/3147669440624738199'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.khayla.net/2009/07/jika-engkau-ingin-bermaksiat-kepaa.html' title='Jika Engkau Ingin Bermaksiat kepada Allah...'/><author><name>Khayla</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09770334815077083282</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='00644589416080721509'/></author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7030717.post-7619543356231391143</id><published>2009-06-16T08:19:00.004+08:00</published><updated>2009-06-16T08:50:37.727+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kisah'/><title type='text'>Khaulah binti Al-Azwar</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;blockquote style="color: rgb(0, 0, 102);"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Duhai engkau sang pejuang&lt;br /&gt;Laksana mawar di tengah ilalang&lt;br /&gt;Amarah dan kesedihan yang mendalam&lt;br /&gt;Telah mengobarkan semangatmu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kegesitanmu laksana pejuang sejati&lt;br /&gt;Sepak terjangmu menyisakan kekaguman&lt;br /&gt;Berbanggalah ibu yang melahirkanmu&lt;br /&gt;Menjadi seorang wanita mujahid&lt;/span&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_Yqmw3TT8S5Q/SjbntuvOUWI/AAAAAAAAAIM/XXSpcuNtBFU/s1600-h/purple_rose2.jpeg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 200px; height: 151px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_Yqmw3TT8S5Q/SjbntuvOUWI/AAAAAAAAAIM/XXSpcuNtBFU/s200/purple_rose2.jpeg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5347716380375273826" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Dikisahkan ketika Khalid bin Al-Walid mendekati medan perang dalam salah satu pertemumpuran di Ajnadin menghadapi bangsa Rowami dalam episode penaklukkan Damaskus, tiba-tiba ia melihat seorang prajurit penunggang kuda melesat melewatinya dari belakang dan berkuda menuju pasukan Romawi. Sebelum Khalid sempat menahannya, ia telah menghilang, Bertubuh langsing dan berpakaian hitam, penunggang kuda itu mengenakan pelindung di dadanya, bersenjatakan pedang dan tombak. Khalid melihat ia mengenakan sorban hijau dan selendang yang menutupi wajahnya sebagai cadar dan hanya matanya saja yang terlihat. Khalid tiba di medan perang bersamaan dia melihat penunggang kuda itu melemparkan dirinya kedalam pasukan Romawi dengan penuh kemarahan yang membuat semua yang hadir mengira bahwa ia dan kudanya gila. Rafi – pemimpin pasukan yang waktu itu menggantikan Dhirar yang ditawan oleh tentara Romawi -  melihatnya sebelum melihat kedatangan Khalid dan berkata, ”Dia menyerang seperti Khalid, tetapi jelas dia bukan Khalid.”  Kemudian Khalid bergabung dengan Rafi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Khalid langsung menggambungkan kelompok Rafi dan pasukan berkuda yang dibawanya dan menyebarkannya dalam kombinasi kekuatan untuk berperang. Sementara itu penunggang bertopeng menunjukkan aksi berkuda dan penyerangan dengan tombaknya yang mendebarkan kaum Muslimin. Dia terus maju menyerang barisan depan pasukan Romawi dan membunuh seorang prajurit, lalu dia berkuda lagi kebagian depan yang lain dan menyerang prajurit di barisan depan, dan seterusnya. Beberapa orang prajurit Romawi maju untuk menghadangnya namun berhasil dijatuhkan dengan permainan tombaknya yang dashsyat. Kagum terhadap pemandangan yang menakjubkan tersebut, pasukan Muslimin masih belum dapat melihat siapa gerangan pejuang itu, kecuali bahwa dia adalah postur seorang anak muda dan sepasang mata yang tajam bercahaya di atas cadarnya. Sang penunggang kuda tampaknya hendak bunuh diri karena dengan pakaian dan tombak yang berlumuran darah dia kembali menyerang prajurit Romawi. Keberanian sang pejuang memberikan keberanian baru bagi kelompok Rafi (yang semua hampir terkalahkan sebelum kedatangan pasukan Khalid bin al-Walid), yang melupakan kelelahan mereka dan menyerbu ke medan perang dengan semangat baru yang tinggi ketika Khalid memerintahkan untuk menyerang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penunggang bercadar,  yang kini diikuti oleh prajurit lainnya, melanjutkan pertempurannya dengan prajurit Romawi ketika seluruh pasukan kaum Muslimin menyerbu. Segera setelah serbuan umum itu, Khalid mendekat kepada sang penunggang dan bertanya, ”Wahai pejuang, tunjukkanlah wajahmu!” Sepasang mata hitam berkilat menatap Khalid sebelum berbalik dan kembali menyerang tentara Romawi. Kemudian beberapa orang tentara Khalid menyusulnya dan berkata kepadanya. ”Wahai pejuang yang mulia, komandanmu memanggilmu dan engkau pergi darinya! Tunjukkan kepada kami wajahmu dan sebutkan namamu agar engkau dapat dihormat selayaknyai.” Sang penunggang kuda kembali berbalik pergi seolah dengan sengaja merahasiakan identitas dirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika sang penunggang kuda kembali dari serangannya, dia melewati Khalid, yang menyuruhnya dengan tegas untuk berhenti. Dia menarik kudanya berhenti, Khalid melanjutkan: ”Engkau telah berbuat banyak yang memenuhi hati kami dengan kekaguman. Siapakah anda?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Khalid hampir terjatuh dari kudanya ketika dia mendengarkan jawaban dari penunggang kuda bercadar, karena yang didengarnya adalah suara seorang gadis. ”Wahai komandan, bukannya aku enggan menjawab pertanyaan anda, hanya saja aku merasa malu, sebab anda seorang pemimpin yang agung, sedangkan aku adalah gadis pingitan. Sesungguhnya tiada lain yang mendorongku untuk melakukan hal seperti itu melainkan karena hatiku terbakar dan aku sangat sedih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Khalid dibuat kagum kepada orang tua itu, Al-Azwar, yang menjadi ayah pejaung-pejuang pemberani, laki-laki dan perempuan. ”Kalau begitu bergabunglah bersama kami.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah dia, Khaulah binti Al-Azwar, seorang gadis pemberani, yang membuat kagum pasukan Muslimin dengan sepak terjangnya menyerang tentara Romawi. Kesedihan dan kemarahan akan berita ditawannya saudaranya tercinta, Dhirar bin al-Azwar, membuatnya tampil ke medan perang sebagai pejuang, dan tidak lagi berada di barisan belakang sebagai perawat prajurit yang terluka dan mengurus perbekalan sebagaimana yang dilakukan sebelumnya bersama para wanita yang ikut dalam peperangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dikisahkan dalam perang Yarmuk, Khaulah, isteri Zubair, Ummu Hakim dan kaum wanita lainnya ikut terlibat di dalam peperangan. Dengan bersenjatakan tombak dan tiang-tiang tenda, mereka melawan setiap tentara musuh yang mendekat, dan membawakan air bagi pasukan muslimin yang terluka dan kehausan. Ia berteriak kepada kaumnya: ”Sebagian kalian jangan sampai terpisah dari lainnya. Jadilah seakan-akan satu lingkaran dan jangan berpencar karena itu akan menyebabkan kalian mudah dikuasai lalu akan terjadi perpecahan diantara kalian. Hancurkan tombak-tombak mereka, patahkan pedang-pedang mereka!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia berperang dengan seorang tentara Romawi, namun lawannya adalah pemain pedang yang lebih baik dan berhasil memukul kepala Khaulah dengan pedangnya, dan akibatnya ia terjatuh dengan darah yang bersimbah membasahi kepalanya. Ketika pasukan Romawi dipukul mundur, dan wanita lainnya melihat tubuhnya tidak bergerak, ia menangis sedih dan bergegas mencari Dhirar untuk mengabarkan bahwa saudarinya tercita telah tiada. Namun Dhirar tidak dapat ditemu hingga malam tiba. Ketika ia kahirnya tiba di tempat saudarinya, Khaulah duduk dan tersenyum. Dia sungguh baik-baik saja!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maraji:&lt;br /&gt;1. "The Sword of Allah: Khalid bin Al-Waleed, His Life and Campaigns" oleh mantan Lieutenant-General A.I. Akram of the Pakistan Army, in October 1969.&lt;br /&gt;2. “Dzatul Himmah” (Setinggi Cita Wanita Perindu Surga) oleh Isham bin Muhammad Asy-Syarif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="wlWriterEditableSmartContent" id="scid:0767317B-992E-4b12-91E0-4F059A8CECA8:490c6603-bc6a-4022-bd42-1aad0b124754" style="margin: 0px; padding: 0px; display: inline;"&gt;Technorati Tags: &lt;a href="http://technorati.com/tags/kisah" rel="tag"&gt;kisah&lt;/a&gt;,&lt;a href="http://technorati.com/tags/wanita" rel="tag"&gt;wanita&lt;/a&gt;,&lt;a href="http://technorati.com/tags/mujahidah" rel="tag"&gt;mujahidah&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7030717-7619543356231391143?l=www.khayla.net' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.khayla.net/feeds/7619543356231391143/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.khayla.net/2009/06/khaulah-binti-al-azwar.html#comment-form' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7030717/posts/default/7619543356231391143'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7030717/posts/default/7619543356231391143'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.khayla.net/2009/06/khaulah-binti-al-azwar.html' title='Khaulah binti Al-Azwar'/><author><name>Khayla</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09770334815077083282</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='00644589416080721509'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_Yqmw3TT8S5Q/SjbntuvOUWI/AAAAAAAAAIM/XXSpcuNtBFU/s72-c/purple_rose2.jpeg' height='72' width='72'/><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7030717.post-3166389069922215699</id><published>2009-06-06T10:50:00.005+08:00</published><updated>2009-06-07T14:18:50.062+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kisah'/><title type='text'>Dia adalah Saudariku...!