Antara Syirik dan Dosa Besar

Posted by Khayla

Mungkin sebagian orang terkadang merasa kaget dan terperanjat, bahkan bersedih hati jika melihat banyaknya para pezina dan peminum khamr, namun mereka tidak Tersentuh ketika melihat banyaknya orang yang mencari berkah di kuburan serta mengalamatkan berbagai macam ibadah ke objek-objek syirik tersebut. Padahal zina dan minum khamr (meski) melakukan perbuatan dosa besar, namun tidak menyebabkan pelakunya keluar dari Islam. Sementara mengalamatkan sebuah ibadah kepada selain Allah adalah sirik yang membuat pelakunya mati kafir jika dia mati dalam keadaan melakukan perbuatan syirik tersebut.....

Karena Fitrah Itu Teramat Mulia

Posted by Khayla

Bagi wanita, dimanapun dia, terlahir pada agama dan budaya apapun, di dalam lubuk hatinya pasti merindukan peran hakiki sebagai seorang isteri, ibu, yang melahirkan, menyusui dan membimbing serta menyaksikan anaknya tumbuh dewasa dengan kebaikan agama dan akhlak. Itulah fitrah, karena sesungguhnya setiap kita lahir di atas fitrah (Islam). Dan fitrah itu adalah karunia terbesar, yang telah menempatkan wanita dalam posisi yang begitu mulia, sebuah kedudukan yang tidak pernah diberikan oleh kebudayaan dan agama manapun di zaman awal peradaban Islam dan setelahnya. Fitrah yang hanya padanyalah letak kehormatan seorang wanita. ...

Gender Relation dalam Paradigma Islam

Posted by Khayla

Sebuah ketersinggungan yang tidak dapat dilupakan begitu saja ketika berada di ruang kelas bersama seorang dosen yang tengah mengusung topik GENDER. Dari beberapa contoh betapa kaum perempuan mendapatkan perlakuan yang tidak adil, hampir semuanya diambil dari negara miskin/terbelakang yang kebetulan beragama Islam. Mungkin jika penjelasan dapat diberikan secara proporsional, hal itu tidak terlalu menjadi masalah, namun akan menjadi masalah besar manakala membahas kondisi itu dan kemudian menarik kesimpulan bahwa agama Islam sangat tidak menghargai wanita. ...

Ilmu Itu Seperti Hujan

Posted by Khayla

“Sesungguhnya perumpamaan petunjuk dan ilmu yang dengannya Allah mengutusku adalah seperti air hujan yang jatuh ke tanah. Di antara tanah tersebut ada yang baik yang menerima air, maka tumbuhlah darinya rerumputan dan pepohonan. Dan tanah itu ada yang keras yang menghimpun air, sehingga dengannya Allah memberikan manfaat kepada manusia, yaitu untuk minum, memberi minum ternak, dan bercocok tanam. Dari tanah itu ada juga yang berupa rawa, tidak menahan air dan tidak pula menumbuhkan tanaman. Demikianlah perumpamaan orang-orang di hadapan agama yang diturunkan Allah SWT ...

Ya Ukhty, Kita Mulia dengan Islam

Posted by Khayla

Salah satu celah besar tempat masuknya musuh-musuh Islam dalam melaksanakan makarnya adalah wanita, merusak pemahaman wanita, yang pada gilirannya merusak tatanan kehidupan rumah tangga yang merupakan inti kehidupan masyarakat, madrasah dini bagi generasi berikutnya. ...

Friday, November 06, 2009

Aku Masuk Neraka karena Tiga



Dikisahkan bahwa salah seorang murid Fudhail bin Iyad mendekati sakaratul maut, maka Fudhail mendatanginya, ia duduk di dekat kepalanya dan mulai membaca surat Yasin.

Muridnya berkata, “Wahai guruku, janganlah membacanya.”

Maka dia pun diam. Kemudian dia mencoba membimbingnya untuk mengucapkan syahadat, dia berkatan ”Ucapkanlah Laa ilaaha illa Allah.”

Dia (muridnya) berkata, ”Aku tidak akan mengatakannya karena aku berlepas diri darinya.” Dia mati di atas perkataan itu.

Fudhail pulang ke rumahnya, dia menangis selama empat puluh hari, tidak meninggalkan rumahnya. Dia melihat muridnya di dalam mimpi diseret ke dalam neraka, dia berkata kepada muridnya: ”Dengan apa Allah menghilangkan pengetahuanmu darimu, padahal kamu salah seorang muridku yang paling berilmu?”

Dia menjawab: ”Dengan tiga hal;

Pertama: Namimah,

Kedua: Iri hati

Ketiga: Aku memiliki penyakit, maka aku mengunjungi dokter dan bertanya kepadanya mengenai penyaktiku. Dia memberitahuku bahwa aku harus minum secangkir khar satu kali setiap tahun, jika tidak maka penyakit itu akan tetap bersamaku, maka aku pun terbiasa meminumnya.”


I Entered the Hellfire because of Three


Author: Ash Shaykh 'Alee al Qaaree
Reference: Fearing the evil ending: P.26


It was narrated that one of the students of al Fudayl ibn ‘Iyaad was close to passing away, so al Fudayl entered upon him, he sat by his head and started reading Surat Yaaseen.

His student said: “My teacher, do not read it.”

So he remained silent. He then tried to get him to say the Shahaadah, he said: “Say Laa Ilaaha ila Allaah.”

He said: “I will not say it because I am free from it.” He died upon that.

