Antara Syirik dan Dosa Besar

Posted by Khayla

Mungkin sebagian orang terkadang merasa kaget dan terperanjat, bahkan bersedih hati jika melihat banyaknya para pezina dan peminum khamr, namun mereka tidak Tersentuh ketika melihat banyaknya orang yang mencari berkah di kuburan serta mengalamatkan berbagai macam ibadah ke objek-objek syirik tersebut. Padahal zina dan minum khamr (meski) melakukan perbuatan dosa besar, namun tidak menyebabkan pelakunya keluar dari Islam. Sementara mengalamatkan sebuah ibadah kepada selain Allah adalah sirik yang membuat pelakunya mati kafir jika dia mati dalam keadaan melakukan perbuatan syirik tersebut.....

Karena Fitrah Itu Teramat Mulia

Posted by Khayla

Bagi wanita, dimanapun dia, terlahir pada agama dan budaya apapun, di dalam lubuk hatinya pasti merindukan peran hakiki sebagai seorang isteri, ibu, yang melahirkan, menyusui dan membimbing serta menyaksikan anaknya tumbuh dewasa dengan kebaikan agama dan akhlak. Itulah fitrah, karena sesungguhnya setiap kita lahir di atas fitrah (Islam). Dan fitrah itu adalah karunia terbesar, yang telah menempatkan wanita dalam posisi yang begitu mulia, sebuah kedudukan yang tidak pernah diberikan oleh kebudayaan dan agama manapun di zaman awal peradaban Islam dan setelahnya. Fitrah yang hanya padanyalah letak kehormatan seorang wanita. ...

Gender Relation dalam Paradigma Islam

Posted by Khayla

Sebuah ketersinggungan yang tidak dapat dilupakan begitu saja ketika berada di ruang kelas bersama seorang dosen yang tengah mengusung topik GENDER. Dari beberapa contoh betapa kaum perempuan mendapatkan perlakuan yang tidak adil, hampir semuanya diambil dari negara miskin/terbelakang yang kebetulan beragama Islam. Mungkin jika penjelasan dapat diberikan secara proporsional, hal itu tidak terlalu menjadi masalah, namun akan menjadi masalah besar manakala membahas kondisi itu dan kemudian menarik kesimpulan bahwa agama Islam sangat tidak menghargai wanita. ...

Ilmu Itu Seperti Hujan

Posted by Khayla

“Sesungguhnya perumpamaan petunjuk dan ilmu yang dengannya Allah mengutusku adalah seperti air hujan yang jatuh ke tanah. Di antara tanah tersebut ada yang baik yang menerima air, maka tumbuhlah darinya rerumputan dan pepohonan. Dan tanah itu ada yang keras yang menghimpun air, sehingga dengannya Allah memberikan manfaat kepada manusia, yaitu untuk minum, memberi minum ternak, dan bercocok tanam. Dari tanah itu ada juga yang berupa rawa, tidak menahan air dan tidak pula menumbuhkan tanaman. Demikianlah perumpamaan orang-orang di hadapan agama yang diturunkan Allah SWT ...

Ya Ukhty, Kita Mulia dengan Islam

Posted by Khayla

Salah satu celah besar tempat masuknya musuh-musuh Islam dalam melaksanakan makarnya adalah wanita, merusak pemahaman wanita, yang pada gilirannya merusak tatanan kehidupan rumah tangga yang merupakan inti kehidupan masyarakat, madrasah dini bagi generasi berikutnya. ...

Sunday, July 12, 2009

Sesungguhnya Surga Tidak diperoleh dengan Berandai-andai

Pada saat persiapan menghadapi pasukan Romawi pada perang Yarmuk, Mu’adz bin Jabal radhiallahu anhu  berjalan mengingatkan manusia dan berkata:

Wahai Ahlu al-Qur’an, para penghafal Kitabullah, penolong kebenaran dan para wali-wali al-Haq, sesungguhnya rahmat dan surga Allah tidak akan diperoleh dengan berandai-andai, Dan Allah tidak akan memberikan ampunan dan rahmat-Nya kecuali lepada orang yang jujur dan membenarkan-Nya. Tidakkah kalian mendengar firman Allah:

(Artinya) “Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa....” (QS An-Nuur [25] : 55)

Sumber: Al-Bidayah masa Kulafaur Rasyidin (edisi Indonesia). Ibnu Katsir, hal, 153.

______________

Aduhai... jika kepada ahli al-Qur’an, para penghafal Kitabullah dan orang-orang shalih yang berjihad di jalan Allah saja diperingatkan bahwa Surga tidak diperoleh dengan berandai-andai, lalu bagaimana dengan kita yang derajat keimanan dan amal ibadah yang sangat jauh berada di bawah mereka, yang sehari-hari lebih banyak berkonsentrasi dengan urusan dunia dan meluangkan waktu untuk kehidupan akhirat sedikit saja di waktu senggang, mengabaikan begitu banyak kewajiban atau meundanya hingga datang masa tua, lalu merasa aman dari adzab Allah dan berandai-andai masuk surga?