</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_Yqmw3TT8S5Q/SinZ0oCbTnI/AAAAAAAAAH8/nyPqPdbIyNw/s1600-h/704871jfg4e7royw.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 187px; height: 179px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_Yqmw3TT8S5Q/SinZ0oCbTnI/AAAAAAAAAH8/nyPqPdbIyNw/s200/704871jfg4e7royw.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5344041930975825522" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;p align="justify"&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;Kisah berikut ini diambil dari buku &lt;i&gt;Azzaman al-Qadim&lt;/i&gt; yang diterjemahkan ke dalam Bahasa Inggris dan dibawakan oleh Muhammad Alshareef pada MYNA Zona East Conference. Sebuah kisah yang begitu menyentuh, untuk mengingatkan kita semua agar mensyukuri tarikan nafas kita pada hari ini dengan bersegera pada ketaatan kepada Allah Subhanahu Wata’ala. Karena esok, atau mungkin sesaat lagi, kita akan berlalu dari dunia ini, menuju kepada kebahagiaan abadi, atau siksa abadi....!&lt;/p&gt;  &lt;p align="center"&gt;---------------------&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt; Pipinya cekung, dan kulitnya membalut tulangnya. Hal itu tidak menghentikannya karena engkau takkan melihatnya tidak membaca Al-Qur’an. Dia selalu terjaga di ruang shalatnya yang ayah bangun untuknya. Ruku’, sujud, dan mengangkat tangannya ketika shalat, seperti itulah dia sejak fajar hingga matahari terbenam dan kembali lagi, kejenuhan itu untuk orang lain (bukan bagi dirnya).&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;Adapun aku, aku kecanduan tidak lain selain majalah fashion dan novel. Aku keranjingan video hingga perjalanan ke tempat sewa video menjadi trademark-ku. Ada sebuah pepatah bahwa jika sesuatu telah menjadi kebiasaan, orang-orang akan mengenalimu dengannya. Aku lalai dari kewajibanku dan shalatku ditandai dengan kemalasan.&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;Suatu malam, setelah tiga jam yang panjang menonton, aku mematikan vedio. Adzan dengan lembut membangunkan malam. Aku menyelinap dengan damai ke dalam selimutku.&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;Suaranya memanggilku dari ruang shalatnya. ”Ya? Kamu ingin sesuatu Noorah?” Tanyaku.&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;Dengan jarum tajam dia memecahkan rencanaku. ”Jangan tidur sebelum kamu shalat Fajar!”&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;Agghh! ”Masih ada waktu satu jam sebelum Fajar, Itu hanya Adzan pertama.” Kataku.&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;Dengan suaranya yang merdu dia memanggilku mendekat. Dia selalu seperti itu bahkan sebelum penyakit ganat itu mengguncangkan jiwanya dan menahannya di tempat tidur. ”Hanan, maukah kamu duduk di sisiku?”&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;Aku tidak pernah dapat menolak permintaannya, engkau dapat merasakan kemurnian dan keikhlasan pada dirinya. ”Ya Noorah?”&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;’Duduklah disini.”&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;”Baiklah, aku duduk. Apa yang kau pikirkan?”&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;Dengan suaranya yang manis dia membaca&lt;/p&gt;  &lt;p align="center"&gt;&lt;span style=";font-family:ABO SLMAN Alomar النسخ4;font-size:180%;"  &gt;كُلُّ نَفْسٍ ذَآئِقَةُ الْمَوْتِ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;”Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu.” (QS Al-Imran [3] : 185)&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;Ia berhenti sambil berpikir. Kemudian ia bertanya, “Kamu percaya kematian?”&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;“Tentu saja.” Jawabku.&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;“Apa kamu percaya kamu akan bertanggungjawab terhadapa apapun yang kamu kerjakan, tidak perduli itu kecil atau besar?”&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;“Aku percaya, tetapi Allah adalah Maha Pengampun dan Maha Penyayang, dan kehidpan masih panjang menantiku.”&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;“Hentikan Hanan! Apa kamu tidak takut dengan kematian dan kedatangannya yang tiba-tiba? Lihat Hind. Dia lebih muda darimu tetapi dia mati dalam kecelakaan mobil. Kematian buta terhadap usia dan umurmu tidak dapat mengukur kapan kamu akan mati.”&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;Kegelapan kamar itu memenuhi kulitku dengan ketakutan. “Aku takut gelap dan sekarang kamu menakutiku dengan kematian. Bagaimana aku bisa tidur sekarang? Noorah, kukira kamu sudah berjanji untuk pergi bersama selama liburan musim panas.”&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;Suaranya pecah dan hatinya gemetar “Aku mungkin akan menempuh perjalanan yang panjang tahun ini Hanan, tetapi di tempat yang lain. Kehidupan kita semua berada di tangan Allah dan kita semua adalah milik-Nya.”&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;Mataku basah dan air mataku mengalir di kedua pipiku. Aku memikirkan penyakit ganas saudariku. Dokter telah mengabarkan kepada ayahku secara pribadi, tidak banyak harapan Noorah dapat mengalahkan penyakitnya. Dia tidak diberitahu, saya jadi bertanya-tanya, siapa gerangan yang mengabarkan kepdanya. Atau apakah dia dapat merasakan kebenaran?&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;“Apa yang kamu pikirkan Hanan? Suaranya terdengar tajam. “Apa kamu mengira aku mengatakan ini hanya karena aku sakit? Aku harap tidak. Bahkan, aku mungkin hidup lebih lama dari orang-orang yang sehat. Berapa lama kamu akan hidup, Hanan? Mungkin dua puluh tahun? Mungkin empat puluh? Lalu apa?” Dalam gelap dia menyentuh tanganku dan menekannya lembut. “Tidak ada perbedaan antara kita. Kita semua akan pergi meninggalkan duniaini untuk tinggal di dalam Surga atau sengsara di dalam Neraka. Perhatikan firman Allah:&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: center;"&gt;&lt;span style=";font-family:traditional arabic;font-size:180%;"  &gt;فَمَن زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;“Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam syurga, maka sungguh ia telah beruntung.” (QS Al-Imran [3] : 185)&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;Aku meninggalkan kamar saudariku dalam keadaan limbung, kata-katanya mengiang di telingaku, “Semoga Allah menunjukimu Hanan, jangan lupakan shalatmu.”&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;Aku mendengar gedoran di pintuku pada pukul delapan pagi. Aku tidak biasa bangun di waktu seperti ini. Ada tangisan dan kebingungan. Ya Allah, apa yang terjadi?&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;Kondisi Noorah menjadi kritis setelah Fajar, mereka segera membawanya ke rumah sakit.&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;&lt;i&gt;Inna lillahi wa inna ilaihi roji’un.&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;Tidak akan ada perjalanan musim panas ini. Telah ditakdirkan aku akan menghabiskan musim panas di rumah.&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;Seolah waktu berlalu selamanya ketika tiba jam 1 siang. Ibu menelepon rumah sakit.&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;“Ya, kalian bisa datang dan menjenguknya sekarang.” Suara ayah berubah dan ibu dapat merasakan sesuatu yang buruk telah terjadi. Kami segera berangkat.&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;Dimana jalan yang sering kulewati dan kukira sangat singkat? Mengapa ini terasa begitu lama? Dima keramaian dan lalu lintas yang selalu memberiku kesempatan untuk menoleh ke kiri dan ke kanan? Semua orang menyingkir dari jalan kami!&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;Ibu menggelengkan kepalanya dalam tangannya menangis ketika ia berdoa bagi Norah. Kami tiba di loby rumah sakit. Seorang laki-laki mengerang, sedangkan yang lainnya korban kecelakaan. Dan mata laki-laki ketiga terlihat sedingin es. Engkau tidak bisa memastikan apakah dia mati atau hidup.&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;Norah berada dalam ruang ICU. Kami menaiki tangga menuju ke lantai (kamar)nya. Suster mendekati kami, “Mari kuantarkan kepada Norah.”&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;Ketika kami berjalan sepanjang koridor, suster bercerita betapa manisnya Norah. Dia sedikit banyak meyakinkan ibu kalau keadaan Norah lebih baik daripada pagi tadi. “Maaf. Tidak boleh lebih dari satu orang pengunjung memasuki kamar.” Kata suster tersebut.&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;Ini adalah kamar ICU. Menatap ke arah jubah putih selembut salju, melalui jendela kecil di pintu, aku melihat mata saudariku. Ibu berdiri di sisinya. Setelah kurang-lebih dua menit, ibu keluar tak dapat menahan tangisnya. “Kamu boleh masuk dan mengucapkan salam kepadanya dengan syarat kamu tidak berbicara terlalu lama dengannya,” mereka berkata kepadaku. “Dua menit cukup”&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;“Bagaimana keadaanmu Norah? Kamu baik-baik saja semalam saudariku, apa yang terjadi?”&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;Kami berpengangan tangan, dia menekannya lembut. “Sekarang pun, alhamdulillah, aku baik-baik saja.”&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;“Alhamdulillah... tapi.. tanganmu sangat dingin.”&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;Aku duduk di sisi tempat tidurnya dan meletakkan tanganku di lututnya. Ia tersentak, “Maaf, sakit ya?”&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;“Tidak, hanya saja aku teringat firman Allah.”