Al Fudayl returned to his house, he cried for forty days, not leaving his home. He saw his student in a dream being dragged into the Hell fire, he said to him; “With what did Allaah remove the know-how from you, while you were amongst my most knowledgeable students?”

He responded: “With three things;

The first: Nameemah.


The second: Jealousy.

The third: I had an illness, so I went to a doctor and asked him about it. He told me that I must drink a cup of alcohol once a year, if I do not the illness would remain with me, so I used to drink it.”  


دخلت النار بثلاث


المؤلف: الشيخ علي القاري
الباب: كنوز
المرجع: المقدمة السالمة: ص 26

وقد حكي أن تلميذا لفضيل بن عياض حضرته الوفاة , فدخل عليه الفضيل , وجلس عند رأسه وقرأ سورة " يسن " , فقال يا أستاذي : لا تقرأ هذه. فسكت , ثم لقنه فقال : قل لا إله إلا الله
فقال : لا أقولها لأني بريء منها , ومات على ذلك
فدخل الفضيل منزله , وجعل يبكي أربعين يوما لم يخرج من البيت , ثم رآه في النوم , وهو يسحب به إلى جهنم فقال له : بأي شيء نزع الله المعرفة عنك , وكنت أعلم تلاميذي

قال : بثلاثة أشياء
أولها : النميمة
والثاني : الحسد
والثالث كان لي علة فجئت الى طبيب فسألته عنها , فقال : تشرب في كل سنة قدحا من خمر , فإن لم تفعل تبقى بك العلة , فكنت أشربها.


Sumber: subulassalam.com


Read more...

Monday, November 02, 2009

Kisah Orang yang Berhutang Seribu Dinar


Imam Al-Bukhari meriwayatkan dalam Shahihnya dari Abu Hurairah dari Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bahwa beliau menyebutkan seorang laki-laki dari kalangan Bani Israil yang meminta hutang seribu dinar kepada laki-laki lain yang juga dari Bani Israil. Pemilik uang berkata, 

"Datangkan saksi-saksi kepadaku agar mereka menyaksikannya." 

Laki-laki itu menjawab, "Cukuplah Allah sebagai saksi."

Pemilik uang berkata, "Datangkanlah seorang penjamin." 

Laki-laki itu berkata, "Cukuplah Allah sebagai Penjamin."

Pemilik uang berkata, "Kamu benar."

Lalu pemilik uang memberikan kepadanya untuk jangka waktu tertentu. Penghutang ini pun menyeberangi lautan dan menunaikan kepentingannya, kemudian dia mencari perahu yang memulangkannya karena tempo hutang telah hampir habis. Dia tidak mendapatkan perahu, maka dia mengambil sebatang kayu dan melubanginya. Dia memasukkan seribu dinar ke dalamnya dan sepucuk surat kepada temannya, kemudian dia menutupnya dengan kuat dan membawanya ke laut.

Dia berkata, "Ya Allah sungguh Engkau mengetahui aku berhutang kepada fulan seribu dinar. Dia meminta seorang penjamin kepadaku, lalu aku menjawabnya, 'Cukuplah Alah sebagai Penjamin.' Dia rela dengan-Mu. Dia meminta seorang saksi kepadaku, maka aku menjawabnya, 'Cukuplah Allah sebagai saksi.' Lalu dia rela dengan-Mu. Dan aku telah berusaha mendapatkan perahu untuk memberikan haknya, tetapi aku tidak mendapatkannya. Dan sekarang aku menitipkannya kepada-Mu."

Lalu dia melemparkannya ke laut hingga ia masuk ke dalamnya, lalu dia kembali. Dalam kondisi tersebut dia terus mencari perahu agar bisa pulang ke kotanya. Lalu pemilik uang keluar melihat-lihat, mungkin ada sebuah perahu yang datang membawa uangnya. Dia pun menemukan kayu yang berisi uang tersebut. Dia mengambilnya sebagai kayu bakar untuk keluarganya. Manakala dia menggergaji kayu itu, dia menemukan uangnya dan sepucuk surat.

Selanjutnya, laki-laki yang berhutang itu pulang dengan membawa seribu dinar. Dia berkata kepada pemilik uang,

"Aku terus berusaha mencari perahu agar bisa membawa uangmu, tetapi aku tidak mendapatkannya sehingga aku datang kepadamu sekarang ini." 

Pemilik uang bertanya, "Apakah kamu mengirim sesuatu kepadaku?"

Dia menjawab. "Aku katakan kepadamu bahwa aku tidak mendapatkan perahu sebelum aku datang sekarang ini." 

Pemilik uang berkata, "Sesungguhnya Allah telah menunaikannya untukmu melalui apa yang kamu kirim di kayu itu. Sekarang, ambillah seribu dinarmu ini dengan baik."


A Story of A Man Who Borrowed A Thousand Dinaar

On the authority of Abu Hurairah that The Prophet said, "An Israeli man asked another Israeli to lend him one thousand Dinars. 

The second man required witnesses. The former replied, 'Allah is sufficient as a witness.'

The second said, 'I want a surety.' 

The former replied, 'Allah is sufficient as a surety.'

The second said, 'You are right,' and lent him the money for a certain period. 