Read more...

Friday, July 10, 2009

Segala Puji Bagi Allah atas Musibah Ini

Diriwayatkan bahwa Syuraih rahimahullah berkata: “Bila aku tertimpa suatu musibah, aku memuji Allah empat kali. Aku memuji-Nya karena musibah itu tidak lebih buruk dari yang telah terjadi, aku memuji-Nya ketika Dia memberikan aku kesabaran menghadapinya, aku memuji-Nya karena membuatku mampu mengucapkan kalimat istirja (innalillahi wa inna ilaihi rajiun) berharap akan pahala yang besar, dan aku memuji-Nya karena tidak menjadikannya sebuah musibah dalam agamaku.:

Adz-Dzahabi, Siyar A’lam an-Nubala, dalam biografi Syuraih al-Qadhi. Disalin dari SayingoftheSalaf.net)

Technorati Tags: ,,


Read more...

Thursday, July 09, 2009

Abu Ubaidah dan Permainan Pedang di Yarmuk

Hari keenam dari perang Yarmuk fajar benderang dan jernih. Itu adalah minggu ke empat Agustus 636 (minggu ketiga Rajab, 15 H). Kesunyian pagi hari tidak menunjukkan pertanda akan bencana yang akan terjadi berikutnya. Pasukan muslim saat itu merasa lebih segar, dan mengetahui niat komandan mereka untuk menyerang dan sesuatu di dalam rencananya, tak sabar untuk segera berperang. Harapan-harapan pada hari itu menenggelamkan semua kenangan buruk pada ’Hari Hilangnya Mata’[1]. Di hadapan mereka berbaris pasukan Romawi yang gelisah – tidak terlalu berharap namun tetap berkeinginan untuk melawan dalam diri mereka.

Seiring dengan naiknya matahari di langit yang masih samar di Jabalud Druz, Gregory, komandan pasukan yang dirantai, mengendarai kudanya maju ke depan di tengah-tengah pasukan Romawi. Dia datang dengan misi untuk membunuh komandan pasukan Muslimin dengan harapan hal itu akan memberikan efek menyurutkan semangat pimpinan kesatuan dan barisan kaum Muslimin. Ketika ia mendekati ke tengah-tengah pasukan Muslimin, dia berteriak menantang (untuk berduel) dan berkata, ”Tidak seorang pun kecuali Komandan bangsa Arab!”[2]

Abu Ubaidah seketika bersiap-siap untuk menghadapinya. Khalid dan yang lainnya mencoba untuk menahannya, karena Gregory memiliki reputasi sebagai lawan tanding sangat kuat, dan meang terlihat seperti itu. Semuanya merasa bahwa akan lebih baik apabila Khalid yang keluar menjawab tantangan itu, namum Abu Ubaidah tidak bergeming. Ia berkata kepada Khalid, ”Jika aku tidak kembali, engkau harus memimpin pasukan, sampai Khalifah memutuskan perkaranya.”[3]

Kedua komandan berhadap-hadapan di atas punggung kudanya masing-masing, mengeluarkan pedangnya dan mulai berduel. Keduanya adalah pemain pedang yang tangguh dan memberikan penonton pertunjukkan yang mendebarkan dari permainan pedang dengan tebasan, tangkisan dan tikaman. Pasukan Romawi dan Muslim menahan nafas. Kemudian setelah berperang beberapa menit, Gregory mundur dari lawannya, membalikkan kudanya dan mulai menderapkan kudanya. Teriakan kegembiraan terdengar dari pasukan Muslimin atas apa yang terlihat sebagai kekalahan sang prajurit Romawi, namun tidak ada reaksi serupa dari Abu Ubaidah. Dengan mata yang tetap tertuju pada prajurit Romawi yang mundur itu, ia menghela kudanya maju mengikutinya.

Gregory belum beranjak beberapa ratus langkah ketika Abu Ubaidah menyusulnya. Gregory, yang sengaja mengatur langkah kudanya agar Abu Ubaidah menyusulnya, berbalik dengan cepat dan mengangkat pedangnya untuk menyerang Abu Ubaidah. Kemundurannya dari medan pertempuran adalah tipuan untuk membuat lawannya lengah. Namun Abu Ubaidah bukanlah orang baru, dia lebih tahu mengenai permainan pedang dari yang pernah dipelajari Gregory. Orang Romawi itu mengangkat pedangnya, namun hanya sejauh itu yang dapat dilakukannya. Ia ditebas tepat pada batang lehernya oleh Abu Ubaidah, dan pedangnya jatuh dari tangannya ketika dia rubuh ke tanah. Untuk beberapa saat Abu Ubaidah duduk diam di atas kudanya, takjub pada tubuh besar jendral Romawi tersebut. Kemudian demgan meninggalkan perisai dan senjata yang berhiaskan permata orang Romawi itu, yang diabaikannya karena kebiasaannya tidak memandang berharga harta dunia, prajurit yang shalih itu kemudian kembali kepada pasukan Muslimin.