&lt;/p&gt;  &lt;p align="center"&gt;&lt;span style=";font-family:ABO SLMAN Alomar النسخ4;font-size:180%;"  &gt;وَالْتَفَّتِ السَّاقُ بِالسَّاقِ&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;“dan bertaut betis (kiri) dan betis (kanan).” (Al-Qiyamah [75] : 29)&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;"Hanan doakan aku. Mungkin aku akan segera bertemu hari pertama dari hari akhirat (yakni di kuburan). Itu adalah perjalanan yang panjang dan aku belum mempersiapkan amalan yang cukup dalam perbekalanku.”&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;Sebutir air mata menitik dan meluncur ke pipiku mendengar kata-katanya. Aku menangis dan dia ikut menangis bersamaku. Ruangan menjadi kabur dan membiarkan kami dua bersaudara menagis bersama. Tetesan air mata jatuh ke telapak tangan saudariku, yang kugenggam dengan kedua tanganku. Ayah saat ini menjadi lebih khawatir kepadaku. Aku tak pernah mangis seperti ini sebelumnya.&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;Di rumah dan ditingkat atas di kamarku, aku menyaksikan matahari berlalu dengan hari yang penuh kesedihan. Kesunyian mengapung di koridor rumah kami. Secara bergiliran sepupu-sepupuku masuk ke kamarku. Banyak pengunjung dan semua suara bercampur baur di lantai bawah. Hanya satu hal yang jelas saat itu – Norah telah pergi!&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;Aku berhenti membedakan siapa yang datang dan siapa yang pergi. Aku tidak dapat mengingat apa yang mereka katakan. Ya Allah, dimana aku? Apa yang terjadi? Aku bahkan tidak dapat menangis lagi.&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;Beberapa hari kemudian mereka menceritakan kepadaku apa yang terjadi. Ayah telah manarik tanganku untuk mengucapkan selamat tinggal kepada saudariku untuk yang terakhir kalinya. Aku mencium kepala Norah.&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;Aku hanya teringat satu hal ketika menyaksikannya terbujur di tempat tidur – tempat dimana dia akan mati. Aku teringat ayat yang dibacanya:&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;“dan bertaut betis (kiri) dan betis (kanan).”&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;Dan aku tahu pasti kebenaran ayat berikutnya:&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="center"&gt;&lt;span style=";font-family:ABO SLMAN Alomar النسخ4;font-size:180%;"  &gt;إِلَى رَبِّكَ يَوْمَئِذٍ الْمَسَاقُ &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;“kepada Tuhanmulah pada hari itu kamu dihalau.” (QS Al-Qiyamah [75] : 30)&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;Aku menyusup ke ruang shalatnya malam itu. Menatap pada pakaian yang dian dan cermin yang bisu. Aku sungguh menjaga dia yang telah berbagi rahim ibuku denganku. Nora adalah sadara kembarku.&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;Aku teringat dia yang dengannya aku berbagi kesedihan, memberi ketenangan di hari-hari hujanku. Aku teringat dia yang berdoa agar aku mendapat petunjuk dan dia yang menitikkan begitu banyak air mata pada kebanyakan malam yang panjang mengingatkanku akan kematian dan hisab. Semoga Allah menyelamatkan kami semua.&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;Malam ini adalah malam pertama Norah yang harus ia lewatkan di kuburnya. Ya Allah, rahmatilah dia dan terangilah kuburnya. Inilah Al-Qur’an dan sajadahnya. Dan inilah pakaian berwarna mawar musim semi yang dia katakan kepadaku akan disimpannya sampai dia menikah, pakaian yang hanya disimpannya untuk suaminya kelak.&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;Aku teringat saudariku dan menangisi semua hari-hari yang telah lalu. Aku berdoa kepada Allah agar melimpahkan rahmatnya kepada kami, menerima ibadahku dan mengampuniku. Aku berdoa kepada Allah untuk meneguhkan Norah di dalam kuburnya sebagaiamana yang selalu ia ucapkan di dalam doanya.&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;Pada saat itu, aku berhenti. Aku bertanya kepada diriku apa jadinya jika akulah yang mati. Kemana aku akan menuju? Ketakutan memenuhiku dan air mataku mulai mengalir lagi.&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;Allahu Akbar. Allahu Akbar.... “Adzan pertama terdengar lembut dari masjid. Ia terdengar begitu indah kali ini. Aku merasa tenang dan nyaman ketika mengikuti bacaan muadzin. Kulilitkan syal di pundakku dan berditi untuk shalat Fajar. Aku shalat seolah itulah shalat terakhirku, shalat perpisahan. persis seperti apa yang Norah lakukan kemarin. Itu adalah shalat Fajar terakhirnya.&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;Kini, dan Insya Allah sepanjang sisa hidupku, jika aku bangun di pagi hari aku tidak lagi menganggap akan hidup hingga malam, dan di malam hari aku tidak menganggap akan tetap hidup di pagi hari. Kita semua akan menuju perjalanan Norah. Apa yang telah kita persiapkan untuknya?&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;(sumber: abdurrahman.org)&lt;/p&gt;  &lt;div class="wlWriterSmartContent" id="scid:0767317B-992E-4b12-91E0-4F059A8CECA8:37e135b7-15be-4b1e-8cd1-4edff441c7d9" style="margin: 0px; padding: 0px; display: inline;"&gt;Technorati Tags: &lt;a href="http://technorati.com/tags/kisah" rel="tag"&gt;kisah&lt;/a&gt;,&lt;a href="http://technorati.com/tags/hikmah" rel="tag"&gt;hikmah&lt;/a&gt;,&lt;a href="http://technorati.com/tags/kematian" rel="tag"&gt;kematian&lt;/a&gt;,&lt;a href="http://technorati.com/tags/taubat" rel="tag"&gt;taubat&lt;/a&gt;,&lt;a href="http://technorati.com/tags/teladan" rel="tag"&gt;teladan&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7030717-3166389069922215699?l=www.khayla.net' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.khayla.net/feeds/3166389069922215699/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.khayla.net/2009/06/dia-adalah-saudariku.html#comment-form' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7030717/posts/default/3166389069922215699'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7030717/posts/default/3166389069922215699'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.khayla.net/2009/06/dia-adalah-saudariku.html' title='Dia adalah Saudariku...!'/><author><name>Khayla</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09770334815077083282</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='00644589416080721509'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_Yqmw3TT8S5Q/SinZ0oCbTnI/AAAAAAAAAH8/nyPqPdbIyNw/s72-c/704871jfg4e7royw.jpg' height='72' width='72'/><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7030717.post-2893017606600900143</id><published>2009-06-05T19:37:00.003+08:00</published><updated>2009-06-05T19:44:09.043+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kisah'/><title type='text'>Celakalah Engkau Wahai Dinar!</title><content type='html'>&lt;blockquote&gt;   &lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 0, 102);"&gt;&lt;strong&gt;”Maka demi Tuhanmu, Kami pasti akan menanyai mereka semua, tentang apa yang telah mereka kerjakan dahulu.”&lt;/strong&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 0, 102);"&gt;(QS Al-Hijr [15] : 92-93)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/blockquote&gt;  &lt;p align="justify"&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;&lt;b&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;&lt;b&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_Yqmw3TT8S5Q/SikEF-TS9kI/AAAAAAAAAH0/xEPcEAzBQ1s/s1600-h/rose11.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 200px; height: 150px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_Yqmw3TT8S5Q/SikEF-TS9kI/AAAAAAAAAH0/xEPcEAzBQ1s/s200/rose11.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5343806933521593922" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;p align="justify"&gt;&lt;b&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;Sebuah kisah menarik tentang Dinar Al-Ayyar. Dinar mempunyai seorang ibu yang shalihah, yang selalu menasihatinya untuk bertaubat dari kemaksiatan dan dosa-dosanya. Namun sebanyak apapun dia mencoba, kata-katanya tidak pernah membawa pengaruh yang baik terhadap puteranya. Lalu pada suatu hari ketika Dinar berjalan melewati sebuah pemakaman, ia berhenti untuk mengambil sebuah tulang; dia terkejut menyaksikan bagaumana tulang itu remuk dan menjadi debu ditangannya. Pemandangan tulang itu memberikan pengaruh yang sangat besar terhadap Dinar. Dia mulai berpikir tentang kehidupan dan dosa-dosanya di masa lalu, kemudia dia berteriak, “Celakalah engkau wahai Dinar, engkau akan berakhir seperti tulang yang hancur ini, dan tubuhmu akan berubah menjadi debu.” Semua dosa di masa lalunya berkelabat di depan matanya, dan dia berketetapan hati untuk beraubat. Sambil mengarahkan pandangannya ke langit ia berkata, “Tuhanku, kini aku menghadap-Mu dengan kepasrahan yang sempurna, maka terimalah dariku, dan berilah rahmat-Mu kepadaku.”&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;Dengan ketetapan hati dan pikiran yang telah berubah, Dinar datang kepada ibunya dan berkata, &lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;“Wahai ibu, apakah yang dilakukan seorang tuan ketika menangkap budaknya yang telah lari darinya?” &lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;Untuk menghukum Dinar Ibunya berkata, “Tuan itu lalu menyediakan baginya pakaian kasar dan makanan yang buruk, dan mengikat tangan dan kakinya, agar dia tidak mencoba untuk lari lagi.”