The debtor went across the sea. When he finished his job, he searched for a conveyance so that he might reach in time for the repayment of the deb, but he could not find any. So, he took a piece of wood and made a hole in it, inserted in it one thousand Dinars and a letter to the lender and then closed (i.e. sealed) the hole tightly. He took the piece of wood to the sea and said. 'O Allah! You know well that I took a loan of one thousand Dinars from so-and-so. He demanded a surety from me but I told him that Allah's Guarantee was sufficient and he accepted Your guarantee. He then asked for a witness and I told him that Allah was sufficient as a Witness, and he accepted You as a Witness. No doubt, I tried hard to find a conveyance so that I could pay his money but could not find, so I hand over this money to You.' Saying that, he threw the piece of wood into the sea till it went out far into it, and then he went away. Meanwhile he started searching for a conveyance in order to reach the creditor's country.

One day the lender came out of his house to see whether a ship had arrived bringing his money, and all of a sudden he saw the piece of wood in which his money had been deposited. He took it home to use for fire. When he sawed it, he found his money and the letter inside it. 

Shortly after that, the debtor came bringing one thousand Dinars to him and said, 'By Allah, I had been trying hard to get a boat so that I could bring you your money, but failed to get one before the one I have come by.'

The lender asked, 'Have you sent something to me?' 

The debtor replied, 'I have told you I could not get a boat other than the one I have come by.'

The lender said, 'Allah has delivered on your behalf the money you sent in the piece of wood. So, you may keep your one thousand Dinars and depart guided on the right path.' " 


عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ ذَكَرَ رَجُلًا مِنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ سَأَلَ بَعْضَ بَنِي إِسْرَائِيلَ أَنْ يُسْلِفَهُ أَلْفَ دِينَارٍ فَقَالَ ائْتِنِي بِالشُّهَدَاءِ أُشْهِدُهُمْ فَقَالَ كَفَى بِاللَّهِ شَهِيدًا قَالَ فَأْتِنِي بِالْكَفِيلِ قَالَ كَفَى بِاللَّهِ كَفِيلًا قَالَ صَدَقْتَ فَدَفَعَهَا إِلَيْهِ إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى فَخَرَجَ فِي الْبَحْرِ فَقَضَى حَاجَتَهُ ثُمَّ الْتَمَسَ مَرْكَبًا يَرْكَبُهَا يَقْدَمُ عَلَيْهِ لِلْأَجَلِ الَّذِي أَجَّلَهُ فَلَمْ يَجِدْ مَرْكَبًا فَأَخَذَ خَشَبَةً فَنَقَرَهَا فَأَدْخَلَ فِيهَا أَلْفَ دِينَارٍ وَصَحِيفَةً مِنْهُ إِلَى صَاحِبِهِ ثُمَّ زَجَّجَ مَوْضِعَهَا ثُمَّ أَتَى بِهَا إِلَى الْبَحْرِ فَقَالَ اللَّهُمَّ إِنَّكَ تَعْلَمُ أَنِّي كُنْتُ تَسَلَّفْتُ فُلَانًا أَلْفَ دِينَارٍ فَسَأَلَنِي كَفِيلَا فَقُلْتُ كَفَى بِاللَّهِ كَفِيلًا فَرَضِيَ بِكَ وَسَأَلَنِي شَهِيدًا فَقُلْتُ كَفَى بِاللَّهِ شَهِيدًا فَرَضِيَ بِكَ وَأَنِّي جَهَدْتُ أَنْ أَجِدَ مَرْكَبًا أَبْعَثُ إِلَيْهِ الَّذِي لَهُ فَلَمْ أَقْدِرْ وَإِنِّي أَسْتَوْدِعُكَهَا فَرَمَى بِهَا فِي الْبَحْرِ حَتَّى وَلَجَتْ فِيهِ ثُمَّ انْصَرَفَ وَهُوَ فِي ذَلِكَ يَلْتَمِسُ مَرْكَبًا يَخْرُجُ إِلَى بَلَدِهِ فَخَرَجَ الرَّجُلُ الَّذِي كَانَ أَسْلَفَهُ يَنْظُرُ لَعَلَّ مَرْكَبًا قَدْ جَاءَ بِمَالِهِ فَإِذَا بِالْخَشَبَةِ الَّتِي فِيهَا الْمَالُ فَأَخَذَهَا لِأَهْلِهِ حَطَبًا فَلَمَّا نَشَرَهَا وَجَدَ الْمَالَ وَالصَّحِيفَةَ ثُمَّ قَدِمَ الَّذِي كَانَ أَسْلَفَهُ فَأَتَى بِالْأَلْفِ دِينَارٍ فَقَالَ وَاللَّهِ مَا زِلْتُ جَاهِدًا فِي طَلَبِ مَرْكَبٍ لِآتِيَكَ بِمَالِكَ فَمَا وَجَدْتُ مَرْكَبًا قَبْلَ الَّذِي أَتَيْتُ فِيهِ قَالَ هَلْ كُنْتَ بَعَثْتَ إِلَيَّ بِشَيْءٍ قَالَ أُخْبِرُكَ أَنِّي لَمْ أَجِدْ مَرْكَبًا قَبْلَ الَّذِي جِئْتُ فِيهِ قَالَ فَإِنَّ اللَّهَ قَدْ أَدَّى عَنْكَ الَّذِي بَعَثْتَ فِي الْخَشَبَةِ فَانْصَرِفْ بِالْأَلْفِ الدِّينَارِ رَاشِدًا




HR Bukhari dalam Kitabul Kafalah, bab kafalah dan hutang, 4/469, no.2291.

If only we could be as trustworthy of those people...


Read more...

Friday, October 23, 2009

Atas Nama Cinta


Aku memulai tulisan ini, atas nama cinta. Cinta kepadamu, yang membuatku ingin menuliskannya, menjelaskannya, mudah-mudahan kau mengerti.