[1] Peristiwa ini terjadi pada hari keempat perang Yarmuk, dimana dari sumber ini dikabarkan 700 orang dari pasukan Muslim kehilangan matanya karena hujan panah dari tentara Romawi. Dan hari itu merupakan hari peperangan terburuk bagi pasukan Muslimin.

[2] Waqidi hal. 153.

[3] Ibid

Sumber: The Sword of Allah: Khalid bin Al-Waleed, His Life Campaigns. Lieutenant-General A.I. Akram, Pakistan, 1968. Penulis belajar Bahasa Arab untuk mempelajari sumber-sumber sejarah terdahulu dan mengunjungi setiap medan pertempuran Khalid bin al-Walid untuk membuat analisis dari sudut pandang strategi militer dan merekonsiliasi beberapa kejaian sejarah yang bertentangan.


Read more...

Monday, July 06, 2009

Kenikmatan yang Menipu

Oleh: Ibnu Al-Jauzy

Barangsiapa yang berpikir dalam-dalam dan seksama tentang akhir kehidupan dunia, ia akan senantiasa waspada. Barangsiapa yang yakin akan betapa panjangnya jalan yang akan ditempuh, maka ia akan menyiapkan bekal sebaik-baiknya. Alangkah anehnya manusia yang yakin akan sesuatu, namun ia melupakannya dan betapa anehnya mereka yang mengetahui bahaya sesuatu, namun ia juga menutup mata! Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَتَخْشَى النَّاسَ وَاللَّهُ أَحَقُّ أَن تَخْشَاهُ

” Kamu takut kepada manusia, sedang Allah-lah yang lebih berhak untuk kamu takuti.”

(QS Al-Ahzab [33] : 37)

Anda tahu bahwa anda dikalahkan oleh hawa nafsu anda, dan anda tahu bahwa anda tak sanggup menaklukkannya. Alangkah anehnya jika anda merasa gembira dengan ketertipua anda dan larut dalam kealpaan terhadap hal yang tersembunyi di dalam diri anda. Anda terperdaya oleh kesehatan anda, namun anda lupa betapa dekat pnyakit dengan diri anda.

Telah anda saksikan dengan mata kepala anda sendiri tempat pembaringan akhir anda dan telah ditampakkan kehadapan anda ranjang-ranjang kematian oleh orang-orang yang ada di sekitar anda. Sungguh anda telah tenggelam dan hanyut dalam kelezatan-kelezatan duniawi, hingga anda melupakan kehancuran diri anda sendiri.

Engkau laksana tiada mendengar kabar mereka yang telah lalu

Tidak pula engkau melihat waktu memperlakukan teman-temanmu

Jika engkau tak sadar bahwa itulah rumah-rumah mereka yang abadi

Kubur-kubur mereka lenyap diterpa angin yang menderu

Betapa banyaknya, anda melihat, para penghuni yang tak pernah memasuki rumahnya sendiri, sebelum mereka dipaksa memasukinya! Betapa banyak pemili singgasana yang terusir oleh musuh-musuh yang kemudian menguasai istananya.

Wahai siapa saja yang detik-detik kehidupannya terus melaju, betapa anehnya mereka, seperti manusia yang tak tahu dan tak mengerti apa-apa.

Bagaimana bisa matanya lelap terpejam

Padahal ia tak tahu kemana akan kembali

Sumber: Shaidul Khatir (edisi Indonesia) oleh Imam Ibnu Al-Jauzy

Technorati Tags: ,,,


Read more...

Friday, July 03, 2009

Jika Engkau Ingin Bermaksiat kepada Allah...

Jika engkau memenuhi lima syarat, perbuatan dosa tidak akan pernah membahayakanmu dan engkau dapat memenuhi hawa nafsumu sebanyak yang kau inginkan.

Dikisahkan bahwa seorang laki-laki pernah mendatangi Ibrahim bin Adam dan berkata, ”Wahai Abu Ishaq, aku terus-menerus mencelakai diriku, dan aku berpaling dari segala sesuatu yang mengajakku untuk memperbaiki hidupku.”

Ibrahim berkata: ”Jika engkau memenuhi lima syarat, perbuatan dosa tidak akan pernah membahayakanmu dan engkau dapat memenuhi hawa nafsumu sebanyak yang kau inginkan.”

”Beritahukan kepadaku syarat-syarat itu,” kata laki-laki itu.