&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;Dinar berkata. “Kalau begitu aku ingin pakaian dari kain wol yang kasar, gandum yang buruk dan dua rantai. Wahai ibu, lakukanlah kepadaku apa yang dilakukan ter-hadap hamba sahaya yang melarikan diri. Mungkin setelah melihat kehinaan dan ke-rendahanku, Dia akan merahmati aku.” Melihat ketetapan hati dan kesungguhan permintaan anaknya, ibunya pun menurutinya.&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;Pada awal malam berikutnya, Dinar mulai menangis dan meratap tak terkendali. Dan dia terus-menerus mengulang kata-kata, “Celakalah engkau wahai Dinar, apakah engkau memiliki kekuaatan untuk menahan api neraka! Betapa tidak tahu malunya dirimu, menjalani hidup yang membuatmu pantas untuk mendapatkan murka Yang Maha Kuasa!” Dia terus berada dalam keadaan demikian sampai pagi. Menjadi lesu dan pucat, tubuh Dinar perlahan-lahan menjadi kurus. Tank sanggup melihatnya terus meratap dalam keadaan yang menyedihkan itu, ibunya berkata: &lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;”Anakku, kasihanilah dirimu.” &lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;Dia menjawab: ”Ibu, biarlah aku merasa letih selama beberapa saat, mungkin aku bisa mendapatkan kenyamanan yang panjang setelahnya. Karena esok, aku akan menunggu dihadapan Tuhanku yang Maha Tinggi, dan aku tidak tahu apakah Dia akan memerintahkan aku untuk memasuki tempat naungan yang indah, atau ke tempat dengan kengerian yang tak dapat dikatakan.”&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;Ibunya berkata, ”Anakku, setidaknya beristirahatlah barang sebentar.” Dinar berkata, ”Bukan istirahat di waktu sekarang yang aku cari, ibu. Seolah aku melihat engkau dan orang-orang ditunjukkan jalan menuju Surga esok hari, sedangkan aku ditunjukkan kepada Neraka bersama-sama dengan penghuninya.” Sang ibu lalu meninggalkannya, dan ia kembali menangis, beribadah, dan membaca Al-Qur’an. Suatu malam ketika membaca Al-Qur’an, ia melewati ayat berikut:&lt;/p&gt;  &lt;p align="center"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;فَوَرَبِّكَ لَنَسْأَلَنَّهُمْ أَجْمَعِيْنَ عَمَّا كَانُوا يَعْمَلُونَ&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p align="center"&gt;” Maka demi Tuhanmu, Kami pasti akan menanyai mereka semua, tentang apa yang telah mereka kerjakan dahulu.” (QS Al-Hijr [15] : 92-93)&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;Ketika dia mentadaburi artinya dan maksud dari ayat tersebut, dia menangis sejadi-jadinya hingga pingsan. Ibunya segera mendatanginya dan berusaha sekuat tenaga untuk menyadarkannya, tetapi dia tidak bereaksi. Ibnnya mengira dia telah mati. Melihat ke wajah anaknya tercinta, dia berkata, ”Duhai anakku sayang, duhai permata hatiku, dimana kita akan bertemu lagi?” Ternyata Dinar masih hdiup, dan mendengar perkataan ibunya, diamenjawab dengan suara lirih. ”Ibu, jika engkau tidak menemukanku di padang mashyar yang luas, maka bertanyalah kepada Malik, sang penjaga Neraka, tentangku.” Lau dia pun mati.&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;Setelah selesai memandikannya, ibu Dinar mempersiapkan pemakamannya. Dia keluar dan membuat pengumuman. ”Wahai manusia, datangilah shalat jenazah dari seseorang yang terbunuh karena (ketakutannya terhadap) neraka.” Orang-orang pun berdatangan dari segala penjuru, dikatakan bahwa pada masa itu, tidak ada perkumpulan yang lebih besar dan tidak ada air mata yang ditumpahkan melebihi hari itu.&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;Pada malam yang sama setelah pemakamannya, salah seorang teman Dinar melihatnya di dalam mimpi, mengenakan jubah hijau. Dinar berjalan dengan gembira mengitari Surga, sambil membaca ayat ini:&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;” Maka demi Tuhanmu, Kami pasti akan menanyai mereka semua, tentang apa yang telah mereka kerjakan dahulu.”&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;Dalam mimpi, temannya mendengar dia berkata: ”Demi Dia yang Maha Kuasa, Dia bertanya kepadaku (tentang amal perbuatanku). Dia merahmatiku, Dia mengampuni dan memaafkanku (dosa-dosaku). Wahai, sampaikanlah berita ini kepada ibuku.”&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;(Sumber: &lt;i&gt;Stories of Repentance, oleh: Muhammad Abdul Mughawiri&lt;/i&gt;)&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt; &lt;/p&gt;  &lt;div class="wlWriterSmartContent" id="scid:0767317B-992E-4b12-91E0-4F059A8CECA8:3c6dc499-54b6-44d8-a458-ed2c82f092db" style="margin: 0px; padding: 0px; display: inline;"&gt;Technorati Tags: &lt;a href="http://technorati.com/tags/kisah" rel="tag"&gt;kisah&lt;/a&gt;,&lt;a href="http://technorati.com/tags/taubat" rel="tag"&gt;taubat&lt;/a&gt;,&lt;a href="http://technorati.com/tags/ampunan" rel="tag"&gt;ampunan&lt;/a&gt;,&lt;a href="http://technorati.com/tags/teladan" rel="tag"&gt;teladan&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7030717-2893017606600900143?l=www.khayla.net' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.khayla.net/feeds/2893017606600900143/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.khayla.net/2009/06/celakalah-engkau-wahai-dinar.html#comment-form' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7030717/posts/default/2893017606600900143'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7030717/posts/default/2893017606600900143'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.khayla.net/2009/06/celakalah-engkau-wahai-dinar.html' title='Celakalah Engkau Wahai Dinar!'/><author><name>Khayla</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09770334815077083282</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='00644589416080721509'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_Yqmw3TT8S5Q/SikEF-TS9kI/AAAAAAAAAH0/xEPcEAzBQ1s/s72-c/rose11.jpg' height='72' width='72'/><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7030717.post-8746065269494600281</id><published>2009-05-22T20:19:00.002+08:00</published><updated>2009-05-22T20:24:40.379+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kisah'/><title type='text'>Aku Tidak Menangis Karena...</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;blockquote style="color: rgb(0, 0, 102);"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Sungguh, jika kita menghitung nikmat-nikmat Allah pada diri, maka takkan sanggup kita menghitungnya. Dan yang seringkali terjadi, kita melupakan nikmat-nikmat itu, dan baru terasa begitu berharga ketika kita kehilangan nikmat tersebut.&lt;/span&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;Dikisahkan, seorang kakek berusia 70 tahun mengidap sebuah penyakit; dia tidak dapat kencing. Dokter mengabarkan kepadanya kalau dia membutuhkan operasi untuk menyebuhkan penyakitnya. Dia setuju untuk melakukan operasi karena penyakit itu telah menimbulkan sakit yang luar biasa selama berhari-hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika operasi selesai, dokter memberikan tagihan pembayaran seluruh biaya operasi. Kakek tua itu melihat pada kuitansi dan mulai menangis. Melihatnya menangis dokter pun berkata kepadanya bila biayanya terlalu tinggi mereka dapat membuat pengaturan lain. Orang tua itu berkata, ”Saya tidak menangis karena uang itu, tetapi saya menangis karena Allah menjadikanku buang air (tanpa masalah) selama 70 tahun dan Dia tidak pernah mengirimkan tagihan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center; font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:180%;font-family:traditional arabic;"&gt;وَإِن تَعُدُّواْ نِعْمَتَ اللّهِ لاَ تُحْصُوهَا&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;” Dan jika kamu menghitung ni'mat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya.” (QS Ibrahim [14] : 34)&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Katsir di dalam tafsirnya menjelaskan mengenai ayat tersebut di atas:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah memberitahukan, bahwa manusia tidak akan mampu menghitung berapa banyak nikmat Allah, apalagi mensyukurinya. Disebutkan dalam Shahih Al-Bukhari bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center; font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:180%;font-family:traditional arabic;"&gt;اللُّهُمَّ لَكَ الْحَمْدُ غَيْرُ مَكْفِيِّ وَلاَ مُزَدَّعٍ وَلاَ مُسْتَغْنًى عَنْهُ رَبَّنَا&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;”Ya Allah bagimu segala puji, pujian yang tidak mencukupi tidak mungkin ditinggalkan dan selalu diperlukan, wahai Rabb kami.”&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Dan diriwayatkan dalam sebuah atsar bahwa Nabi Dawud alaihis salam berkata: “Ya Rabb, bagaimana aku dapat bersyukur kepada-Mu, sedangkan syukurku kepadamu itu adalah nikmat-Mu kepadaku?” Maka Allah berfirman: ”Sekarang engkau telah bersyukur kepadaku wahai Dawud.” Maksudnya (engkau telah bersyukur) ketika engkau telah mengetahui bahwa engkau tidak dapat memenuhi syukur yang sepatutnya kepada Pemberi nikmat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Asy-Syafi’i rahimahullah berkata: ”Segala puji bagi Allah yang tidak dapat dipenuhi syukur atas salah satu nikmat yang telah diberikan-Nya itu, kecuali dengan nikmat baru yang harus diyukuri pula.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="wlWriterEditableSmartContent" id="scid:0767317B-992E-4b12-91E0-4F059A8CECA8:490c6603-bc6a-4022-bd42-1aad0b124754" style="margin: 0px; padding: 0px; display: inline; text-align: justify;"&gt;Technorati Tags: &lt;a href="http://technorati.com/tags/tazkiyatun%20nafs" rel="tag"&gt;tazkiyatun nafs &lt;/a&gt;,&lt;a href="http://technorati.com/tags/nikmat" rel="tag"&gt;nikmat&lt;/a&gt;,&lt;a href="http://technorati.com/tags/syukur" rel="tag"&gt;syukur&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7030717-8746065269494600281?l=www.khayla.net' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.khayla.net/feeds/8746065269494600281/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.khayla.net/2009/05/aku-tidak-menangis-karena.html#comment-form' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7030717/posts/default/8746065269494600281'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7030717/posts/default/8746065269494600281'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.khayla.net/2009/05/aku-tidak-menangis-karena.html' title='Aku Tidak Menangis Karena...'