Seiring berlalunya waktu, dalam lingkup pergaulan keluarga, kerabat, sahabat, perbedaan pendapat dan sudut pandang sering kali berbenturan yang terkadang melahirkan konflik. Konflik yang tidak semestinya ada, jika kita selalu mengembalikan setiap perselisihan kepada pedoman kita, Al-Qur’an, dan Sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, sebagaimana yang dipahami oleh para sahabat, generasi awal yang mendapat pengajaran langsung dari manusia yang mulia, suri tauladan terbaik, Nabi kita Muhammad shallallahu alaihi wasallam.

Pada saat-saat seperti itu, aku terkadang mengatakan sesuatu yang tidak kau sukai. Mungkin karena kau tidak memahami, atau caraku yang keliru dan tidak memahami kondisimu. Dan mungkin terkesan memaksakan kehendak. Tetapi ketahuilah itu karena aku mencintaimu, karenanya aku berusaha menarik tanganmu, manahanmu, agar tidak terlena pada sesuatu yang dapat menjerumuskanmu dan mungkin akan kau sesali nanti.

Setelah mengalami begitu banyak pengalaman hidup, aku memahami satu hal. Persabahatan yang sangat berarti, bukan pada saat berbagi sedih dan bahagia, bukan hanya saling mendukung di saat susah dan senang. Akan tetapi seberapa perduli engkau, ketika sahabatmu melakukan kesalahan, dan dengan tegas mengatakan kepadanya, “berhentilah, karena kau telah keliru melangkah,” dan bukannya membelanya dan membiarkannya berlarut-larut dalam kesalahan sedangkan engkau mengetahuinya.

Cinta yang sebenarnya bukanlah kasih sayang menggebu, bunga dan puisi-puisi manis seperti yang dikisahkan pada roman-roman picisan. Cinta, menggerakkan seseorang untuk mencegah orang yang dicintainya untuk jatuh pada kesalahan yang dapat membinasakan dirinya. Cinta menggerakkan seseorang untuk terus mengarahkan orang yang dicintai, agar senantiasa berada dalam kebaikan – seperti seorang ibu yang terpaksa harus menghukum anaknya agar jera - meski untuk itu dia harus menerima kepahitan, karena kebenaran tidak selamanya dipahami sebagai sebuah kebaikan, ketika seseorang sedang terlena.

Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:
"Seorang mukmin itu cermin bagi saudaranya, dan seorang mukmin adalah saudara bagi seorang mukmin lainnya, Membantu memperbaikinya dari kesalahannya dan memperhatikannya dari belakang." (HR Bukhari dalam kitab Adabul Mufrad, dihasankan oleh Syaikh al-Albani dalam Ash-Shahihah [6/923])

Terkadang aku harus menaris nafas dalam-dalam, agar sesak tidak lagi terlalu menghimpit, karena ada saat-saat di mana niat baik itu, usaha untuk menunjukkan kebaikan dan menjelaskan kesalahan, diartikan sebagai wujud kebencian, cemburu, hasad, dikomentari dengan sinis, seolah aku tidak suka melihatmu bersenang-senang dengan caramu meski sesaat. Sesuatu yang membuatku harus menghembuskan lagi nafas itu sekuat-kuatnya, agar tidak tertinggal perih yang membuatku berhenti mencintaimu. Aku ingin aku tak berhenti, karena aku berharap Allah akan ridha pada cinta karena Dia, dan merahmatiku dan dirimu dengan naungan di hari yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya, seperti yang dikatakan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam:

“Ada tujuh golongan yang bakal dinaungi oleh Allah di bawah naungan-Nya, pada hari yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya, yaitu: Pemimpin yang adil, pemuda yang tumbuh dengan ibadah kepada Allah (selalu beribadah), seseorang yang hatinya bergantung kepada mesjid (selalu melakukan shalat jamaah di dalamnya), dua orang yang saling mengasihi di jalan Allah, keduanya berkumpul dan berpisah karena Allah, seorang yang diajak perempuan berkedudukan dan cantik (untuk berzina), tapi ia mengatakan: Aku takut kepada Allah, seseorang yang memberikan sedekah kemudian merahasiakannya sampai tangan kanannya tidak tahu apa yang dikeluarkan tangan kirinya dan seseorang yang berzikir (mengingat) Allah dalam kesendirian, lalu meneteskan air mata.” (Mutafaq alaihi)

Adalah tabiat manusia, yang selalu berkeluh kesah. Juga adalah tabiat manusia, pada satu keadaan, tak ingin terlihat salah sepenuhnya karena itu akan membuatnya terkesan rapuh, dan karenanya selalu berusaha mencari sebuah penjelasan, alasan, alibi, agar kesalahannya dapat diabaikan, dilupakan. Dan juga menjadi tabiat manusia, terkadang tidak rela menerima sebuah peringatan... nasihat, dari orang lain, terlebih jika yang mengatakannya adalah seorang yang menurutnya mempunyai ilmu lebih rendah, lebih muda usianya, dan lebih rendah kedudukannya. Hanya saja satu hal yang tidak pernah boleh diabaikan. Kebenaran adalah kebenaran, dari manapun dan dari siapapun datangnya. Seseorang yang lebih muda, lebih rendah kedudukannya tidak membatalkan kebenaran. Sesuatu tidak menjadi benar karena dikatakan oleh seseorang atau sekelompok orang tertentu. Akan tetapi kebenaran adalah sesuatu yang didukung dengan ilmu, dengan dalil.