”Yang pertama, jika engkau ingin bermaksiat kepada Allah, maka janganlah makan dari rizki (yang diberikan)-Nya.” kata Ibrahim.

”Lalu apa yang dapat kumakan, karena semua yang ada di di bumi adalah rizki dari-Nya?” kata laki-laki itu.

”Dengar,” Ibrahim berkata, ”Apakah masuk akal ketika engkau makan dari rizki-Nya sementara engkau bermaksiat kepada-Nya?”

”Tidak.” Kata laki-laki itu. ”Apa syarat yang kedua?”

”Jika engkau ingin bermaksiat kepada Allah, maka janganlah hidup di atas tanah-Nya.” Kata Ibrahim.

”Ini bahkan lebih buruk dari yang pertama. Semua yang membentang di Barat dan di Timur adalah milik-Nya. Lalu dimana aku akan tinggal?”

”Dengar, ” Ibrahim berkata, ”Jika engkau terus-menerus durhaka kepada-Nya dan makan dari rizki-Nya dan tinggal di tanah-Nya, setidaknya carilah tempat dimana Dia tidak dapat melihatmu, dan bermaksiatlah kepada-Nya disana.”

”Wahai Ibrahim!” laki-laki itu berseru, ”Bagaimana aku dapat melakukannya, sedangkan Dia Maha Mengetahui bahkan rahasia terdalam yang ada dalam dada manusia? Apa syarat keempat?” Dia bertanya dengan nada putus asa.

”Bila malaikat maut datang untuk mengambil nyawamu, maka katakan kepadanya: ”beri aku tangguh, agar aku dapat melakukan taubat nasuha dan melakukan amal kebaikan.”

”Bila waktunya tiba, malaikat tak akan mengabulkan permohonanku.” kata laki-laki itu.

”Dengar,” Ibrahim berkata, ”Jika engkau tidak dapat menunda kematian untuk bertaubat, lalu bagaimana engkau berharap akan selamat?”

”Katakan kepadaku syarat yang kelima,” kata laki-laki itu.

”Bila malaikat penjaga neraka datang untuk membawamu pergi pada hari Kiamat, jangan pergi bersamanya.”

”Mereka tidak akan melepaskanku, ” seru laki-laki itu.

”Lalu bagaimana engkau berharap akan selamat?” tanya Ibrahim.

”Hentikan, hentikan! Itu cukup bagiku, ” kata laki-laki itu. ”Aku memohon ampun kepada Allah dan aku sungguh bertaubat kepada-Nya.”

Sejak hari itu, laki-laki itu kemudian menghabiskan hidupnya untuk beribadah kepada Allah.

Sumber: Story of Repentance oleh: Muhammad Abduh Maghawiri


Read more...

Wednesday, July 01, 2009

Adzan Bilal dan Tangisan di Syam

Diriwayatkan bahwa Bilal radhiallahu anhu tidak pernah lagi mengumandangkan Adzan untuk siapapun setelah kematian Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Suatu ketika dia berada dan Syam dan begitu pula Umar radhiallahu anhu sedang mengunjungi Syam.

 

Ketika itu waktu shalat telah tiba, orang-orang berkata pada Umar (radhiallahu anhu), "Alangkah baiknya jika engkau perintahkan Bilal untuk mengumandangkan adzan." Umar memerintahkan Bilal untuk mengumandangkan suaranya, maka tidak satu pun dari para sahabat yang pernah bersama Rasulullah (shallallahu alaihi wasallam) yang mendengarkan adzan Bilal pada masa Rasulullah hidup kecuali menangis hingga basah jenggotnya, dan Umar yang paling hebat tangisannya. Orang-orang yang tidak pernah berjumpa dengan Rasulullah - shallallahu alaihi wasallam - pun turut menangis disebabkan tangisan mereka, dan terkenang kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.

 

Referensi: Al-Bidayah wan-Niahayah (edisi Indonesia) oleh Ibnu Katsir

 

Technorati Tags: ,,,


Read more...

e-Book Islam

Asatidzah

Risalah Muslimah

English

Radio Streaming

Statistik

Visitors' click

website statistics

since 18 Jan 2008

 

Komentar

Radio Mu'adz Kendari

Dalam rangka pengembangan dakwah yang dilaksanakan oleh Islamic Center Mu'adz bin Jabal (ICM) di Kota Kendari yang saat ini telah melaksanakan berbagai kegiatan dakwah dan mengelola Radio Mu'adz bin Jabal yang dipimpin oleh Ustadz Zezen Zainal Mursalin, Lc, dengan ini kami mengajak anda sekalian agar bersama-sama mendukung kegiatan dakwah Salaf di Kota Kendari dengan menyalurkan infaq anda untuk kegiatan dimaksud.

Untuk informasi lebih lanjut silahkan Download Proposal

Seri eBook Muslimah

Template by NdyTeeN