/><author><name>Khayla</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09770334815077083282</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='00644589416080721509'/></author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7030717.post-4490475277844022948</id><published>2009-05-18T07:48:00.003+08:00</published><updated>2009-05-18T07:56:49.394+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kisah'/><title type='text'>Unta Betina, Sedekah yang Mwmbawa Berkah</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Judul asli: &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;The Camel Given in Charity&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Penutur Kisah: &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Dr. Saleh as-Saleh&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya ingin berbagi kisah singkat ini bersama anda, yang dibacakan kepada kita oleh Dr. Saleh as-Saleh rahimahullah pada website beliau, Understand Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau memulai:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Inginkah kalian mendengar sebuah kisah nyata yang terjadi sekitar seratus tahun yang lalu (di Saudi)? Baiklah. Ini adalah kisah nyata! Ini adalah kisah nyata!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belaiu melanjutkan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bismillahir Rahmanir Rahim. Kisah ini terjadi sekitar seratus tahun yang lalu dan juga disiarkan di stasiun radio. Ini mengenai seorang laki-laki yang dipanggil Ibnu Jad’an. Ia berkata selama musim semi ia selalu pergi keluar. Ia melihat unta-unta gemuk yang baik dan sehat dan ambingnya (tempat susu) penuh hingga terlihat hendak pecah. Kapanpun anak unta mendekati induknya, susu induknya mengalir karena berlimpahnya karunia, dan berlimpahnya kebaikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka aku (Ibnu Jad’an) melihat kepada salah satu unta betinanya dengan anak-anaknya dan aku teringat tetanggaku yang miskin dan memiliki tujuh orang anak perempuan yang masih belia. Maka aku berkata kepada diriku, Demi Allah aku akan memberikan unta ini dan anaknya sebagai sedekah kepada tetanggaku – dan kemudian dia membaca ayat dimana Allah berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-size:180%;font-family:traditional arabic;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;لَن تَنَالُواْ الْبِرَّ حَتَّى تُنفِقُواْ مِمَّا تُحِبُّونَ&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;“Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebahagian harta yang kamu cintai.”&lt;/span&gt; (QS Al-Imran [3] : 92)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan yang paling kucintai diantara binatang ternakku adalah unta betina ini. Maka aku pun membawanya beserta anaknya dan mengetuk pintu rumah tetanggaku. Aku mengatakan kepadanya untuk menerimanya sebagai hadiah dariku. Aku melihat wajahnya berbinar penuh kebahagiaan dan ia tidak dapat mengatakan apapun sebagai jawabannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka ia pun mengambil manfaat dari susunya dan menggunakannyanya untuk memuat kayu di atas punggungnya, menunggu anak-anak unta tumbuh besar agar dapat dijualnya. Setelahnya ia mendapatkan banyak kebaikan dari unta ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah musim semi berlalu, musim panas datang dengan (udara) keringnya, maka para Badui mulai mencari air dan rumput. Kami mengumpulkan perbekalan kami dan pergi mencari air, dan duhul  atau lubang-lubang yang terdapat di dalam bumi terdapat di bawah tanah menuju ke tempat air yang tertahan di bawah tanah. Mulut (lubang) terdapat di permukaan tanah, sebagaimana yang sangat dikenal oleh suku Badui.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku (Ibnu Jad’an) masuk ke dalam salah satu dari lubang-lubang tersebut untuk mendapatkan air untuk minum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dr. Saleh melanjutkan: “dan ketiga orang anak Ibnu Jad’an menunggunya diatas lubang. Namun dia tidak kembali. Ketiga anaknya menunggunya sehari, dua hari, dan tiga hari dan akhirnya merasa putus asa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka berkata mungkin ia telah digigit oleh ular dan mati atau ia hilang (terperosok) ke bawah bumi dan hancur.  Mereka, naudzubillah, menunggu kehancurannya. Mengapa? Karena mereka serakah untuk segera membagikan harta warisannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka mereka pun kembali ke rumah dan membagi apa yang Ibnu Jad’an tinggalkan diantara mereka. Kemudian mereka teringat bahwa ayah mereka memberikan unta betina kepada tetangga mereka yang miskin. Mereka mendatangi tetangga tersebut dan mengatakan kepadanya agar lebih baik dia mengembalikan lagi unta betina tersebut dan mengambil unta lain sebagai gantinya, atau mereka akan mengambilnya secara paksa dan meninggalkannya tanpa sesuatu pun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetangga tersebut mengatakan akan mengadukan kepada ayah mereka. Maka mereka pun memberitahukan kepadanya bahwa ia (Ibnu Jad’an) telah wafat. Tetangga tersebut bertanya bagaimana dan dimana Ibnu Jad’an meninggal dan mengapa mereka tidak mengabarkan kepadanya. Mereka kemudian menjelaskan bagaimana Ibnu Jad’an masuk ke dalam lubang bawah tanah di gurun dan tidak pernah keluar lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetangga itu berkata: “Demi Allah bawa aku ke tempat itu dan ambil unta betinamu dan lakukan apapun kalian inginkan dengannya. Aku tidak menginginkan untamu sebagai balasannya!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka pun mengatarnya dan ketika dia melihat tempat tersebut, dia pergi dan membawa sebuah tali, menyalakan lilin, mengikatnya di luar lubang, dan kemudian mulai merangkak turun dengan punggungnya hingga mencapai tempat dimana dia dapat merangkak dan berguling. Akhirnya aroma kelembaban (tercium) semakin dekat dan tiba-tiba ia mendengar suara seorang laki-laki di dekat air mengerang dan merintih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia mendekat dan terus mendekat ke arah suara tersebut dalam kegelapan, meraba-raba dengan tangannya sampai menyentuh laki-laki tersebut. Ia mengecek nafasnya, dan Ibnu Jad’an masih bernafas setelah satu minggu (berada di bawah tanah)! Ia menarik Ibnu Jad’an keluar, menutup matanya untuk melindungi dari cahaya matahari. Ia memberinya makan dengan beberapa kurma, melembabkannya (terlebih dahulu) dengan air, dan memberinya minum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian ia membawa Ibnu Jad’an kembali ke rumahnya dan perlahan-lahan Ibnu Jad’an pulih sedangkan anak-anaknya tidak mengetahuinya. Ia kemudian bertanya kepada Ibnu Jad’an: “Ceritakan kepadaku, Demi Allah, selama satu minggu engkau berada di bawah tanah dan engkau tidak mati?!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku akan menceritakan sebuah kisah yang aneh.” Ibnu Jad’an menjelaskan. “Ketika aku turun aku tersesat dan gelombang menyergapku dari segala arah dan aku berkata kepada diriku lebih baik aku tetap tinggal di dekat air yang telah kujumpai. Dan aku pun mulai minum dari air itu, namun rasa lapar tanpa ampun dan air tidak dapat menggantikannya. Kemudian setelah tiga hari kelaparan semakin menjadi-jadi dan terasa di setiap bagian (tubuh). Saat aku tengah berbaring di atas punggungnku, aku berserah diri kepada Allah dan meletakkan segala urusanku di tangan-Nya dan seketika aku merasakan hangatnya susu mengalir ke dalam mulutku. Lalu aku duduk di tengah kegelapan dan aku melihat sebuah kendi mendekat ke mulutku. Aku minum darinya sampai merasa cukup dan kendi itu pun menjauh. Hal ini terjadi tiga kali dalam sehari, namun dua hari terkahir ia berhenti dan aku tidak tahu apa yang terjadi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetangganya pun kemudian mengabarkan kepadanya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jika engkau mengetahui alasannya (mengapa kendi berisi susu itu tidak datang lagi –pent.), engkau akan merasa takjub! Anak-anakmu mengira engkau telah mati dan mereka datang kepadaku dan mengambil unta betina yang darinya Allah subhanahu wata’ala memberikan susunya untukmu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang Muslim berada di bawah naungan shadaqah-nya. Allah berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-size:180%;font-family:traditional arabic;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;وَمَن يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَل لَّهُ مَخْرَجاً وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ وَمَن يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;“Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.”&lt;/span&gt; (QS Ath-Thalaq [65] : 2.3)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Simak Audio: &lt;a href="http://understand-islam.net/audio/Sources%20of%20Inspiration%20.%20-%20.%204.