Jika aku menyampaikan sesuatu padamu, bukan berarti aku lebih baik darimu. Tidak! Akan tetapi aku ingin, berharap, suatu saat nanti bila aku keliru melangkah, ada seseorang yang perduli mengawasiku, memanggilku, menarik tanganku, dan mengajakku untuk kembali kepada jalan yang lurus, karena dia mencintai untukku kebaikan, sebagaimana dia mencintai kebaikan untuk dirinya. Karena aku, dan dia, sama-sama menginginkan keiman sejati, sebagaimana sabda kekasih yang mulia Rasulullah shallallahu alaihi wasallam:
"Tidak beriman salah seorang di antaramu sehingga ia mencintai saudaranya seperti ia mencintai dirinya sendiri." (HR Bukhari dari Anas radhiallahu anhu)

Sungguh, aku ingin menjadi seseorang yang benar-benar memiliki keimanan di dalam hati. Dan aku yakin kau pun begitu. Aku mencintai kebaikan untuk diriku, dan menginginkan kebaikan yang sama pada dirimu pula. Aku menginginkan keselamatan dari murka Allah untuk diriku, dan mencintai untukmu keselamtan yang sama. Aku mencintai surga, sebagaimana aku juga menginginkan surga bagimu. Semoga dengan begitu kita bisa bersama-sama saling mengingatkan, tolong-menolong dalam kebaikan dan ketakwaan, merentas jalan untuk meraihnya. Karena untuk berjalan seorang diri itu teramat sulit, bahkan bisa jadi mustahil. Sedangkan musuh kita, syaithan dari golongan jin dan manusia, bersatu padu, memanggil-manggil dengan pesona kelembutan dan daya tariknya, setiap saaat berusaha mengalihkan jalan kita pada kebinasasaan. Sungguh, kau… dan aku. membutuhkan orang lain untuk selalu saling nasihat-menasihati dalam kebaikan dan taqwa dalam meniti jalan ini.

Karenanya jika ada di antara ucapan atau cara bersikapku yang tidak berkenan bagimu, tolong maafkan, dan yakinlah, sesungguhnya aku melakukannya atas nama cinta, kecintaan kepada saudaraku seiman, dalam islam dan sunnah, agar selalu bersama-sama dalam kebaikan. Karenanya sungguh aku ingin mengatakan ini:
إنيى أحبك في الله
"Sesungguhnya aku mencintaimu karena Allah”.

Dan membalas orang-orang yang mencitaiku karena Allah dengan doa:
أَحَبَّكَ الَّذِيْ أَحْبَبْتَنِي لَهُ
“Semoga Allah mencintai kamu yang cinta kepadaku karenaNya.”
HR Abu Dawud, 4/133, dihasankan oleh Syaikh Al-Albani).


Read more...

Wednesday, October 21, 2009

Maaf, Aku Berutang Padamu...

Utang. Seberapa sering anda mendengar kata itu? Atau mungkin lebih tepat, seberapa sering kita melaukannya dalam setahun, sebulan, bahkan sehari? Mudah-mudahan kita bukanlah termasuk orang yang terlalu mudah untuk berutang.

Di zaman sekarang ini, nyaris tidak seorang pun lolos dari transaksi yang terkait denga utang-piutang, bahkan para milyader sekalipun. Bukankah mereka juga meminjam uang kepada bank atau investor untuk menjalankan usahanya? Untang-piutang seolah sudah mendarah daging dan tidak bisa dipisahkan dari kegiatan ekonomi, bahkan skala ekonomi yang paling kecil sekalipun, rumah tangga, dan individu.

Di dunia yang serba modern, serba mudah, segala sesuatu bisa hadir di depan mata dengan pembayaran tertunda alias utang. Saking mudahnya, bahkan sebagian orang, meskipun memiliki uang yang cukup, lebih senang untuk berutang, atau bahasa halusnya ‘kredit’ (padahal hakihatnya sih sama saja utang juga). Bukannya utang-piutang tidak diperbolehkan, selama tidak mengandung unsur riba sah-sah saja. Sayangnya, kemudahan berutang seringkali tidak disertai dengan kemudahan untuk membayarnya, bahkan meskipun jumlah yang diutangnya itu sangat kecil. Membayar utang yang hukumnya wajib kemudian dipandang remeh, diabaikan bahkan dihindari, atau... berpura-pura lupa dan bertingkah seolah-olah utang-piutang tidak pernah terjadi. Yang lebih mengherankan lagi, orang yang memberikan piutang justru yang akhirnya mereasa malu karena terus-menerus menagih, seolah dialah yang punya utang. Padahal dia hanya meminta haknya!

Seperti itulah wajah kita, atau sebagian (mudah-mudahan bukan sebagian besar) dari kita. Ketika butuh kita bisa menggunakan bahasa yang paling indah, paling santun, sedikit menghiba dan terkadang mendesak, membuat orang yang hendak dimintai kebaikannya kadang merasa terpojok. Tapi ketika tiba pada kewajiban untuk mengembalikan apa yang kita pinjam, kita menjadi enggan, berat, menghindar, dan merasa sayang mengeluarkannya, padahal sejak awal ia bukan milik kita!