%20Stories%20of%20Muslims/04-%20The_Camel_Given_In_Charity_dec_22_07.mp3"&gt;The Camel Given in Charity&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7030717-4490475277844022948?l=www.khayla.net' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.khayla.net/feeds/4490475277844022948/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.khayla.net/2009/05/unta-betina-sedekah-yang-mwmbawa-berkah.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7030717/posts/default/4490475277844022948'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7030717/posts/default/4490475277844022948'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.khayla.net/2009/05/unta-betina-sedekah-yang-mwmbawa-berkah.html' title='Unta Betina, Sedekah yang Mwmbawa Berkah'/><author><name>Khayla</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09770334815077083282</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='00644589416080721509'/></author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7030717.post-2678007756479742418</id><published>2009-05-17T08:45:00.006+08:00</published><updated>2009-05-18T09:19:49.394+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kisah'/><title type='text'>Kisah Seuntai Kalung Mutiara</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Judul Asli: The Pearl Necklace&lt;br /&gt;Dinukil dari: ‘Gems and Jewels From the Salaf’&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote style="color: rgb(0, 0, 102);"&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span style=";font-family:traditional arabic;font-size:150;"  &gt;هَلْ جَزَاء الْإِحْسَانِ إِلَّا الْإِحْسَانُ &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;"&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan (pula)&lt;/span&gt;." (QS Ar-Rahman : 60)&lt;/span&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;object width="445" height="364"&gt;&lt;param name="movie" value="http://www.youtube.com/v/5xuoeAg-O04&amp;amp;hl=en&amp;amp;fs=1&amp;amp;border=1"&gt;&lt;param name="allowFullScreen" value="true"&gt;&lt;param name="allowscriptaccess" value="always"&gt;&lt;embed src="http://www.youtube.com/v/5xuoeAg-O04&amp;amp;hl=en&amp;amp;fs=1&amp;amp;border=1" type="application/x-shockwave-flash" allowscriptaccess="always" allowfullscreen="true" width="445" height="364"&gt;&lt;/embed&gt;&lt;/object&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Qadhi Abu Bakar Muhammad bin Abdul Baqi al-Anshari tinggal di Makkah. Setelah melewati waktu yang lama tanpa makanan lebih dari apa yang bisa ditahannya dia menjadi kelaparan dan tidak ada sesuatu yang dapat ditemukan untuk menghilangkan rasa laparnya. Ketika ia berjalan di kota Makkah memikirkan keadaannya, ia menemukan sebuah sebuah tas sutera yang diikat oleh tali sutera pula. Lalu ia mengambilnya dan membawanya pulang ke rumah. Disana ia membuka tas tersebut dan mendapatkan seuntai kalung mutiara yang tidak pernah ia lihat yang seindah dan dan bernilai seperti kalung itu selama hidupnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, jika dia merasa begitu bergembira menemukan barharga berharga seperti itu, kegembiraan itu seketika menghilang, karena ketika ia keluar ke jalan, ia bertemu dengan seorang tua yang mengumumkan bahwa ia telah kehilangan sebuah tas sutera yang berisi kalung yang sangat berharga. Orang tua tersebut berkata bahwa tersedia hadiah sebesar 500 dinar bagi orang yang mengembalikan tas beserta kalung itu. Banyak orang telah diuji dengan tes serupa (maksudnya pencarian kalung tersebut -&lt;span style="font-size:85%;"&gt;pen&lt;/span&gt;t) mengalami kegagalan, khususnya orang-orang miskin dan orang-orang sangat tergoda dengan nilai benda tersebut. Namun tidak demikian halnya dengan Imam Abu Bakar. Bukannya memikirkan keadaan dirinya, mengajak orang tua itu ke rumahnya dan memintanya untuk menggambarkan tas tersebut, tali pengikat tas, mutiara, serta rantai pengikat mutiara tersebut. Orang tua itu tentu saja memberikan gambaran yang tepat mengenai segala hal, sehingga Imam Abu Bakar mengambil benda yang hilang tersebut dan memberikan kepadanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang tua itu segera mengambil uang 500 dinar dan mencoba memberikannya kepada Imam Abu Bakar. Namun Imam Abu Bakar menolaknya dan mengatakan bahwa adalah kewajibannya dalam agama untuk mengembalikan barang yang hilang tersebut dan oleh sebab itu tidak pantas baginya untuk mengambil hadiah setelah memenuhi kewajiban tersebut. Orang tua tersebut berusaha untuk memaksa selama beberapa saat, akan tetapi Imam Abu Bakar bersikeras bahwa ia tidak akan mengambil uang itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang tua itu pun kemudian pamit dan pergi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak lama setelahnya, Imam Abu Bakar berpikir untuk mencari kehidupan yang lain dan sumber penghidupan yang baru, ia meninggalkan kota Makkah dan menjadi penumpang sebuah Kapal. Dalam perjalanannya, kapal tersebut tenggelam. Dan sebagai akibatnya banyak orang yang meninggal, tenggelam besama kapal ke dasar laut. Kapal tersebut pecah berkeping-keping, dan dengan susah payah Imam Abu Bakar berhasil berpengangan pada salah satu potongan kapal dan tetap mengapung. Ia terus berpegangan pada potongan kapal tersebut selama waktu yang panjang dan ketika ia terdampar pada sebuah pulau yang berrpenghuni, ia tidak mengingat berapa lama ia telah mengapung sendirian di tengah laut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai orang baru di pulau itu, ia tidak mengenal seorang pun, dan ia membutuhkan tempat untuk beristirahat dan memulihkan dirinya. Ia duduk di sebuah Masjid. Ketika duduk di dalam masjid sambil membaca Al-Qur’an banyak orang yang mendengarkan dan mendekatinya, memintanya untuk mengajarkan Al-Qur’an. Dia merasa sangat gembira mengajar mereka. Dan sebagai balasan atas jasanya (mengajar) mereka membayarkan dengan sejumlah besar uang. Kemudian dia menemukan mushaf Al-Qur’an. Akhirnya ia mendapatkan kesempatan untuk membaca langsung dari Al-Qur’an dan tidak sekedar membacanya berdasarkan ingatannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata setidaknya sebagian besar penduduk pulau tersebut buta huruf. Melihat ia bisa membaca, pemimpin orang-orang itu mendekatinya dan bertanya apakah dia dapat menulis. Dia membenarkannya. Maka orang-orang itu pun berkata; ”Ajarilah kami menulis.”  Mereka kemudian membawa anak-anak dari segala umur kepadanya dan dia kemudian menjadi guru mereka. Dan dia (imam Abu Bakar) kembali mendapat bayaran yang sangat besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Merasa senang dengan kepribadian dan ilmu sang pendatang baru, pemimpin pulau itu mendekatinya dan berkata: ”Diantara kami hidup seorang gadis muda yatim yang kaya, dan kami ingin engkau menikahinya.” Pada awalnya Imam Abu Bakar menolaknya namun mereka terus memaksanya. Akhirnya ia menyerah dan setuju untuk menikahi gadis itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada hari pernikahannya, pemimpin pulau itu menghadirkan pengantin kehadapan Imam Abu Bakar. Dengan sorot mata penuh takjub, ia mulai menatap pada kalung yang dikenakan gadis itu. Begitu lama ia terpaku menatapnya hingga pemimpin pulau itu berkata: ”Engkau telah menyakiti hati gadis ini, karena bukannya menatapnya engkau malah menatap kalungnya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Abu Bakar kemudian menceritakan kisahnya dengan seorang laki-laki tua di Makkah. Orang-orang yang hadir lalu bersyahadat dan bertakbir. Suara mereka begitu keras hingga dapat terdengar oleh seluruh penghuni pulau tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Abu Bakar berkata, ”Ada apa dengan kalian?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka berkata: ”Orang tua yang mengambil kalung itu darimu adalah ayah dari gadis ini dan ia selalu berkata: ’Saya belum pernah menemukan seorang Muslim yang sejati dan ikhlas di dunia ini kecuali orang yang mengembalikan kalung ini’, dan dia selalu berdoa: ”Ya Allah, pertemukanlah aku dengan laki-laki itu agar aku dapat menikahkan puteriku dengannya.’” Dan kini, hal tersebut menjadi kenyataan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Abu Bakar tetap hidup manakala isteri dan anak-anaknya meninggal, dan mewarisi kalung tersebut. Dan kemudian dia menjualnya seharga 100.000 dinar. Ia menjadi seorang yang kaya raya di akhir hidupnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dr. Saleh As-Saleh dalam audio lecture beliau juga membacakan kisah ini. Beliau berkata bahwa ini adalah sebuah kisah yang menakjubkan yang dibawakan oleh Ibnu Rajab dalam komentarnya terhadap biografi Qadhi Abu Bakar Muhammad bin Abdul Baqi (wafat 535 H) dalam Tahabaqat al-Hanabilah, sebagaimana yang dikisahkan Al-Qadhi Abu Bakar kepada Al-Baghdadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Audio lecture dari Dr. Saleh as-Saleh bisa anda simak di bawah ini:&lt;br /&gt;&lt;a href="http://understand-islam.net/audio/Sources%20of%20Inspiration%20.%20-%20.%204.%20Stories%20of%20Muslims/03-%20Story%20of%20the%20Necklace.mp3"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;The Pearl Necklace&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7030717-2678007756479742418?l=www.khayla.net' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='enclosure' type='audio/mpeg' href='http://understand-islam.net/audio/Sources%20of%20Inspiration%20.%20-%20.%204.