Allah telah memperingatkan tentang utang-piutang dalam firman-Nya:

وَإِن كُنتُمْ عَلَى سَفَرٍ وَلَمْ تَجِدُواْ كَاتِباً فَرِهَانٌ مَّقْبُوضَةٌ فَإِنْ أَمِنَ بَعْضُكُم بَعْضاً فَلْيُؤَدِّ الَّذِي اؤْتُمِنَ أَمَانَتَهُ وَلْيَتَّقِ اللّهَ رَبَّهُ

“Jika kamu dalam perjalanan (dan bermu'amalah tidak secara tunai) sedang kamu tidak memperoleh seorang penulis, maka hendaklah ada barang tanggungan yang dipegang (oleh yang berpiutang). Akan tetapi jika sebagian kamu mempercayai sebagian yang lain, maka hendaklah yang dipercayai itu menunaikan amanatnya (hutangnya) dan hendaklah ia bertakwa kepada Allah Tuhannya..” (QS Al-Baqarah : 283)


Diriwayatkan dalam Shahih Muslim dari Aisyah radhiallahu anha bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dalam shalatnya berdoa: "Ya Allah, sesungguhnya aku mohon perlindungan kepada-Mu dari siksa kubur. Aku mohon perlindungan kepada-Mu dari fitnah Masih Dajjal. Aku mohon perlindungan kepada-Mu dari fitnah kehidupan dan kematian. Ya Allah, aku mohon perlindungan kepada-Mu dari dosa dan utang". Seseorang berkata kepada beliau: Betapa seringnya baginda memohon perlindungan dari beban utang ya Rasulullah. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. menjawab:
“Sesungguhnya, seseorang bila utang, maka ia akan berbicara lalu bohong. Berjanji lalu ingkar”. (HR Muslim)

Sungguh benar Rasulullah, karena seperti itulah yang banyak terjadi.

Dalam menjawab pertanyaan soal penundaan pembayaran hutang, Al-Lajnah Ad-Daa-imah Lil Buhuuts Al-Ilmiyah Wal Ifta berfatwa:

“Tidak diperbolehkan bagi orang yang mampu untuk menunda-nunda hutang. Yaitu penundaan yang dilakukan oleh orang yang mampu membayar apa yang wajib di tunaikan. Yang demikian itu sesuai dengan apa yang ditegaskan dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

“Artinya : Penundaan pembayaran hutang oleh orang-orang yang mampu adalah suatu kezhaliman. Dan jika salah seorang diantara kalian diikutkan kepada orang yang mampu, maka hendaklah dia mengikutinya” [Kesahihannya telah disepakati – lihat pertanyaan no. 12 fatwa no. 8859, dalam Fatwa-fatwa Jual Beli (id) Pustaka Imam Syafi’i).


Sadarkah kita bahwa konsekuensi utang itu sangat besar? Sadarkah kita bahwa dengan menahan hak orang lain berarti kita telah mendzalimi dirinya? Sudahkan kita merenungkan hadits ini, hadits orang-orang bangkrut?

“Sesungguhnya orang bangkrut dari umatku adalah orang yang datang pada hari kiamat kelak dengan membawa pahala shalat, puasa dan zakat, tetapi dia juga telah mencela ini dan menuduh ini dan itu, serta memakan harta ini dan itu, menumpahkan darah ini dan itu. Kemudian diberikan yang ini dari kebaikannya dan yang ini dari kebaikannya. Jika kebaikannya telah habis sebelum menutupi kewajiban-kewajibannya, maka akan diambil dari dosa-dosa mereka (orang-orang yang dizaliminya) dan dilemparkan kepadanya, kemudian ia dilemparkan ke dalam neraka.” (HR Muslim)


Bukankah menunda pembayaran utang dengan sengaja padahal mampu melakukannya itu adalah sama dengan memakan harta orang lain? Semoga Allah melindungi kita, sehingga kita tidak mati dalam keadaan berutang dan termasuk di antara orang-orang yang bangkrut.

Dan semoga Allah senantiasa mengingatkan kita untuk tidak lalai terhadap hak orang lain yang berada di tangan kita, dan membalas kebaikan orang kepada kita dengan mendoakannya:

بَارَكَ اللهُ لَكَ فِيْ أَهْلِكَ وَمَالِكَ، إِنَّمَا جَزَاءُ السَّلَفِ الْحَمْدُ وَاْلأَدَاءِ.

“Semoga Allah memberikan berkah kepadamu dalam keluarga dan hartamu. Sesungguhnya balasan meminjami adalah pujian dan pembayaran.” [HR. An-Nasai dalam ‘Amalul Yaum wal Lailah, hal. 300, Ibnu Majah 2/809, dan lihat Shahih Ibnu Majah 2/55.]


Bagi anda yang hendak berbuat kebaikan namun hak-haknya kemudian tertahan – terlepas dari apapun alasannya, cukuplah perkataan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berikut ini sebagai kabar gembira dan menjadikan sebab kesabaran dengan mengharap ridha Allah:

مَنْ اَنْظَرَ مُعْسِرًا فَلَهُ بِكُلِّ يَوْمٍ صَدَقَةٌ قَبْلَ اَنْ يَحِلَّ الدَّيْنُ فَاِذَا حَلَّ الدَّيْنُ فَاَنْظَرَهُ فَلَهُ بِكُلِّ يَوْمٍ مِثْلَيْهِ صَدَقَةٌ .

“Orang yang menangguhkan pembayaran hutang orang yang belum mampu membayarnya, maka sebelum masa pembayaran itu tiba, setiap hari merupakan sedekah baginya. Dan jika masa pembayaran telah tiba, lalu ia memberi tangguh, maka setiap harinya merupakan sedekahnya dua kali lipat.” (HR Ahmad [5/360], dishahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam Ash-Shahihah [1/86]).