%20Stories%20of%20Muslims/03-%20Story%20of%20the%20Necklace.mp3' length='0'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.khayla.net/feeds/2678007756479742418/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.khayla.net/2009/05/pearl-necklace.html#comment-form' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7030717/posts/default/2678007756479742418'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7030717/posts/default/2678007756479742418'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.khayla.net/2009/05/pearl-necklace.html' title='Kisah Seuntai Kalung Mutiara'/><author><name>Khayla</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09770334815077083282</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='00644589416080721509'/></author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7030717.post-6202490921311077692</id><published>2009-04-17T09:46:00.004+08:00</published><updated>2009-05-17T10:02:45.704+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kisah'/><title type='text'>Kisah Taubat Malik bin Dinar</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Judul: &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kisah Taubat Malik bin Dinar&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Penulis: &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Ibnu Qudamah&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Rujukan: &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kitab at-Tawwabiin (223-224)&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Sumber: &lt;a style="font-weight: bold;" href="http://www.theclearpath.com/"&gt;The Clear Path&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku seorang polisi dan menyenangi minum khamr. Aku membeli seorang budak yang cantik yang melahirkan seorang anak perempuan untukku. Aku sangat mencintai anakku dan ketika dia mulai merangkak dengan kedua tangan dan kakinya aku semakin mencintainya. Setiap kali aku meletakkan minuman keras di hadapanku dia akan datang kepadaku dan menjauhkan minuman itu, atau dia akan menumpahkannya dariku. Ketia dia genap dua tahun dia meninggal. Aku sangat berduka cita atas kepergiannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika datang malam nisfu Sya’ban - itu adalah malam Jum’at –aku tinggal di rumah dan mabuk... Aku tidak melakukan shalat Isya. Kemudian aku bermimpi hari kiamat telah tiba, Sangkakala telah ditiup dan kuburan melontarkan isinya, seluruh manusia dikumpulkan dan aku berada diantara mereka. Aku mendengar sesuatu di belakangku. Aku menoleh dan melihat seekor ular yang sangat besar, berwarna biru kehitaman, mengejajarku dengan mulut terbuka. Aku berlari ketakutan.&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku melewati seorang syaikh yang berpakaian bersih yang memancarkan wangi semerbak. Aku mengucapkan salam kepadanya dan dia pun membalan salamku. Aku berkata kepadanya: ”Wahai Syaikh! Lindungilah aku dari ular ini, semoga Allah melindungimu! Syaikh itu menangis dan berkata: ”Aku lemah dan dia lebih kuat dariku, aku tidak dapat melawannya. Pergilah cepat, mungkin Allah akan mengaugerahimu sesuatu yang akan menyelamatkanmu darinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku pun berbalik dan terus berlari. Aku memanjat salah satu tebing dari tebing-tebing Hari Kiamat memandang pada kobaran api neraka. Aku melihat kengerian di dalamnya dan hampir saja terjatuh ke dalamnya karena takut terhadap ular tersebut. Tetapi sebuah jeritan berteriak kepadaku: Kembalilah! Engkau bukanlah diantara penduduk neraka. Kata-katanya  menenangkan ketakutanku dan aku pun kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun ular itu terus mengejarku. Aku kembali kepada Syaikh dan berkata: ”Wahai Syaikh! Aku memohon kepadamu untuk melindungiku dari ular ini, tetapi engkau tidak melindungiku.” Syaikh itu menangis lagi dan berkata: ”Aku lemah, akan tetapi teruslah menuju gunung ini. Disana terdapat simpanan kaum Muslimin, itu akan menolongmu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku memandang dan melihat gunung bulat yang terbuat dari perak dan diatasnya terdapat kubah di atas lembah permata dan tirai-tirai yang tergantung, dan setiap kubah memiliki dua pintu yang besar berwarna merah keemasan berkerak taburan zamrud dan mutiara dan digantungi tirai-tirai sutera.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika aku melihat gunung itu aku berlari kepadanya dengan ular yang terus mengejarku. Ketika aku mendekati gunung itu salah satu malaikat berteriak: ”Angkatlah tirai-tirai, bukalah pintu-pintu, dan awasilah! Mudah-mudahan orang yang malang ini mempunyai sesuatu dalam simpanan bersamamu yang dapat menolongnya dari musuhnya.” Maka tirai-tirai pun diangkat, pintu-pintu dibuka, dan dari tempat itu terlihat anak-anak dengan wajah-wajah laksana bulan purnama. Ular itu nyaris menyusulku dan aku hampir putus asa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah seroang dari anak-anak itu berkata: ”Celaka engkau! Kemarilah dan lihatlah kalian semua! Musuhnya sangat dekat dengannya.” Kemudian anak-anak itu keluar secara bergelombang, dan diatara mereka terdapat anak perempuanku yang telah meninggal dua tahun yang lalu. Ketika dia melihatku dia menangis dan berkata: ”Ayahku, Demi Allah!” Kemudian dia melompat ke dalam sebuah kereta cahaya dan datang mendekatiku dengan kecepatan laksana anak panah. Dia meletakkan tangan kirinya di tangan kananku dan aku berpegang kepadanya. Kemudian dia mengulurkan tangan kirinya ke arah ulat tersebut dan ular itu pun berbalik dan pergi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anakku mengajakku duduk, kemudian dia duduk dipangkuanku dan mulai membelai jenggotku seraya berkata: ”Wahai ayahku!&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-family:traditional arabic;font-size:180%;"  &gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ آمَنُوا أَن تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ اللَّهِ&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; "Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah?” (QS Al-Hadid [57] : 16). Aku pun menangis dan berkata: “Wahai anakku, kalian memahami Al-Qur’an?” Dia menjawab: “Ayahku! Kami mengetahuinya lebih baik darimu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku berkata kepadanya: ”Ceritakanlah kepadaku tentang ular yang hendak menghancurkanku.” Dia berkata: “Itu adalah amal-amal burukmu yang engkau bangun dan menjadi kuat, dan mereka akan membawamu ke neraka.” Aku bertanya: “Bagaimana dengan Syaikh yang aku lewati?” Dia menjawab: “Wahai Ayahku! Itu adalah amal kebaikanmu yang lemah sehingga mereka tidak dapat mengatasi dosa-dosamu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku berkata: “Wahai anakku! Apa yang kalian lakukan di gunung ini?” Dia menjawab: “Kami adalah anak-anak orang-orang Muslim, kami diberi tempat tinggal ini sampai datangnya Hari Kiamat. Kami menanti kedatangan kalian, dan kami memohon syafaat bagi kalian.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malik (bin Dinar) kemudian berkata: “Lalu aku terbangun dan melihat fajar telah tiba. Lalu kulemparkan minuman itu dariku dan kuhancurkan gelas minumanku, dan aku pun bertaubat kepada Allah.”&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7030717-6202490921311077692?l=www.khayla.net' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.khayla.net/feeds/6202490921311077692/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.khayla.net/2009/04/kisah-taubat-malik-bin-dinar.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7030717/posts/default/6202490921311077692'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7030717/posts/default/6202490921311077692'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.khayla.net/2009/04/kisah-taubat-malik-bin-dinar.html' title='Kisah Taubat Malik bin Dinar'/><author><name>Khayla</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09770334815077083282</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='00644589416080721509'/></author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7030717.post-7037327151333883787</id><published>2008-03-03T08:37:00.002+08:00</published><updated>2009-05-16T17:37:52.104+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kisah'/><title type='text'>Antara Syirik dan Dosa Besar</title><content type='html'>&lt;div  style="text-align: justify;font-family:arial;"&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:100%;" &gt;Kisah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;Mungkin sebagian orang terkadang merasa kaget dan terperanjat, bahkan bersedih hati jika melihat banyaknya para pezina dan peminum khamr, namun mereka tidak Tersentuh ketika melihat banyaknya orang yang mencari berkah di kuburan serta mengalamatkan berbagai macam ibadah ke objek-objek syirik tersebut. Padahal zina dan minum khamr (meski) melakukan perbuatan dosa besar, namun tidak menyebabkan pelakunya keluar dari Islam. Sementara mengalamatkan sebuah ibadah kepada selain Allah adalah sirik yang membuat pelakunya mati kafir jika dia mati dalam keadaan melakukan perbuatan syirik tersebut. Oleh sebab itu, para ulama rabbani menjadikan pelajaran aqidah sebagai asas yang paling mendasar.&lt;/span&gt; &lt;span class="fullpost"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tersebutlah seorang syaikh yang telah menulis sebuah kitab yang menjelaskan tentang urgensi tauhid. Dia menjelaskannya kepada para muridnya dan terus mengulang-ulang pembahasannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu hari murid-muridnya berkata, “Wahai Syaikh, kami berharap Anda mau mengganti pelajaran yang Anda sampaikan kepada kami dengan materi-materi yang lain, seperti kisah, sirah, dan sejarah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikh itu menanggapi, “Insya Allah akan saya pertimbangkan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keesokan harinya dia keluar menemui murid-muridnya dengan wajah yang menyiratkan kesedihan dan beban pikiran. Merekapun bertanya tentang hal yang menyebabkan beliau bersedih. Dia menjawab, “Aku mendengar bahwa seorang warga kampung tetangga menempati rumah baru, dia merasa takut diganggu jin, lalu dia menyembelih seekor ayam jantan di ambang pintu untuk mendekatkan diri kepada jin, dan aku telah mengirim seseorang untuk mencari kebenaran berita tersebut.