اَللَّهُمَّ اكْفِنِيْ بِحَلاَلِكَ عَنْ حَرَامِكَ وَأَغْنِنِيْ بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ

“Ya Allah! Cukupilah aku dengan rezekiMu yang halal (hingga aku terhindar) dari yang haram. Perkayalah aku dengan karuniaMu (hingga aku tidak minta) kepada selainMu.” [HR At-Tirmidzi (5/560)]

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْهَمِّ وَالْحُزْنِ، وَالْعَجْزِ وَالْكَسَلِ، وَالْبُخْلِ وَالْجُبْنِ، وَضَلَعِ الدَّيْنِ وَغَلَبَةِ الرِّجَالِ

“Ya Allah! Sesungguhnya aku berlindung kepadaMu dari (hal yang) menyedihkan dan menyusahkan, lemah dan malas, bakhil dan penakut, lilitan hutang dan penindasan orang.” [HR Bukhari (7/158)]


Read more...

Tuesday, October 20, 2009

Meneladani Para Sahabat


Judul : Jadilah Seperti Mereka
Pemateri: Ustadz Abu Zubair al-Hawary, Lc.
Sumber: anonymous
Durasi: 1:30:33
File: (total) 15.54 MB @ 16 kbps

Para sahabat radhiallahu anhum adalah manusia-manusia pilihan, yang Allah pilih diantara manusia untuk menemani Rasul-Nya shallallahu alaihi wasallam. Mereka adalah sebaik-baik manusia yang patut dijadikan suri tauladan setelah Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam, sebagaimana sabda beliau:
“Sebaik-baik manusia adalah generasiku, kemudian setelahnya, kemudian setelahnya” (HR Bukhari Muslim)

Keutamaan para sahabat begitu besar, mereka memperoleh pahala yang terbesar karena telah menemani Rasulullah, berjihad bersama beliau, dan perbuatan mulia mereka dalam menyebarkan Islam. Mereka lah yang menyampaikan agama ini kepada generasi sesudahnya, hingga sampai kepada kita di zaman sekarang ini.
Kajian ini merupakan bagian pertama dari rangkain kajian ‘Jadilah Seperti Mereka”, yang merupakan penjabaran aqidah yang seharusnya dimiliki oleh seorang muslim terhadap para sahabat radhiallahu anhum. Sebagaimana yang dikatakan oleh Imam Ath-Thahawi:
“Kami mencintai para Sahabat Rasulullah. Akan tetapi kami tidak berlebih-lebihan dalam cinta kami kepada siapapun di antara mereka, tidak juga kami berlepas diri dari siapapun di antara mereka. Dan kami membenci siapa yang membenci mereka atau orang-orang yang berkata buruk tentang mereka. Dan kami tidak menyebutkan tentang mereka kecuali dengan kebaikan. Mencintai mereka adalah agama, iman dan ihsan, dan membenci mereka adalah kufur, nifaq, dan melampaui batas.”

Kajian ini berisi pelajaran berharga bagaimana seharusnya kita menunjukkan sikap kepada para sahabat, meneladani mereka, menjadikan mereka sebagai panutan, bagaimana semangat mereka dalam berlomba-lomba pada ketaatan dan melaksanakan perintah Allah dan Rasul-Nya.
Silahkan dengarkan kajian berikut ini, dan baca juga eBook yang membahas aqidah ahlus sunnah wal jama’ah tentang sahabat.

Jadilah Seperti Mereka 1
Jadilah Seperti Mereka 2


Read more...

Wednesday, October 14, 2009

Jilbab, Menutup Aurat atau Membalut Aurat...?


Jilbab bukan lagi menjadi kata yang asing didengar, terlebih belakangan ini, di mana wanita muslimah berbondong-bondong untuk mengenakan jilbab – dengan prasangka baik – bahwa mereka melakukannya sebagai wujud ketaatan akan perintah Allah dan Rasul-Nya. Ada perasaan nyaman bagi sebagian orang yang mengenakannya, karena pakaian yang dikenakannya akan meninggalkan kesan yang ‘lebih Islami’, terlepas dari cara dan mode pakaian yang dia kenakan.

Yang tidak banyak disadari, atau mungkin lebih sering diabaikan, bahwa jilbab bukan sekedar mengenakan pakaian lengan panjang, betis tertutup hingga tumit, dada dan leher terhalang dari padangan orang. Bahwa jilbab bukan sekedar membalut anggota-anggota tubuh yang tidak semertinya terlihat selain mahram. Tidak, Jilbab lebih dari itu!

Allah subhanahu wata’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لأزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلابِيبِهِنَّ

“Hai Nabi katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin: "Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka". (QS Al-Ahzab [33] : 59)

Jilbab sejatinya adalah ‘body covering’, penutup tubuh (aurat) yang akan melindungi seorang wanita, dari pandangan dan penilaian orang lain, khususnya laki-laki, dan bukannya ‘body shaping’, pembalut tubuh yang menampilkan seluruh lekuk liku tubuh seorang wanita, membuat orang menoleh kepadanya.

Jilbab, di tangan wanita muslimah masa kini, telah kehilangan esensinya. Seperti komentar seorang rekan kerja dulu, ketika melihat dua orang gadis remaja berboncengan dengan jilbab yang serba ketat, “Yah.. jilbab sekarang kan untuk membalut aurat, bukan untuk menutup aurat!”