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata para muridnya tidak bereaksi apapun mendengar berita tersebut. Mereka hanya berdoa memintakan hidayah bagi orang tersebut, dan mereka hanya terdiam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keesokan harinya syaikh kembali menemui mereka, dan berkata: “Kami telah mendapatkan kejelasan berita tersebut, ternyata peristiwanya tidak seperti yang aku dengar. Lelaki tersebut tidak pernah menyembelih seekor ayam jantan untuk mendekatkan diri kepada jin, tapi yang dilakukannya adalah berzina dengan ibunya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kontan mereka gempar dan marah. Mereka mencaci-memaki dan mengoceh banyak. Mereka berkata, “Perbuatannya harus Digugat, dia harus dinasihati, dia hrus dihukum.” Dan banyak lagi umpatan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian syaikh berkata, “Sungguh aneh kalian ini. Begitukah reaksi kalian mengingkari orang yang terjerumus dalam satu perbuatan dosa besar padahal perbuatan itu tidak mengeluarkan nya dari Islam. Tapi kalian tidak mengingkari orang yang terjerumus dalam kemusyrikan, menyembelih untuk selain Allah Azza wa Jalla, dan mengalamatkan ibadah kepada selain Allah Azza wa Jalla?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Murid-muridnya terdiam. Kemudian syaikh menunjuk salah seorang dari mereka sambil berkata, “Bangun dan ambilkan kitab tauhid, kita akan membahasnya dari awal!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syirik adalah dosa yang paling besar. Allah Azza wa Jalla tidak mengampuni perbuatan syirik selamanya – selagi pelakunya tidak mau bertaubat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah Azza wa Jalla berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;“sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kelaliman yang besar.” (QS Luqman [31] : 13)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan surga diharamkan bagi para pelaku kemusyrikan. Kaum musyrikin akan kekal selamanya dalam neraka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah Azza wa Jalla berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;“Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang lalim itu seorang penolong pun.” (QS Al-Ma’idah [5] : 72)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan barangsiapa berbuat syirik, maka kemusyrikannya akan menghancurkan semua ibadahnya, shalatnya, puasanya, hajinya, jihadnya dan sedekahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;وَلَقَدْ أُوحِيَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;“Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu: "Jika kamu mempersekutukan (Tuhan), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi.” (QS Az-Zumar [39] : 65)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: Irkab Ma’anaa (terjemahan Indonesia: Bahtera Tauhid; Kumpulan Hikmah dan Kisah seputar Tauhid) oleh: Dr. Muhammad bin Abdurrahman Al-Ariifi, Penerbit: At-Tibyan, hal. 40 -43.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7030717-7037327151333883787?l=www.khayla.net' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.khayla.net/feeds/7037327151333883787/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.khayla.net/2008/03/antara-syirik-dan-dosa-besar.html#comment-form' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7030717/posts/default/7037327151333883787'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7030717/posts/default/7037327151333883787'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.khayla.net/2008/03/antara-syirik-dan-dosa-besar.html' title='Antara Syirik dan Dosa Besar'/><author><name>Khayla</name><email>noreply@blogger.com</email></author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7030717.post-5867188179840118010</id><published>2008-02-06T13:03:00.005+08:00</published><updated>2009-05-17T10:02:26.871+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kisah'/><title type='text'>Buah dari Kesabaran</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div  style="text-align: justify;font-family:arial;"&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:100%;" &gt;“Barangsiapa yang Meninggalkan Sesuatu Karena Allah, Niscaya Allah akan Menggantikan dengan Sesuatu yang Lebih Baik Darinya.”&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:100%;" &gt;Penulis : Syaikh Ali Hasan Al-Halabi&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Guru dari guru kami [1] seorang ulama dan sejarawan besar Syaikh Muhammad Raghib At-Tabbakh rahimahullah, menyebutkan kisah ini di dalam bukunya I’lam an-Nubaala bi Taarikh Halaab Ash-Shuhaaba (7/231).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikh Ibrahim Al-Hilali Al-Halabi – seorang ulama yang shalih dan mulia, pergi ke  Universita Al-Azhar untuk menuntut ilmu. Ketika menuntut ilmu, dia menjadi sangat miskin dan biasa bergantung pada sedekah. Suatu ketika, beberapa hari telah berlalu dan dia tidak menemukan sesuatu pun untuk dimakan, yang membuatnya kelapatan&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka ia keluar dari kamarnya di Al-Azhar untuk meminta sedikit makanan. Dia menemukan sebuah pintu terbuka yang darinya keluar bau makanan sedap. Maka dia pun melewati pintu dan mendapati dirinya berada di sebuah dapur yang kosong. Disana dia menemukan makanan yang mengundang selera, lalu ia mengambil sendok dan memasukkannya ke dalam makanan, tetapi ketika ia mengangkat sendok tersebut ke mulutnya, dia terdiam sejenak karena kemudian dia menyadari bahwa dia tidak mendapatkan izin untuk memakan makanan tersebut. Maka dia pun meninggalkannya kembali ke kamar asrama Al-Azhar, tetap merasa kelaparan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak sampai satu jam berlalu, salah seorang gurunya, ditemani oleh seorang laki-laki, datang ke kamarnya. “Orang yang baik ini datang kepadaku untuk mencari penuntut ilmu yang shalih yang akan dinikahkan dengan puterinya, dan saya telah memilihmu untuknya. Bangkitlah dan ikutilah bersama kami ke rumahnya dimana kita bisa melangsungkan pernikahan antara kamu dengan puterinya, dan kamu dapat menjadi bagian dari rumahnya.” Maka Syaikh Ibrahim pun berusaha bangkit dari tidurnya, mentaati perintah gurunya dan pergi bersama mereka. Dan kemudian mereka membawanya persis ke rumah yang sama, rumah yang dimasukinya dan memasukkan sendok ke dalam makanannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah dia duduk, sang ayah lalu menikahkan dia dengan anak perempuannya dan kemudian makanan pun dibawa keluar. Itu adalah makanan yang sama yang dia masukkan sendok ke dalamnya sebelumnya, makanan yang dia tinggalkan. Namun kini dia makan darinya: ”Saya menahan diri dari memakannya karena saya tidak mendapatkan izin, namun sekarang Allah telah memberikan makanan ini dengan seizin pemilknya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian setelah menyelesaikan studinya, isterinya yang shalihah kebali bersamanya ke Halab. Dan dia melahirkan anak-anak yang shalih baginya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah buah kesabaran, dan akibat dari ketakwaan, sebagaimana Allah berfirman: “Barang siapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan ke luar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.” (QS Ath-Thalaq :2-3)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun bagi mereka yang tergesa-gesa –mereka yang tidak membedakan antara kebenaran dan kedustaan, mencari kehidupan dunia fana yang sia-sia- mereka tidak akan mendapatkan apa-apa kecuali kesedihan dan penyesalan dalam hatinya, karena mereka tidak akan pernah mendapatkan kehidupan dunia, dan tidak juga mereka berhasil dalam pencapaian agama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini karena mereka lupa – atau mungkin mengabaikan – firman Allah: “Bukankah Allah cukup untuk melindungi hamba-hamba-Nya.” Az Zumar 36&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi mereka yang bersabar dan istiqamah dan yang memiliki ketakwaan, mereka akan menguasai kehidupan dunianya dan kemuliaan dan kehormatan bersama Tuhannya pada hari pengadilan. Dan Allah berfirman: “Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS Al-Baqarah : 155). Dan Dia berfirman: “Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (QS Az-Zumar : 10)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;____________&lt;br /&gt;Catatan kaki:&lt;br /&gt;[1] Penulis merujuk kepada Syaikh Al-Albani, murid dari Syaikh Muhammad Raaghib At-Tabbaakh.&lt;br /&gt;Sumber: www.al-ibaanah.com&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7030717-5867188179840118010?l=www.khayla.net' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.khayla.net/feeds/5867188179840118010/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.khayla.net/2008/02/buah-dari-kesabaran.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7030717/posts/default/5867188179840118010'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7030717/posts/default/5867188179840118010'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.khayla.net/2008/02/buah-dari-kesabaran.html' title='Buah dari Kesabaran'/><author><name>Khayla</name><email>noreply@blogger.com</email></author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry></feed>