Padahal Allah subhanahu wa ta’ala telah memperingatkan:

وَلا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلا مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوبِهِنَّ

“Dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak daripadanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya,” (QS An-Nuur [24] : 31)

Saat ini, di tangan wanita muslimah masa kini, jilbab itu sendiri adalah perhiasan. Sebagian orang yang mengenakannya justru mengundang orrang (baca: laki-laki) untuk melihatnya, Betapa tidak, pakaian terututup yang serba ketat justru menggoda orang ingin tahu apa yang ada di baliknya. Baju model baby doll berlengan pendek, dipadu dengan manset dan jeans atau bicycle pants super ketat, atau jenis pakaian ketat yang menampilkan lekuk tubuh lainnya. Jika sudah begitu lalu apa bedanya dengan pakaian yang lainnya? Tambahan sepotong kain yang dililitkan pada kepala dan leher tidak menjadikan sebuah pakaian dikatakan berjilbab, karena toh yang memakainya masih terlihat seperti telanjang. Padahal Rasulullah telah memberikan peringatan keras, kepada para wanita yang berpakaian tetapi telanjang:

“Ada dua golongan penduduk neraka yang sekarang saya belum melihat keduanya, yaitu: wanita-wanita yang berpakaian tetapi telanjang, yang berlenggak-lenggok dan memiringkan kepalanya seperti punuk unta, dimana mereka tidak akan masuk surga, bahkan mencium baunya pun tidak bisa” (HR Muslim dan Ahmad)


Hadits ini telah diabaikan, entah karena tidak tahu, atau mungkin tidak diperdulikan! Atau mungkin terlalu takut untuk mengetahui kebenaran yang akan menyebabkannya merasa terasing dari masyarakat, lalu membuatnya mentup mata, hati dan telinga. Atau bahkan yang lebih mengerikan lagi, dengan sengaja memberikan penafsiran berbeda mengenai perintah untuk menutup aurat itu, demi memenuhi hawa nafsunya!

Aduhai, entah kemana perginya rasa takut itu, seolah-olah kehidpan di dunia ini akan berlangsung selamanya dan ancaman manusia mulia, hamba dan utusan Allah untuk memberikan peringatan kepada manusia, tidak berarti apa-apa kecuali hanya sekedar gertak sambak! Na’udzubillah! Entah kemana perginya rasa malu yang seharusnya bermanifestasi pada prilaku dan cara berpakaian? Sebagian besar kita justru terlena pada penilaian kebanyakan orang. “Berjilbab bukan berarti ketinggalan zaman.” Atau, “Dengan jilbab pun bisa tampil modis dan trendi.” Entah mengapa, kita menjadi latah dengan penilaian orang kafir, mengenakan jilbab syar’I adalah symbol keterbelakangan, bahkan yang lebih menyedihkan lagi yang terjadi akhir-akhir ini, jilbab besar adalah cirri aliran sesat dan pengikut paham esktrimis!

Islam telah memuliakan wanita, menjaga kehormatan wanita dengan menetapkan batasan-batassannya, bukan untuk menjadikan wanita terkekang, sebaliknya bahkan untuk melindungi kaum wanita. Tubuh seorang wanita adalah milik pribadinya, bukan properti umum yang dapat dilirik, ditaksir dan diberikan penilaian. Wanita sejatinya adalah individu yang bebas, ketika dia mengikuti apa yang telah ditetapkan Allah dan Rasul-Nya bagi dirinya. Jangan mengira bahwa wania-wanita yang tampil trendi itu adalah orang-orang yang memiliki lebebasam memilih, karena toh mereka terkungkung oleh pandangan orang lain. Sederhana sekali, jika seseorang atau beberapa orang mengatakan kepada anda “kamu cantik dengan baju ini, atau dengan warna itu,” anda lalu mengikuti perkataannya. Padahal cantik adalah sebuah ukuran relatif yang senantiasa berfluktuasi sepanjang zaman. Layaknya mata uang, ia bisa mengalami devaluasi, Lalu di mana letak kebebasan itu, ketika seorang wanita membiarkan dirinya terbawa arus fluktuasi itu? Pilihan orang banyak adalah pilihannya? Pendapat orang banyak adalah pendapatnya?

Pada kenyataannya, jilbab adalah sesuatu yang masih asing di kalangan wanita muslimah, karena yang bertebaran saat ini hanyalah sekedar penutup kepala, pembalut tubuh, trend mode dan bukannya jilbab yang seharusnya berfungsi untuk menutup aurat dengan sempurna. Wallahu a'lam.

Semoga Allah memberikan kita taufik dan hidayah untuk menjalankan ketaatan kepada-Nya, dan istiqamah di atas ketaatan itu. Amin.


Read more...

Risalah Muslimah

English

A r s i p

Visitors' click

website statistics

since 18 Jan 2008

Pengunjung

 

Radio Mu'adz Kendari

Dalam rangka pengembangan dakwah yang dilaksanakan oleh Islamic Center Mu'adz bin Jabal (ICM) di Kota Kendari yang saat ini telah melaksanakan berbagai kegiatan dakwah dan mengelola Radio Mu'adz bin Jabal yang dipimpin oleh Ustadz Zezen Zainal Mursalin, Lc, dengan ini kami mengajak anda sekalian agar bersama-sama mendukung kegiatan dakwah Salaf di Kota Kendari dengan menyalurkan infaq anda untuk kegiatan dimaksud.

Untuk informasi lebih lanjut silahkan Download Proposal

Seri eBook Muslimah

Template by NdyTeeN